Reuni alumni 212 berakhir sudah. Masih ada pro dan kontra terkait pertemuan 2 Desember itu.

Ah, biarlah. Pro dan kontra itu biasa. Negeri ini memang penuh pro dan kontra. Di kehidupan sehari-hari kita pun ada pro dan kontra. Baik pekerjaan, lingkungan, dan aspek kehidupan sosial lainnya. Bahkan, dalam diri kita pun kerap terjadi pro dan kontra.
Yang perlu digarisbawahi, apakah pro-kontra itu berdampak buruk. Atau bahkan cenderung mengarah kepada bahaya. Saya sih melihatnya tidak. Selama kita positive thinking saja.

Makanya, saya menganggap reuni alumni 212 itu sah-sah saja. Benar kata Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Monumen Nasional atau yang karib disapa Monas adalah milik masyarakat Indonesia. Semua berhak memakainya.

Yang tidak boleh, kalau kita merusaknya. Tidak hanya pemerintah. Rakyat Indonesia juga akan menolak jika Monas dipakai untuk dirusak.

Inilah uniknya. Reuni 212 itu memang digelar untuk ajang silaturahmi. Jutaan orang hadir. Mereka berasal dari berbagai ormas Islam. Saya kaget ketika salah seorang capres hadir. Yang lebih kaget lagi, capres tersebut tidak berkampanye.

Padahal, bisa jadi itu momentum yang tepat. Apalagi, yang datang tidak hanya berasal dari Jakarta saja. Melainkan dari berbagai provinsi di seluruh Indonesia.

Ini menjadi bukti bahwa calon pemimpin kita luar biasa hebatnya. Mereka paham, agenda mana saja yang tidak boleh disusupi politik. Mereka sudah dewasa. Menunjukkan siap menang dan siap kalah.

Saya banyak menonton video tentang reuni itu via media sosial (medsos). Saya juga membaca habis Harian Pagi Batam Pos yang memberitakan agenda itu. Bahkan, saya komunikasi dengan teman-teman di Jakarta. Hasilnya, tidak satupun saya temui agenda politik.

Ini murni acara silaturahmi. Seolah mempertemukan jutaan umat muslim yang katanya terkotak-kotak. Entahlah.

Tidak ada salahnya jika agenda ini digelar rutin setiap tahunnya. Mungkin penamaannya bisa global. Misalnya “Silaturahmi Akbar”. Atau apalah. Tapi kalau memang nama agenda tersebut sudah pakem dan disepakati, silakan dilanjut. Ini hanya saran. Hehehehehe.

Apa yang dilakukan massa Reuni Alumni 212 patut kita apresiasi. Bayangkan, dihadiri jutaan orang tapi tertib. Gubernur DKI pun pangling. Peserta banyak, tapi sampah sangat sedikit.

Hanya empat jam sudah beres. Rumput di sekitar Monas tidak rusak.

Bayangkan kalau setiap acara seperti itu. Tentu anggaran negara bisa digunakan untuk program lain. Demi kemaslahatan rakyat. Tidak habis untuk memperbaiki dan memperbaiki.
Semangat reuni itu harus menjadi contoh. Bahwa, berkumpulnya orang banyak justru memberikan kenyamanan dan kedamaian. Tidak rusuh atau anarkis. Tidak pula mengampanyekan ujaran kebencian.

Semua berbaur untuk tujuan yang sama: silaturahmi. Kata orang tua dulu, silaturahmi membuka pintu rezeki. Saling bertegur sapa dan bertukar senyum membawa berkah. Saling berjabat tangan mendatangkan pahala. Super sekali.

Tentu saja kita semua berharap, agar lahir Reuni Alumni 212 yang lain. Bukan soal agendanya. Melainkan semangat silaturahminya.***

Advertisement
loading...