Sabtu, 11 April 2026

Pasar Murah yang Tak Murah

Berita Terkait

batampos.co.id – Masyarakat mengeluhkan harga sejumlah kebutuhan yang dijual di pasar murah yang diadakan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Batam, di depan Kantor Camat Bengkong, Senin pagi (26/11). Pasalnya, harga di pasar murah hanya berbeda tipis, bahkan lebih mahal daripada di pasar-pasar tradisional.

Tidak sedikit warga terpaksa balik pulang, tidak jadi berbelanja. Sebab, selain harus berdesakan, harga yang ditetapkan juga mengecewakan karena lebih mahal. Sumi, 46, warga Bengkong ini misalnya. Ia berencana membeli cabai merah di pasar murah, tapi harganya mencapai Rp 30 ribu per kilogram (kg), sedangkan di Pasar Tos 300 Jodoh hanya Rp 28 ribu per kg.

”Namanya aja pasar murah tapi harganya lebih mahal daripada di pasar pagi (Pasar Tos 300 Jodoh, red),” ujarnya.

Sumi menuturkan, tidak hanya cabai merah, kondisi bawang merah juga masih harus dibersihkan dari daun bawang kering yang masih menempel. ”Kita harus kopek-kopek dulu daun bawang yang kering sambil berdesakan dengan pembeli lainnya. Tapi karena sudah terlanjur ke sini, jadi saya beli saja,” ucapnya.

Sulastri, 39, warga lainnya juga mengeluhkan harga daging kerbau yang hanya berbeda tipis di pasar. Apalagi, daging kerbau yang sudah dipotong tersebut, juga harus dibeli utuh 1 kg, karena pedagang tidak melayani pembelian per setengah kilogram.

”Hanya beda Rp 2.000 saja (harga daging kerbau, red) dengan di pasar pagi. Di sini (pasar murah, red) kita tidak bisa beli setengah kilo. Kita juga mau beli kebutuhan lainnya,” keluhnya.

Harga Bawang Naik

Sejumlah kebutuhan sayur kembali meroket jelang akhir tahun. Seperti terpantau di Pasar Tiban Center, Sekupang, kemarin (26/11). Bawang merah dijual Rp 30 ribu per kg, naik dua kali lipat dari sebelumnya yang hanya Rp 15 ribu per kg.

Anto, pedagang sayuran menuturkan kenaikan harga bawang sudah terjadi selama dua pekan terakhir. Menurutnya bawang lokal melonjak karena banyak dicari pembeli.

”Biasanya ada pilihan lain, bawang Birma. Tapi sekarang tak ada masuk masuk bawangnya. Jadi tak ada pilihan, makanya harga naik,” jelasnya.

Menurut Anto, sebelumnya saat bawang Birma tersedia, harga bawang lokal dijual Rp 15 ribu, sedangkan bawang Birma Rp 12 ribu per kg. ”Ya, biasanya langganan rumah makan belinya bawang Birma karena lebih murah. Sekarang pasokan tak masuk lagi jadi semua beli bawang Jawa. Dan harga pun jadi naik,” sebutnya.

Harga kebutuhan lain juga terpantau naik. Telur yang sempat turun Rp 37 ribu kembali naik menjadi Rp 40 ribu untuk 30 butir atau satu papan. ”Telur Barelang naik. Yang Medan juga, sebentar aja turunnya,” ujarnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam Zarefriadi mengatakan masuknya bawang Birma tersebut bukan berada di bawah kewenangannya.

”Itu bawang dari India, dan kami tidak tahu masuknya dari mana. Kemarin juga ditemukan Pak Menteri (Mendag Enggartiasto Lukita, red) di pasar,” ujarnya.

Untuk barang impor, itu bisa ditanyakan kepada BP Batam, karena kewenangan impor berada di tangan mereka. Ia menambahkan saat ini tengah berlangsung pasar murah yang digelar TPID Batam.

”Harganya lebih murah, mungkin bisa jadi pilihan warga untuk mendapatkan kebutuhan sayur,” tutupnya.

