Senin, 15 Agustus 2022

Berharap Pada Sektor Industri

Berita Terkait

Suyono Saputro

Pengamat Ekonomi Batam yang juga dosen Ilmu Ekonomi Universitas Internasional Batam Suyono Saputro menyebutkan, persoalan pengangguran di dalam negeri, termasuk di Batam, masih menjadi sebuah anomali. Pemerintah mengklaim pertumbuhan ekonomi meningkat diikuti investasi yang masuk, namun faktanya jumlah lapangan kerja tak bertambah signifikan.

“Jumlah pencaker lebih besar daripada lapangan kerja yang tersedia,” ujar Suyono, Rabu (29/11) lalu.

Meningkatnya angka pengangguran di Batam ini, menurut Suyono juga disebabkan beberapa faktor. Pertama, krisis industri di Batam sejak tiga tahun lalu menyisakan PHK besar-besaran di sejumlah perusahaan. Para korban PHK tersebut otomatis menjadi pencaker yang belum terakomodasi sampai sekarang. Kedua, para pencaker dari luar daerah masih menganggap Batam menjadi tanah harapan.

“Akibatnya terjadi ketidakseimbangan supply dan demand. Angkatan kerja menumpuk sementara lapangan kerja kurang,” tegasnya.

Menurut Suyono, sektor industri masih menjadi tulang punggung ekonomi di Batam saat ini. Sektor ini pula yang dianggap bisa menjadi jawaban atas persoalan pengangguran di Batam.

Sebab sektor industri umumnya membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah yang banya. “Sektor pariwisata tidak optimal. Pemerintah beserta pemangku kebijakan harus serius. Harus beraksi,” ungkapnya.

Tidak bisa dipungkiri, kata Suyono, faktor ekonomi global membuat Batam mengalami kemunduran perkembangan sebagai kota industri yang digadang terbesar di Indonesia. Apalagi, semakin tergerus akibat berkembangnya sejumlah kota industri yang memberikan kemudahan investasi di beberapa negara tetangga. Sebut saja Malaysia, Vietnam, Kamboja, dan Thailand.

“Batam harus berbenah. Pangkas sejumlah kebijakan yang memberatkan investor. Lihat investasi yang cocok di kota ini, jangan asal terima. Khusus angkatan kerja, masih banyak yang belum mumpuni. Beri pelatihan,” ujar mantan jurnalis ini.

Selain itu, Pemerintah Provinsi Kepri juga harus serius untuk andil dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Misalnya dengan memaksimalkan peran Bintan dan Karimun sebagai daerah kawasan perdagangan bebas atau FTZ. Sehingga ekonomi tidak hanya bergantung pada Batam saja.

“Seriuslah bangun tiga kawasan FTZ agar jangan hanya menjadi status saja, tapi tak optimal,” tutupnya.

Sementara Kepala Disnaker Kota Batam Rudi Syakiakirti mengatakan, sejauh ini pemerintah telah menggelar kegiatan pelatihan kerja bagi para pengangguran atau angkatan kerja usia produktif. Sehingga mereka bisa terserap di dunia kerja.

“Ini salah satu upaya kami dalam mengurangi angka pengangguran, khususnya mereka yang asli Batam,” kata Rudi.

Ke depan persaingan tentu akan semakin bertambah. Dia berharap pencaker benar-benar mempersiapkan diri mereka ketika akan datang ke Batam. Yakni dengan membekali diri dengan keterampilan.

Sepanjang tahun ini, Pemko Batam telah menggelar pelatihan kerja terhadap 2.320 peserta.

Diseleksi Januari lalu dan diberi sertifikat pada Oktober lalu. Program ini disebut Pelatihan Peningkatan Kemampuan Tenaga Kerja dan Pendidikan Pelatihan Keterampilan Bagi Pencari Kerja 2018.

Wakil Walikota Batam, Amsakar Achmad.
foto: batampos.co.id / dalil harahap

Sementara Wakil Wali Kota Batam Amsakar Achmad mengatakan, selain sektor industri pemerintah juga gencar memaksimalkan potensi pariwisata di Kota Batam. Juga mendorong masyarakat untuk memulai usaha sendiri.

“Lapangan kerja tidak harus didefinisikan sebagai lapangan kerja formal semata, karena untuk sementara waktu sembari mereka menunggu Tanjunguncang atau Mukakuning membaik, mereka bisa ambil sektor informal,” imbuh dia.

Untuk menggenjot pertumbuhan sektor pelaksanaan bimbingan teknis pada 100 Industri Kecil Menengah (IKM) yang digelar bersama Kementerian Perindustrian pada 10 November lalu kepada 20 pelaku IKM.

Empat bidang dilaksanakan untuk IKM Kota Batam. Sedangkan untuk Tanjungpinang, bimtek IKM produksi makanan ringan. (cha/iza/yui)

- Advertisement -

Update