Pixabay.com

Jumlah kasus HIV/AIDS di Batam terus naik setiap tahun seiring bertambahnya tingkat kesadaran masyarakat untuk melakukan tes. Jumlah kasus yang relatif tinggi ini menempatkan Batam di urutan kedelapan di Indonesia. Namun bak fenomena gunung es, jumlah kasus yang sebenarnya diduga jauh lebih banyak dari angka yang terungkap.

Sebelumnya
Berikutnya

Tidak Semua Berani Ikuti Tes

Yayasan Embun Pelangi bergerak di bidang penyuluhan HIV/AIDS. Fokusnya pada pencegahan dengan sasaran para kaum gay dan waria. Ketua Pembina Yayasan Embun Pelangi, Efrizal, mengatakan upaya pencegahan yang mereka lakukan antara lain mengedukasi kelompok berisiko agar mengetahui tentang bahaya penularan HIV/AIDS. Kemudian dengan sukarela mereka melakukan tes HIV.

“Namun yang terpenting adalah mereka mau memeriksakan dirinya. Karena gay dan waria ini kan risiko penularannya lebih besar daripada hetero (heteroseksual),” ujar Efrizal di kantor Yayasan Embun Pelangi, Rabu (5/12).

Dalam angka persentase, penularan HIV melalui hubungan sesama jenis tingkat kerentanannya sekitar 30 persen. Lebih besar dari risiko hubungan seks dengan lawan jenis yang hanya 10-12 persen.

Selain karena berisiko, Embun Pelangi fokus mendampingi kelompok waria dan gay karena mereka cenderung tertutup. Penyebabnya, stigma dan diskriminasi yang masih terjadi di masyarakat hingga pemerintah. Kemudian akses layanan yang terkadang sulit, ditambah sikap malu, sehingga mereka semakin menutup diri.

“Walau sekarang akses layanan dari pemerintah daerah sudah lebih baik. Sudah gratis. Tetapi untuk membuat mereka mau datang melakukan pemeriksaan kan perlu edukasi. Nah itu yang kami lakukan,” jelas Efrizal.

Dalam dua tahun ini, lanjut Efrizal, pendampingan dan edukasi yang mereka lakukan berjalan cukup baik. Sebab, Embun Pelangi masuk ke komunitas-komunitas waria dan gay ini melalui pendekatan komunitas. Artinya, aktivis atau relawan yang mendampingi dari kalangan mereka sendiri.

“Kasarnya kalau kamu mencari pekerja atau relawan, dari kalangan mereka sendiri. Karena mereka yang akan lebih mudah menyampaikan dan bisa dipercayai oleh komunitas,” katanya.

Seorang relawan Embun Pelangi, DA mengatakan nyaris setiap hari mendatangi komunitasnya untuk melakukan penyuluhan tentang HIV/AIDS. Juga mendorong mereka melakukan tes HIV. Selama setahun menjadi relawan, DA tidak pernah mendapat penolakan dari anggota komunitas yang ia dampingi. Hanya saja, tidak semua aktif atau langsung bersedia melakukan tes HIV.

“Masih ada yang takut-takut. Mereka takut tahu hasilnya atau belum siap menerima hasil (tes HIV),” katanya.

Untuk akses layanan kesehatan, DA juga mengakui tidak begitu banyak kendala. Misalnya di PKM Lubukbaja, DA yang diketahui positif HIV empat tahun lalu itu bisa mendapatkan obat antiretroviral gratis. Prosedurnya tidak berbelit-belit dan petugasnya juga sudah memahami tugasnya sehingga tidak membuat ODHA tidak mendapat perlakukan diskriminatif.

“Hanya terkadang kalau di rumah sakit swasta, sangat sulit dan berbelit-belit kalau pakai BPJS Kesehatan. Kita harus punya penyakit lainnya agar bisa dilayani,” kata DA yang kini berusia 24 tahun itu.

Aktivis lainnya, Mayang, menyatakan hal senada. Sampai saat ini masih sering terjadi perilaku diskriminatif untuk ODHA.

“Kayak yang kemarin itu, ada yang dikeluarkan dari pekerjaannya karena menderita HIV,” ungkap Mayang.

Sebelumnya
Berikutnya