batampos.co.id – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam meminta pemerintah untuk meninjau ulang harga gas bumi untuk industri. Karena kenaikan harga ini menyebabkan kenaikan biaya operasional bagi pengelola kawasan industri.

“Banyak kalangan pengusaha mengeluhkan naiknya harga gas tersebut, terutama pengelola kawasan industri di Batam,” kata Plt Apindo Batam, Rafki Rasyid, Kamis (6/12).

Kenaikan harga gas industri menyebabkan naiknya biaya operasional pengelola kawasan industri yang menyediakan listrik untuk tenant yang menyewa lahannya.

“Akibatnya adalah tekanan kepada pengelola kawasan industri untuk menaikkan sewa kepada para tenant,” ungkapnya.

Jika harga sewa dinaikkan, maka daya saing kawasan industri tersebut bisa menurun. Dan bukan tidak mungkin, tenant-tenant akan memilih pindah ke negara yang lebih murah harga sewanya. “Ini jadi dilema bagi pengelola kawasan industri,” paparnya.

Selain itu, kenaikan harga gas industri tersebut dikhawatirkan juga akan membuat PLN Batam ikut menaikkan harga listrik di Batam. “Sehingga akan menjadi beban tambahan bagi para pengusaha selain harus menanggung beban kenaikan harga gas industri,” katanya.

Banyak pengusaha berharap kebijakan kenaikan harga gas industri ini agar ditinjau kembali. “Karena kenaikannya sangat memberatkan di tengah kondisi ekonomi Batam yang masih berjuang untuk pulih. Batam hanya membutuhkan stimulus agar bisa bangkit,” tegasnya.

Kenaikan harga gas industri ini terjadi karena harga gas di hulu, yakni di Grissik, Sumatera Selatan naik. “ConocoPhilips sudah mengajukan penyesuaian harga sejak 2017. Ini akan menurunkan daya saing Batam. Dikhawatirkan, para investor akan relokasi ke negara lainnya,” kata Kabid Ketenagalistrikan Dinas Pertambangan dan Energi Pemprov Kepri Marzuki belum lama ini.

Industri di Batam sangat bergantung kepada pasokan gas. Untuk saat ini harga gas bumi untuk industri di Batam mencapai 5,8 dolar Amerika per MMBTU. Pemakaian rata-rata perhari dari tiga perusahaan kawasan industri tersebut sebesar 16.800 MMBTU per hari.

Contohnya Batamindo. Di sana ada 68 perusahaan dengan karyawan sebanyak 45 ribu. Dalam sehari, kebutuhan gas di kawasan industri itu mencapai 11.800 MMBTU per hari atau 354 ribu MMBTU per bulan.

Pasokan gas tersebut digunakan untuk menyokong pembangkit listrik berdaya 125 Megawatt dengan beban puncak 60 Megawatt.

Sedangkan Panbil memiliki 26 perusahaan dengan karyawan sebanyak 12.500 orang. Kebutuhan gas di sana mencapai 3.500 MMBTU per hari dan atau 110 ribu MMBTU per bulan. Gas tersebut digunakan untuk menyokong pembangkit listrik berdaya 32 Megawatt dengan beban puncak 18 Megawatt. (leo)

Advertisement
loading...