Dari kiri: Adhika, Puteri, Erwin, dan Iman di Koptul Duren Tiga, Jakarta Selatan (4/12). (Tri Mujoko Bayuaji/Jawa Pos)

Kopi Tuli berdiri setelah Adhika, Puteri, dan Erwin mengalami penolakan demi penolakan saat melamar kerja. Dirancang sebagai tempat belajar dan berkarya kalangan tunarungu.

TRI MUJOKO BAYUAJI, Jakarta

BAHASA isyarat berupa huruf A itu langsung dipahami M. Adhika Prakoso. Kosu Koso.

”Itu kopi signature saya,” katanya kepada Jawa Pos yang memesan racikan sejenis kopi susu dengan kandungan kopi yang lebih kuat tersebut.

Selasa tengah hari lalu itu (4/12) Koptul di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, tersebut mulai ramai. Berada di kawasan perkantoran, banyak pekerja yang menghabiskan istirahat makan siang mereka di sana.

Koptul kependekan dari Kopi Tuli. Adhika bersama dua sahabat penggagasnya, Puteri Sampaghita Trisnawiny Santoso dan Tri Erwinsyah Putra, memang tunarungu.

Namun, siang itu, seperti juga hari-hari sebelumnya, sama sekali tak ada kendala komunikasi. Semua tamu terlayani dengan baik dan cepat. Sebanyak 12 menu yang terpampang, masing-masing disertai bahasa isyarat, sangat membantu memudahkan percakapan.

Untuk memesan kopi, pembeli cukup menunjuk gambar atau membuat simbol bahasa isyarat yang sudah terpampang di menu. Kosu Koso, misalnya, diberi simbol bahasa isyarat huruf A, Kosu Wings dengan huruf B, dan Kosu Siput dengan C.

Total, ada 12 menu minuman di Koptul dengan 12 huruf simbol yang berurutan. Dengan harga bervariasi, mulai Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu.

”Koptul di Duren Tiga ini adalah cabang kedua kami. Yang pertama berada di Krukut, Depok,” kata Adhika kepada Jawa Pos.

Kami berbicara tanpa bahasa isyarat. Adhika, sebagaimana Puteri dan Erwin, membaca gerak mulut saya. Jika ada yang sulit dipahami, baru digunakan bahasa tulis.

Dua cabang Koptul itu adalah bukti kegigihan Adhika, Puteri, dan Erwin. Mereka menolak menyerah kepada keadaan yang kerap memarginalkan atau malah diskriminatif.

Adhika bercerita, begitu lulus dari Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Bina Nusantara (Binus) pada 2016, dirinya tidak kunjung mendapat pekerjaan. ”Saya sudah melamar, ada 200 perusahaan, tidak ada yang mau menerima,” kata Adhika.

Hal yang sama dialami Puteri. Perempuan 27 tahun yang juga lulusan DKV Binus itu bahkan sudah mengajukan setidaknya 500 lamaran. Namun, dia baru satu kali lolos tes hingga interview. Saat wawancara itu, tiba-tiba HRD (human resources department) perusahaan swasta tersebut menolak.

”Dibilang posisinya sudah terisi,” kata Puteri tentang pengalaman yang juga pernah dialami Erwin.

Koptul di Duren Tiga itu dihiasi foto sejumlah tokoh. Semua kalangan tuli dengan raihan mengagumkan.

Ada Helen Keller, penulis sekaligus aktivis perempuan tunarungu. Juga, Millicent Simmonds, aktris remaja tunarungu yang dikenal di film Quiet Place. Ada pula Nyle Dimarco, model pria tunarungu yang melambung namanya lewat America’s Next Top Model edisi ke-22.

Untuk cabang kedua, trio pendiri bekerja sama dengan Iman, teman Erwin yang juga tunarungu. Iman meminta kepada orang tuanya agar ruko tiga lantainya boleh digunakan untuk Koptul. Permintaan itu disampaikan setelah dia tertarik dengan keramaian Koptul di Depok.

Koptul di Depok berdiri setelah Adhika, Puteri, dan Erwin bertemu dan memutuskan ingin melakukan sesuatu. Puteri menganjurkan langkah itu dimulai dari hal-hal sederhana yang disuka.

Adhika lantas mengusulkan untuk berwirausaha dengan membuka kedai kopi. Puteri dan Erwin setuju dengan ide itu.

”Karena saya suka kopi dan memang suka membuat kopi,” kata pria 28 tahun itu.

Saat itu sudah ada pikiran bahwa kedai kopi tersebut nanti harus bisa diberdayakan untuk kawan-kawan yang senasib dengan mereka. Namun, itu nanti. Tantangan pertama adalah menemukan tempat dulu.

Adhika akhirnya menyampaikan kepada salah seorang pamannya agar diizinkan untuk menggunakan salah satu sudut ruangan. Gayung bersambut, izin didapatkan.

Jadilah Koptul di Depok resmi berdiri pada 12 Mei 2018. ”Tiga bulan pertama kami pakai pinjam. Bulan keempat sampai sekarang kami sudah mulai bayar,” ujar Puteri, yang dibantu Adhika dalam perbincangan dengan Jawa Pos.

