batampos.co.id – Jaringan seluler berbasis 5G tampaknya mulai diimplementasikan mulai tahun depan. Salah satu perangkat yang bakal didukung teknologi tersebut yakni smartphone. Namun ponsel pintar dengan dukungan teknologi 5G sepertinya tidak akan dibanderol murah.

Sebagaimana dikutip dari laman AndroidPit, Senin (10/12), hal yang paling mendasari mahalnya teknologi 5G adalah tarif. Seperti yang kita ketahui bahwa sebagian besar negara, frekuensi 5G akan dilelang di antara operator. Hal ini tentu akan terjadi ‘balapan’ dengan nominal uang yang tidak sedikit, bahkan hingga miliaran dolar.

Belum berhenti di situ, perluasan jaringan 5G juga harus ditangani ribuan antena, menara seluler, dan perangkat penunjang lainnya yang perlu dibangun untuk saling terhubung. Biaya instalasi hingga operasi jaringan tersebut tentu akan menjadi perhitungan operator untuk membebankan sebagian tarif kepada pengguna sebagai konsumen.


Bukan hanya tarif yang akan membuat kenikmatan 5G menjadi mahal, dibutuhkannya dukungan perangkat penunjang pada jeroan smartphone juga turut andil. Misalnya saja untuk prosesor yang kompatible dengan teknologi 5G, Snapdargon 855, dan modem X50 untuk 5G bukan bagian dari prosesor. Itu harus dibeli dan dilisensikan secara terpisah. Antena mmWave yang cocok juga bersifat opsional.

Pendiri OnePlus, Pete Lau mengungkapkan, teknologi 5G akan membebani pelanggan tambahan uang sekitar 200 dolar hingga 300 dolar atau setara dengan Rp 2,9 jutaan hingga Rp 4,3 jutaan untuk smartphone yang mendukung jaringan 5G. Menyoal perangkat smartphone dengan dukungan 5G, OnePlus memang termasuk salah satu vendor yang menyatakan diri siap menghadirkan 5G lewat perangkat smartphone bikinannya. Begitu juga beberapa vendor lainnya seperti Xiaomi, Oppo, Vivo, dan ZTE.

Sementara, menurut laman TheVerge, dalam sebuah roundtable dengan pers Amerika Serikat (AS) di Konferensi Tingkat Tinggi Teknologi Qualcomm di Hawaii pekan lalu, Bos Qualcomm Cristiano Amon mengatakan, biaya tambahan bagi teknologi 5G bagi pabrikan merupakan sebuah perspepsi. Menurutnya, ada kemungkinan bahwa beberapa OEM akan memberikan biaya tambahan ke basis pelanggan mereka yang sudah ada. “Mungkin mereka ingin menggunakan harga sebagai alat untuk meningkatkan pangsa pasar mereka,” kata Amon.

Pada dasarnya, lanjut Amon, beberapa produsen memilih agar pengguna membayar peningkatan 5G. Sementara yang lain akan membayar sendiri (sebagian atau sepenuhnya) agar lebih kompetitif, termasuk mengamankan bagian pasar yang lebih besar.

Terlepas dari prediksi bahwa teknologi 5G tidak akan murah, banyak pihak menganggap hal itu wajar. Sebab, jaringan generasi kelima ini merupakan teknologi baru. Karena itu, memang pada mulanya mahal. Penyesuaian harga biasanya akan terjadi seiring dengan adopsi yang meningkat di kemudian hari. (ryn/JPC)

Loading...