batampos.co.id – Calon jemaah haji (CJH) yang berangkat tahun depan siap-siap merogoh kocek lebih dalam. Sebab, usulan awal dari pemerintah, biaya penye-lenggaraan ibadah haji (BPIH) 2019 lebih mahal dibandingkan tahun ini.
Usulan BPIH 2019 itu disampaikan Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin kepada Komisi VIII DPR, Senin (26/11). Rapat yang dipimpin Ketua Komisi VIII DPR Ali Taher Parasong itu berakhir sekitar pukul 18.00 WIB. Tidak banyak pertanyaan dari anggota DPR. Rapat ditutup dengan kesepakatan pembentukan panitia kerja (panja) BPIH 2019.
Panja bakal bekerja secara maraton mulai hari ini (27/11).
Ditemui setelah rapat, Lukman berharap pembahasan BPIH 2019 bisa berlangsung cepat.
’’Mudah-mudahan estimasi kami akhir Januari 2019 bisa ditetapkan,’’ kata politikus PPP itu.
Selama Desember, pembahasan BPIH 2019 diupayakan berlangsung secara intensif.
Besaran BPIH tahun depan lebih mahal ketimbang tahun ini. Dari nilai dolar AS, rata-rata BPIH 2018 adalah 2.638 dolar AS/jemaah. Sedangkan tahun depan 2.675 dolar AS/jemaah.
Sementara itu, dari nilai Rupiah, besaran BPIH 2018 rata-rata Rp 35,2 juta/jemaah dan tahun depan Rp 37,7 juta/jemaah (kurs Rp 14.473). Meski begitu, dalam rapat kemarin Lukman menggunakan acuan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS sebesar Rp 14.586. Karena itu, usulan besaran BPIH 2019 yang mencapai 2.675 dolar AS/jemaah itu setara dengan Rp 39 juta.
Kondisi riil BPIH dalam Rupiah tentu akan fluktuatif. Sebab, acuan kurs yang dipakai adalah saat jemaah menyetor uang pelunasan. Jadi, CJH sebaiknya berdoa supaya tahun depan kurs Rupiah menguat terhadap dolar AS.
”Tetapi sekali lagi ini baru usulan pemerintah,’’ kata Lukman.Dia menjelaskan, tahun depan pemerintah mengu-sulkan supaya pembayaran BPIH tidak lagi ditetapkan dalam mata uang rupiah. Melain-kan dolar AS. Sebab, hanya 5 persen pembiayaan haji yang menggunakan rupiah. Selebihnya menggunakan mata uang dolar AS dan riyal.
Lukman menceritakan penga-laman tahun ini, dimana BPIH ditetapkan dalam kurs Rupiah. Ternyata ada beban biaya menutup selisih BPIH yang dibayarkan jemaah dengan dolar AS. Dana talangan untuk membayar selisih itu diambil dari dana darurat atau safe guarding. Jumlahnya mencapai Rp 550 miliar. Lukman berharap dengan menggunakan patokan dolar AS, kejadian menomboki selisih dolar AS tersebut tidak terjadi lagi.
20Dia menjelaskan penyebab kenaikan BPIH tahun depan antara lain, biaya sewa pesawat maupun avtur yang diasumsikan sebesar 43 dolar AS/jemaah. Kemudian, ada kenaikan transportasi antarkota di Arab Saudi (naqabah) dari semula 555 riyal/jemaah menjadi 896 riyal/jemaah.
’’(Kenaikan transportasi, red) Karena mereka (naqabah, red) ingin meremajakan bus yang digunakan,’’ tuturnya.
Selain itu, ada kenaikan biaya tenda di Arafah. Menurut Lukman, biaya tenda di Arafah mengalami kenaikan 50 riyal dibandingkan tahun ini. Dengan begitu, total biaya tenda menjadi 250 riyal/jemaah. Kenaikan biaya tenda ini merupakan konsekuensi dari adanya peningkatan fasilitas. Lukman mengatakan, dengan kenaikan ini, seluruh tenda di Arafah bakal dilengkapi AC atau pendingin udara.
Fasilitas AC itu dilakukan untuk mengantisipasi cuaca panas di Arafah. Sehingga diha-rapkan bisa menambah kenyamanan jemaah. Khususnya jemaah lansia atau berisiko tinggi. Sementara itu, layanan katering tidak ada perubahan. Selama di Makkah, jemaah bakal mendapatkan layanan katering sebanyak 40 kali.
Terkait dengan kuota haji, Lukman mengatakan tidak ada perubahan. Dia mejelaskan, total kuota jemaah haji Indonesia tahun depan tetap 221 ribu. Kuota itu terbagi menjadi dua. Untuk jemaah reguler sebanyak 204 ribu jemaah dan haji khusus 17 ribu jamaah.
Terkait dengan skema pengisian kuota, Kemenag juga tidak melakukan perubahan.
Skemanya tetap seperti tahun ini. Begitu pula dengan pelunasan BPIH 2019 juga tetap dibuka dalam dua tahap. (JPG)