Saat itu belum ada mesin kopi profesional yang mereka miliki untuk usaha. Adhika, Puteri, dan Erwin masih bermodal mesin rok espresso untuk uji coba membuat kopi. ”Menggunakan rok ternyata tidak konsisten karena bergantung kekuatan tangan,” kata Adhika.

Mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk berinvestasi lebih besar. Ketiganya patungan untuk membeli mesin kopi Toffin yang digunakan hingga kini di Depok. ”Total modal awal kami Rp 150–200 juta,” ujarnya.

Kali pertama berjualan, Adhika mengaku belum memiliki konsep yang pasti. Padahal, yang dilayani bukan hanya teman tuli, tapi juga teman dengar. Jadilah ketiganya sempat bingung saat awal-awal melayani pelanggan teman dengar.

”Kami putuskan sodorkan kertas untuk menulis menunya,” kata Adhika.

Namun, itu tidak efektif. Dari situlah muncul konsep agar teman dengar bisa sedikit mengenal bahasa isyarat. Yakni, memasang simbol bahasa isyarat di menu.

Strategi itu ternyata memudahkan para pelanggan untuk memilih menu yang disukai. ”Menunya sengaja kami bikin besar biar bisa langsung ditunjuk,” jelas Adhika.

Koptul ternyata menarik minat pelanggan. Puteri mencatat, 60 persen pelanggan yang datang adalah teman tuli. Sisanya, 40 persen, adalah teman dengar. Dalam sehari, Koptul bisa menjual rata-rata 100 cup kopi.

Khusus untuk jenis kopi, Koptul menjatuhkan pilihan kepada kopi Ciwidey arabica dan kopi Papua Wamena arabica. ”Kalau kopi Ciwidey itu dari keluarga, kalau Papua Wamena itu seimbang, tidak terlalu strong atau lembut,” jelas Puteri.

Terhitung sejak November, berdirilah Koptul kedua atas kerja sama dengan Iman. Iman mengaku tertarik dengan Koptul saat datang dalam perayaan reuni.

”Waktu datang kali kedua, akhirnya kerja sama di sini,” kata Iman, yang mengaku menyukai Kosu Siput buatan Puteri.

Berdirinya Koptul ternyata menggema ke banyak teman tuli dari berbagai daerah. Beberapa teman tuli dari Bandung, Palembang, Makassar, hingga Jayapura pernah berkunjung ke Koptul.

Adhika, Puteri, dan Erwin merancang Koptul di Depok dan Duren Tiga dengan konsep yang berbeda. Kalau yang pertama cenderung sebagai tempat nongkrong, yang kedua –yang lebih luas– sekaligus dijadikan rumah belajar.

Lantai 1 ruko digunakan untuk Koptul, sementara lantai 2 dan 3 dijadikan tempat pertemuan, diskusi, dan belajar. ”Nanti ada rumah belajar bahasa isyarat. Saat ini sedang dikonsep bersama Pusbisindo (Pusat Bahasa Isyarat Indonesia, Red),” kata Adhika.

Untuk urusan bahasa isyarat, Erwin saat ini memiliki sertifikat untuk mengajar. Beberapa waktu terakhir dia juga bekerja sebagai pengajar kelas bahasa isyarat di almamaternya, Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

”Untuk belajar bahasa isyarat, ada level masing-masing. Satu level tiga bulan, dua belas kali pertemuan,” kata Erwin.

Menurut Erwin, peminat kelas bahasa isyarat terbilang banyak. Sebagai kelas ekstrakurikuler di UNJ, ada sekitar 20 mahasiswa yang ingin belajar bahasa isyarat.

”Kalau sudah masuk di level 5, sudah termasuk profesional atau guru bahasa,” kata Erwin.

Di samping itu, upaya untuk memberdayakan teman tuli juga mulai berjalan. Selain mereka bertiga bersama Iman, sudah ada Rama, Alwin, Ziyan, Kania, dan Yani yang membantu di dapur Koptul.

Tidak hanya membantu di kasir atau mengantar menu, mereka sedikit banyak mulai diajari cara meracik kopi, baik dari Adhika, Puteri, maupun Erwin. Kebetulan, ketiganya sudah punya signature masing-masing. Kalau Adhika dengan Kosu Koso dan Puteri dengan Kosu Siput, Erwin memiliki ciri khas dengan Kosu Wings.

”Nantinya mereka yang akan mengawasi Koptul-Koptul lainnya,” ujarnya.

Rencananya, dalam waktu dekat dibuka Koptul ketiga di Bintaro, Tangerang Selatan, tak jauh dari rumah Adhika. Diharapkan, kelak di seantero Indonesia ada 100 Koptul.

Dengan jumlah sebanyak itu, lanjut Adhika, dia dan kawan-kawan bisa membantu teman-teman tuli untuk mendapatkan pekerjaan. ”Kalau satu Koptul diisi 4 orang, tinggal dikalikan kalau ada 100 Koptul,” ujarnya, bersemangat. (*/c11/ttg)

Advertisement
loading...