KOTAK berisi papan mainan (board game) itu berjejer rapi di atas meja. Tak jauh dari pintu masuk utama.

Bentuk papan mainannya macam-macam. Ada KSATRIA untuk usia 15 tahun ke atas. Lalu, PDKT (pilihan diri, komitmen, dan tanggung jawab) yang khusus untuk usia lebih dari 10 tahun. Dan, board game bergambar animasi hewan lucu untuk anak 4–7 tahun: keranjang bolong.

Itulah wajah gedung lama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di kavling C1 Jalan H Rasuna Said, Jakarta Selatan. Tak lagi ”angker”.

Semua desain ruang berubah. Penuh warna dan terkesan ramah. Terutama bagi anak-anak. Tak ada lagi tersangka berompi oranye berseliweran. Setiap sudut kini berganti menjadi ruang belajar yang mengasyikkan.

”Kalau gedung (KPK) baru kesannya galak, kalau di sini (ACLC, red) sangat ramah,” ucap Indraza Marzuki, staf Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat (Dikyanmas) KPK. Rabu pekan lalu (28/11) dia menemani Jawa Pos (grup Batam Pos) berkeliling gedung Pusat Edukasi Antikorupsi atau Anti-Corruption Learning Centre (ACLC/Pusat Pendidikan Antikorupsi).

Lobi gedung lama KPK yang telah berubah fungsi menjadi ACLC itu tampak luas. Tak seperti dulu yang disekat untuk beberapa ruang. Misal-nya, ruang wartawan (press room) dan ruang tunggu (waiting room).

Kini lobi tempat masuk keluar tersangka KPK itu disulap menjadi zona anak. Dengan tembok dan kursi warna-warni: biru, kuning, abu-abu, dan oranye. Ada pula dua ruang film (movie room) di sisi sebelah kiri lobi.

”Sengaja pakai konsep colorful agar tidak terlihat garang,” kata Indraza.

Gedung lama KPK untuk ACLC itu diluncurkan lima komisioner pada Senin (26/11). Sampai saat ini, pusat pembelajaran antikorupsi itu belum dibuka sepenuhnya untuk publik.

Sebab, masih ada beberapa bagian ruangan yang belum selesai direnovasi. Proses integrasi kamera pengawas seluruh ruangan juga belum rampung.


SUASANA ruang monitoring edukasi antikorupsi di pusat Edukasi Antikorupsi di KPK, Jakarta, Senin (26/11/2018).
F. FEDRIK TARIGAN/JAWA POS

Namun, sejumlah aktivitas sudah mulai dilakukan. Misalnya, kelas internasional yang diikuti lima lembaga antikorupsi: Independent Joint Anti-Corruption Monitoring and Evaluation Committee (MEC) Afghanistan, Bureau Independent Anti-Corruption (BIANCO) Madagaskar, Anti-Corruption Commission (ACC) Bangladesh, Administrative Control Authority (ACA) Mesir, dan Anti-Corruption Commission of the Republic of the Union of Myanmar (ACCM).

Pusat Edukasi Antikorupsi sejatinya sudah dibentuk pada 2011 atas kerja sama dengan lembaga donor Jerman Deutsche Gesellschaft fuer Internationale Zusammenarbeit (GIZ).

Namun, baru tahun ini resmi menempati gedung KPK C1. Dan, menjadi unit sendiri di bawah naungan Deputi Pencegahan KPK.

Di ACLC ada empat unit kecil yang mengurusi semua hal teknis edukasi antikorupsi. Banyak fasilitas anyar penunjang pusat edukasi tersebut.

Selain zona anak di lantai 1, ada fasilitas belajar di lantai 2, 3 dan 4. Di lantai 2, ada 7 ruang sindikat (syndicate room) yang dilengkapi fasilitas canggih. Salah satunya TV layar pintar (smart screen TV) yang kini sedang tren digunakan para presenter stasiun TV berita.

Zona itu khusus untuk menggelar diskusi-diskusi kecil per kelompok. Setiap kelompok menempati satu ruang sindikat. Nantinya, pihak ACLC memberikan materi tentang antikorupsi.

Kemudian, kelompok-kelompok itu membahasnya dengan menggunakan fasilitas yang disediakan. Proses belajar tersebut akan dimonitor melalui kamera pengawas yang terpusat di control room.

