Pixabay.com

Jumlah kasus HIV/AIDS di Batam terus naik setiap tahun seiring bertambahnya tingkat kesadaran masyarakat untuk melakukan tes. Jumlah kasus yang relatif tinggi ini menempatkan Batam di urutan kedelapan di Indonesia. Namun bak fenomena gunung es, jumlah kasus yang sebenarnya diduga jauh lebih banyak dari angka yang terungkap.

Sebelumnya
Berikutnya

Angka Penderita Naik

Dua wanita itu memarkir motornya di parkiran Rumah Sakit Budi Kemuliaan (RSBK) Batam, Rabu (5/12) siang lalu. Mengenakan masker, keduanya langsung bergegas menuju ruang Konseling dan Testing HIV/AIDS Kasper di Paviliun Anyelir.

Ruangan itu dipenuhi puluhan kursi dan beberapa sofa. Di dindingnya terpampang beberapa poster dan foto kegiatan pelayanan sosial, khususnya di bidang penanggulangan dan sosialisasi AIDS kepada warga Batam dari tahun ke tahun.

Di sebelah kiri pintu masuk, ada sebuah rak berisi buku-buku dan selebaran informasi mengenai HIV/AIDS. Begitu dua wanita masuk, dua petugas pun menyapa sambil meminta map yang mereka bawa untuk pendaftaran kembali.

“Tapi konselornya lagi tak di tempat. Tugas ke luar kota,” ujar salah satu staf wanita.

Konselor yang dimaksud tak lain adalah Konselor HIV/AIDS RSBK Batam, dokter Fransisca L Tanzil. Ia sedang mengikuti kegiatan di Jakarta selama sepekan. Mendengar jawaban itu, salah satu wanita tadi menuju sofa dan duduk di sana. Namanya Isti. “Mau tes (HIV) saja,” ungkapnya malu-malu.

Perempuan asal Riau ini menyebutkan sudah empat tahun merantau ke Batam. Usianya 28 tahun. Ia mengaku bekerja di salah satu tempat hiburan dan karaoke di kota ini.

Sebenarnya, ia mengaku malu untuk mengikuti tes Human Immuno Deviciency Virus (HIV) yang dapat menyebabkan orang terinfeksi terjangkit AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). HIV/AIDS ini ia anggap momok yang menyeramkan, menjauhkannya dari kehidupan sosialnya, khususnya keluarga.

“Takut ketahuan teman-teman dan keluarga saja,” ungkapnya dengan suara lemah.

Ia lantas kembali mengenakan maskernya, lalu bergegas pulang. Saat ia pulang, dua pengunjung lainnya datang. Seorang perempuan berumur dan seorang pria mengenakan jaket coklat. Si pria tersebut kurus kering dan pucat. Perempuan yang datang menemani pria itu tampak memberikan kertas kecil kepada petugas klinik. “Kasih Aluvia dan Tenofoir Disoproxil saja,” ungkapnya.

Aluvia, Tenofoir Disoproxil, dan Fumarate merupakan tiga jenis obat penangkal HIV positif dengan dosis tinggi. Obat ini tidak dijual bebas di apotek.

Khusus di RSBK, pada Januari hingga Oktober 2018 ini, tercatat ada 4.333 warga yang mengikuti tes HIV atas kesadaran sendiri ke Klinik Kasper RSBK. Dari tes itu ditemukan 307 orang terjangkit HIV positif, 257 AIDS. Sebanyak 33 orang di antaranya belakangan diketahui meninggal dunia.

Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2017. Dimana ada 4.123 orang yang menjalani tes. Sebanyak 294 di antaranya HIV positif, dan 250 AIDS yang terdiri dari 175 laki-laki, 66 perempuan, dan 9 anak di bawah umur.

Di tempat terpisah, Kepala Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Batam Pieter P Pureklolong menyebutkan peningkatan jumlah kasus dan sebaran HIV/AIDS di Batam dari tahun ke tahun cukup tinggi.

“Lumayan signifikan. Setiap tahun peningkatan selalu ada,” ujarnya di Batam Center, Kamis (6/12) sore lalu.

Pieter lalu menunjukkan data dari Dinas Kesehatan Kota Batam. Menurutnya, melalui fasilitas layanan kesehatan (Fasyankes) HIV/AIDS di 26 voluntary counselling and testing (VCT) atau konseling dan tes HIV sukarela (KTS), 4 CST, dan 8 IMS di puskesmas rujukan, hingga Oktober ini ada 13.871 warga yang melakukan tes HIV. “Dari test itu, ada 587 yang HIV positif. Itu pasien baru,” ujar Pieter.

Pieter menambahkan, ada perubahan faktor risiko tertular tahun ini. Kalau tahun lalu didominasi pria pekerja seks (PPS) atau pria homoseks (gay), tahun 2018 ini penderita HIV berdasarkan pekerjaan justru lebih tinggi ditemukan pada kalangan karyawan atau buruh pabrik sebanyak 151 orang.

Lalu disusul ibu rumah tangga sebanyak 50 orang dan wanita penjaja seks (WPS) sebanyak 42 orang. Dari kalangan pria pekerja seks (PPS) atau gay justru menurun menjadi 15 orang.

“Tahun ini didominasi perilaku heteroseks. Risiko tertular dari lawan jenis tinggi. Banyak dari kalangan buruh atau karyawan. Hampir 40 persen. Disusul ibu rumah tangga yang juga menularkan ke anaknya, lalu WPS dan juga pengaruh narkoba dan jarum suntik,” jelas Pieter.

Namun Pieter menyebutkan, terus bertambahnya temuan kasus HIV/AIDS ini juga dikarenakan semakin banyaknya warga yang secara sadar memeriksakan diri. Baik ke rumah sakit, VCT, atau klinik rujukan.

Meningkatnya kesadaran ini menurut Pieter karena selama ini pihaknya gencar melakukan sosialisasi dan pendampingan kepada masyarakat terdampak. Demikian juga halnya dalam hal informasi, kini banyak aktivis-aktivis dan survivor yang bekerja sukarela dengan mengkampanyekan bahwa orang dengan HIV AIDS (ODHA) bukanlah musuh atau momok yang harus dikucilkan.

“Ada komunitas pendamping seperti Embun Pelangi. Ada juga Yayasan Lintas Nusa. Khusus Lintas Nusa ini, kami fokus kepada orang yang terjangkit narkoba dan perilaku seks menyimpang yang bisa terkena ke AIDS. Kami dampingi dan beri pemahaman,” ujarnya.

Sebelumnya
Berikutnya