Sementara itu, harga ayam potong segar di pasaran tradisional Batam berangsur turun, kemarin (26/11). Meski turun, ternyata daya beli masyarakat juga ikut turun. Sejumlah pedagang menduga masyarakat tidak tahu jika harga ayam potong mulai turun.

Seperti dikeluhkan Mansur, pedagang ayam potong di Pasar Tos 3000 Jodoh. Menu-rutnya, harga ayam potong sudah turun dari Rp 35 ribu menjadi Rp 32 ribu per kg.

”Harganya baru turun tadi (kemarin, red). Semalam (Minggu, 25/11, red) masih mahal. Tapi sekarang yang beli tidak banyak. Siang (kemarin, red) ini, persediaan ayam potong masih banyak. Mungkin karena sebelumnya harga ayam mahal,” ujar Mansur.

Dikatakannya, agar tidak terlalu merugi ayam pun dijual seharga modal. Sebab, ayam yang sudah dipotong tidak bisa dijual lagi esok harinya.

”Namanya ayam potong segar, ya harus segar. Kecuali dijadikan ayam es dan harganya tambah turun. Sekarang jual modal saja Rp 30 ribu per kilo, jadi paling tidak balik modal,” aku Mansur lagi.

Hal senada dikatakan Agung, penjual ayam potong segar lainnya. 150 ekor ayam potong yang disediakan tak habis. ”Pembeli sepi, padahal harga sudah turun. Sisa ayam kami masih banyak, mungkin sekitar 50 kilo lagi,” jelasnya.

Menurut Agung, agar tak terlalu merugi ia mengobral daging ayam potong tersebut. Harganya pun jauh lebih murah dibanding harga di pagi hari. ”Kalau tadi pagi (kemarin, red) kami jual Rp 33 ribu perkilo, sekarang jual modal Rp 30 ribu,” ujar Agung.

Rilis Harga Sembako Masih Stabil

Disperindag Kota Batam merilis daftar harga sembako di empat pasar di Kota Batam, yakni Pasar Mitra Raya, Penuin, Pasir Putih, dan Pasar Cahaya Garden. Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Batam Adisthy mengatakan harga sembako di empat pasar tersebut masih stabil.

”Harga sejumlah bahan pokok masih stabil. Sedangkan untuk persediaannya juga masih cukup,” katanya, kemarin.

Adisthy menjelaskan, rilis harga ini dilaksanakan 23 November, dimana harga beras medium berkisar Rp 11.000 hingga Rp 11.500 per kg. Sedangkan beras premium dijual Rp 13.000 sampai Rp 13.500 per kg. Sementara untuk cabai keriting dijual Rp 37.000 sampai Rp 50.000 per kg, cabai merah juga terbilang stabil, yakni di angka Rp 46.000 sampai Rp 58.000 per kg. ”Harga cabai merah tertinggi, yakni Rp 58.000 per kg ada di Pasar Cahaya Garden,” tuturnya.

Selain cabai, harga bawang juga masih stabil. Bawang merah dijual dengan harga Rp 32.000 sampai Rp 34.000 per kg. Bawang putih berkisar Rp 18.000 sampai Rp 22.000 per kg. Sedangkan wortel dijual dengan harga Rp 14.000 sampai Rp 16.000 per kg, sayur bayam berkisar Rp 16.000 sampai Rp 18.000 per kg, dan daging sapi es dijual harga Rp 85.000 sampai Rp 89.000 per kg.

”Survei harga sembako ini kita lakukan dua kali seminggu, yakni pada hari Selasa dan Jumat,” terang Adisthy.

Sementara itu, anggota Komisi II DPRD Batam Mukriyadi menilai, survei harga sembako penting dilakukan berkala untuk mengontrol harga sembako di pasaran. Selain itu, surve ini juga dibutuhkan dalam mengawasi persedian sembako yang ada di tiap pasar.

”Kenaikan harga juga berpengaruh dari persediaan di pasar. Kita sepakat disperindag rutin turun langsung ke pasar memantau harga dan persediaan sembako,” katanya.(rng/cr2/she/yui)

Update