batampos.co.id – PT Waskita Karya Tbk bakal menjual 18 ruas tol pada tahun depan. Dana tersebut akan digunakan untuk menutup utang dan ekspansi pembangunan infrastruktur. Direktur Utama Waskita Karya I Gusti Ngurah Putra menyatakan, ruas tol yang akan dijual perseroan pada tahun depan adalah Pejagan–Pemalang dan Pemalang–Batang.

’’Kita mau divestasi semua, cuma bertahap yang mana. Mungkin kombinasi,’’ katanya kemarin (6/12). Pihaknya berencana melakukan tender guna menawarkan 18 ruas tol tersebut. Meski, saat ini perseroan telah menawarkan ruas tol itu ke beberapa pihak.

’’Kita tidak cenderung ke siapa-siapa. Pokoknya siapa yang masuk harganya, karena sebelum penjualan itu kita minta izin ke kementerian. Tanya legal juga opini dari stakeholder lain seperti BPK,’’ imbuhnya. Menurut dia, beberapa investor sudah berminat membeli ruas tol itu, tetapi masih menunggu selesainya proyek tersebut akhir tahun ini. ’’Waskita Karya itu membangun jalan tol, bukan menjadi operator,’’ urainya.

Waskita Karya memegang konsesi sejumlah jalan tol di Indonesia. Yakni, tol Cimanggis–Cibitung, Pejagan–Pemalang, Ciawi–Sukabumi, Ngawi–Kertosono, MKTT seksi 6 (Teluk Mengkudu–Sei Rampah), Pasuruan–Probolinggo, Batang–Semarang, Solo–Ngawi, dan Bekasi–Cawang–Kampung Melayu.

Waskita termasuk dalam 10 BUMN yang memiliki utang terbesar. Pada kuartal ketiga 2018, utang Waskita mencapai Rp 102 triliun. Angka tersebut naik dibandingkan utang perseroan pada akhir 2017 senilai Rp 75 triliun. Di sisi lain, aset Waskita juga meningkat dari Rp 98 triliun pada akhir 2017 menjadi Rp 129 triliun pada triwulan 2018.

Sementara itu, laba Waskita stagnan di angka Rp 4 triliun baik pada akhir 2017 maupun kuartal ketiga 2018. Pendapatan Waskita pada kuartal 2018 terkerek 26,98 persen dari Rp 28,53 triliun menjadi Rp 36,23 triliun. Hingga akhir tahun, perseroan mengharapkan dapat menerima pembayaran dari proyek turnkey yang rampung senilai Rp 15 triliun hingga Rp 20 triliun. Pihaknya kini fokus menyelesaikan proyek infrastruktur senilai Rp 101,76 triliun.

’’Banyak sekali pinjaman dari BUMN konstruksi karena mereka melakukan pre-financing. Kontraktor keluarkan dulu (dananya), setelah jadi 5 sampai 10 tahun barang jadi diserahkan baru duitnya turun,’’ terang Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN Aloysius K. Ro.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengatakan, langkah Waskita melakukan divestasi ruas tol akan berdampak positif terhadap keuangan perseroan. ’’Waskita butuh pendanaan besar untuk mengerjakan proyek infrastruktur dan pembayaran utang. Meski demikian, saat ini perusahaan yang memiliki kemampuan membeli tol-tol Waskita memang limited karena nilai proyeknya cukup besar,’’ imbuhnya.

Dia mencontohkan, yang mampu membeli adalah sesama BUMN seperti PT Jasa Marga Tbk. ’’Kalau swasta saat ini yang sedang gencar melebarkan sayap ke bisnis tol adalah Astra. Tiongkok juga suka agresif masuk ke proyek infrastruktur,’’ ujarnya. (vir/c17/oki/jpg)

Advertisement
loading...