batampos.co.id – Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Kepri optimistis menatap ekonomi tahun 2019. BI memproyeksikan, ekonomi Kepri pada 2019 akan tumbuh pada kisaran 4,2 hingga 4,6 persen (yoy) atau lebih baik dari tahun ini yang hanya tumbuh 4,1 persen.
Penguatan tersebut akan ditopang potensi membaiknya sejumlah sektor. Antara lain naiknya permintaan ekspor, terutama ekspor produk elektronik, peningkatan investasi bangunan pemerintah dan swasta serta, konsumsi pemerintah menjelang pelaksanaan pemilihan umum.
“Investasi masih akan menjadi penopang utama di 2019, baik dari pemerintah maupun swasta untuk pembangunan infrastruktur serta apartemen dan resort,” kata Kepala BI Perwakilan Kepri Gusti Raizal Eka Putra saat acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2018 di Hotel Radisson Batam, Selasa (4/12/2018).
Perkiraan penguatan investasi ini terkonfirmasi melalui survei liaison. Secara umum, pelaku usaha cukup optimis bahwa tingkat investasi 2019 akan lebih baik dibanding tahun 2018, walaupun akan sedikit menghadapi tantangan karena pelak-sanaan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.
Investasi pembangunan infrastruktur ini bersumber dari sejumlah usulan proyek strategis tahun 2019 seperti pembangunan Jembatan Batam-Bintan, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjungsauh, KEK Galang-Batang di Bintan, pengembangan Pelabuhan Batuampar, pengembangan dan modernisasi sarana Bandara Hang Nadim, dan KEK Pulau Asam di Karimun.
Di samping itu, selain investasi di bidang infrastruktur, salah satu cara untuk mendorong Kepri meningkatkan pertumbuhan ekonominya adalah melalui akselerasi peningkatan ekspor di sektor industri dan UMKM serta jasa di sektor pariwisata.
Kinerja ekspor non migas Kepri selama periode 2012-2018 cenderung menurun dan mengalami defisit neraca perdagangan dua kali yaitu tahun 2012 dan tahun ini.
“Tahun ini yang mengalami defisit neraca perdagangan di semua produk utama ekspor yaitu perkapalan, besi baja, mesin dan elektronik. Satu-satunya yang surplus yakni komoditas CPO dan olahannya, meski menurun pada tahun ini,” jelasnya.
Peningkatan ekspor selain mengutamakan dari sisi nilai produk juga perlu memperhatikan produk yang memberikan nilai tambah tertinggi sehingga berdampak signifikan pada neraca perdagangan. “Sedangkan dari sisi negara tujuan ekspor, sebagian besar produk ekspor Kepri secara dominan diserap oleh pasar Singapura sebesar 40,95 persen, kemudian disusul Amerika sebesar 9,21 persen, dan Tiongkok sebesar 8,26 persen,” jelasnya.

Menurut Gusti, saat ini merupakan momen terbaik untuk meningkatkan ekspor ke Amerika dan Tiongkok. Karena berdasarkan data, untuk pangsa negara tujuan ekspor, baik itu ke Tiongkok maupun Amerika mengalami peningkatan. Sedangkan ke Singapura mengalami penurunan.
Ekspor Kepri sangat bertopang kepada kinerja dari sektor industri pengolahan. Meskipun belum optimal, tapi kinerjanya menunjukkan perbaikan di tahun ini.
“Penopangnya adalah perbaikan kinerja industri elektronik dan industri produk dari besi dan baja yang masing-masing tumbuh 8,39 persen (yoy) dan 51,59 persen (yoy) lebih tinggi dari tahun lalu,” ungkapnya.
Kinerja industri elektronik juga terbantu dengan meningkatnya ekspor elektronik ke Singapura. Nilai dari ekspor tersebut sejalan dengan index of industrial production Singapura sepanjang tahun 2018 yang mengalami peningkatan.
Begitu juga dengan peningkatan ekspor produk besi dan baja yang berasal dari kenaikan harga migas. Sedangkan pertumbuhan sektor konstruksi didukung oleh swasta maupun pemerintah antara lain dari maraknya pembangunan apartemen di Batam dan resort di Bintan. “Lalu proyek pemerintah antara lain pembangunan jalan, proyek peningkatan ketersediaan air bersih, peningkatan fasilitas perhubungan udara, fasilitas pengolahan limbah dan peningkatan fasilitas pelabuhan laut,” paparnya.
Dari sisi lain, investasi masuk pada tahun 2019 memang akan meningkat. Salah satu contohnya adalah pembangunan kawasan pariwisata di atas lahan seluas 400 hektar di Tanjungpiayu.
Ada dua perusahaan dari Tiongkok yang akan mengembangkannya yakni PT Damai Indopertama Sukses dan PT China Railway Engineering Indonesia.
Presiden Direktur PT Damai Indopertama Sukses Li Guang Jin belum lama ini mengatakan, pihaknya tengah menyiapkan seluruh perizinan untuk bisa segera merealisasikan rencana investasi tersebut. Letak Batam yang startegis dan potensi alamnya yang indah menjadi salah satu alasan mengapa mereka tertaik untuk berinvestasi di Batam.
“Kami memiliki banyak proyek di Indonesia. Karena itu, kami juga ingin membangun usaha di Batam,” kata Li Guang saat menandatangani kerja sama dengan PT China Railway Engineering Indonesia di Hotel Radisson Batam.
Sedangkan Badan Pengusahaan (BP) Batam menyatakan potensi nilai investasi yang bisa diserap dari alokasi lahan baru mencapai Rp 7 triliun. Investasi di sektor pariwisata menempati urutan pertama dengan potensi nilai investasi mencapai Rp 4,9 triliun.
“Ada 24 pengalokasian lahan dengan total lahan seluas 113,89 hektare di Batam. Total investasi mencapai Rp 7 triliun,” kata Deputi III BP Batam Dwianto Eko Winaryo.
Lahan tersebut terbagi atas lahan baru, lahan tidur yang digunakan kembali, dan terakhir lahan tidur yang dicabut izinnya dan dialokasikan kembali ke investor baru. (leo)
