Abdul Latif

Abdul Latif namanya. Pria asal Kelurahan Wani Dua, Kecamatan Tanan Tovea, Donggala Timur ini menjadi salah satu saksi hidup dahsyatnya gempa dan tsunami yang menghantam Sulawesi Tengah akhir September silam. Gelombang tsunami menggulung apapun yang ada di bibir pantai Donggala sampai Palu tak lama setelah gempa 7,4 SR mengguncang. Termasuk tubuh Abdul yang saat itu sedang berada di dalam rumah.

Relawan ACT berusia 27 tahun yang berprofesi sebagai pelaut ini tengah berada di dalam rumah pada petang nahas kala itu. Gempa besar meruntuhkan bangunan tempat Abdul tinggal. Tembok belakang telah roboh, menimpa apa pun yang ada di bawahnya.

Beruntung tubuh Abdul tak ikut tertimpa, hanya terjebak di dalam rumah. Gemuruh terdengar dari arah pantai, tanda air laut telah menyentuh daratan.

“Enggak lama air sudah masuk rumah, datangnya sangat cepat, tak lama setelah gempa berlangsung. Air bercampur pasir dan material lain terbawa air. Setengah sadar keadaan saya, tergulung ombak besar,” tutur Abdul.

Menjelang pukul 7 malam, air yang naik ke darat dengan perlahan tapi pasti kembali ke laut. Beriring dengan itu, tubuh Abdul mulai terlihat. Ia terdampar tak jauh dari bibir pantai. Tepatnya di dekat Pasar Senja, sekitar 50 meter dari Pelabuhan Wani, wilayah yang kini dikenal sebagai tempat bertenggernya Kapal Sabuk Nusantara yang naik ke daratan pelabuhan akibat tsunami.

Dengan keadaan payah dan pakaian yang tak karuan, Abdul mencoba mencari tempat yang lebih aman. Berjalan kaki dalam keadaan gelap ia lakukan menuju area perbukitan yang berada lebih kurang 4 kilometer jauhnya dari bibir pantai.

“Keadaan saat itu gelap, tak ada lampu sama sekali. Aliran listrik padam sampai beberapa hari setelah bencana,” tambah Abdul.

Di perbukitan yang gelap, Abdul bertemu dengan keluarganya. Mereka semua selamat. Namun, kabar duka datang dari calon istrinya yang meninggal dunia akibat tsunami.

“Saya sempat muntah darah, lalu dicek sama dokter di Rumah Sakit Undata. Kata dokter saya terlalu banyak meminum air laut yang bercampur pasir, tapi kondisi saya tak terlalu parah,” jelasnya.

Berkegiatan di tenda darudat.

Walau turut menjadi korban, bukan berarti Abdul berdiam diri dan tenggelam dalam trauma. Ia coba bangkit dengan menjadi relawan, ikut membantu korban gempa dan tsunami yang lain. Dengan memanfaatkan pengetahuan wilayah dan medan di sekitar Donggala, Abdul membantu relawan yang berasal dari luar Sulteng mengirimkan bantuan ke daerah pelosok.

“Saya paham wilayah Donggala, ada tempat yang jarang mendapatkan bantuan seperti di Sibado dan Sisere yang tak jauh dari Wani. Ada juga di sekitar Sindue Tobata seperti Desa Alindau Dusun III yang belum mendapatkan bantuan (pada pertengahan November lalu). Saya antar relawan dari luar Sulawesi ke sana, menunjukkan jalan untuk membantu sesama,” ungkap Abdul.

Hingga kini, secara berkala Abdul meluangkan waktunya untuk bersama tim Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) – ACT yang berada di Wani, Donggala. Sekecil apa pun keterlibatannya dalam aksi kemanusiaan ini, Abdul yakin hal tersebut setidaknya bisa meringankan beban saudara-saudaranya yang terkena musibah. [*]

Advertisement
loading...