Sementara itu, lantai 3 yang dulu merupakan kantor pimpinan kini berubah menjadi lembaga sertifikasi profesi (LSP). Sejak 2015, ACLC sudah bekerja sama dengan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk mencetak ahli dan penyuluh antikorupsi. Saat ini total 256 penyuluh antikorupsi (PAK) serta 47 ahli pembangun integritas (API) mengantongi sertifikasi dari pendidikan dan latihan (diklat) ACLC.

Kemudian, naik ke lantai 4, ACLC menyediakan ruang pendidikan dan pelatihan (diklat) berbagai ukuran. Yang paling besar bisa menampung 20 orang. Semuanya berbasis komputer.

Mirip ruang-ruang belajar di sekolah-sekolah tinggi mentereng. Di lantai 4 ada pula teater mini yang lazim digunakan untuk diskusi santai ala program bincang-bincang televisi.

Koordinator Unit ACLC KPK Dian Novianti menuturkan, di lingkup regional Asia Tenggara, grade ACLC sementara ini memang masih dibawah Malaysian Anti-Corruption Academy (MACA). Yang sudah lebih dulu memiliki fasilitas mumpuni.

Tapi, ke depan ACLC ingin menyaingi MACA. ”Paling nggak kami jadi rujukan (di Asia Tenggara, Red). Karena KPK ini di luar ngetop,” tuturnya.

Dian menerangkan, selama ini pembelajaran dan pelatihan antikorupsi ACLC memang masih terbilang umum. Bahkan, lebih sering menggelar audiensi ketimbang diskusi khusus.
Nah, dengan adanya berbagai fasilitas baru itu, ACLC berharap semua elemen masyarakat bisa berlatih dan belajar antikorupsi lebih dalam.

”Nanti kami mau bikin pekan film dan pekan bedah buku juga,” kata Dian.

Dian mengoordinasi empat satuan tugas (satgas) dibawah unit ACLC. Setiap unit punya tugas masing-masing. Satgas pengelolaan, misalnya, mengurus perencanaan sampai evaluasi ACLC. Kemudian, satgas pembelajaran internal menangani pelatihan semua pegawai KPK. Dulu satgas itu ada dibawah unit diklat biro SDM.

Selain itu, ada satu satgas yang cukup vital. Yakni, satgas pembelajaran eksternal. Satgas tersebut mengurusi segala hal yang berhubungan dengan semua elemen masyarakat.
Mulai siswa sekolah dasar hingga komunitas-komunitas antikorupsi dari berbagai negara.

”Di sini (ACLC) hanya tempat peningkatan kompetensi,” jelas mantan kepala Biro SDM KPK itu.

Satu satgas terakhir mengurus sertifikasi. Tugasnya, mengajari para calon penyuluh antikorupsi dan ahli pembangun integritas. Mereka semua akan dilatih dan dididik dengan modul yang dibuat KPK.

”Kami akan bangun modulnya supaya nanti sejalan dengan APIP (aparat pengawasan intern pemerintah, red),” imbuh perempuan berjilbab itu.

ACLC yang untuk sementara hanya dikelola 16 orang tersebut bakal menyasar semua elemen. Bukan hanya masya-rakat, melainkan juga aparat penegak hukum seperti polisi dan jaksa hingga penyidik PNS (PPNS). Selain belajar dengan konsep diskusi, di ACLC juga tersedia pembelajaran dengan kelas simulasi.

Dengan begitu, peserta tidak hanya belajar teori. Tapi, juga mempraktikkan upaya penindakan dan pencegahan korupsi secara langsung.

ACLC juga bakal mendatangkan penyidik-penyidik andal di KPK agar memberikan edukasi tentang penyidikan. Selain itu, ACLC membuka materi by request (atas permintaan) untuk masyarakat yang ingin belajar secara khusus tentang korupsi.

Bukan hanya penyidikan, melainkan juga bisa teknis pelaporan harta kekayaan (LHKPN) hingga gratifikasi. Bahkan, ACLC akan membuat konsep kelas liburan antikorupsi ketika libur sekolah tiba. Konsep itu terinspirasi kegiatan pesantren kilat di sekolah-sekolah saat bulan Ramadan.

”Daripada (anak sekolah, red) liburan di mal, kenapa nggak belajar (antikorupsi, Red) di sini. Kami akan buka kelas di sini (untuk liburan sekolah, Red),” tutur Dian.(*/c10/ttg)

Advertisement
loading...