batampos.co.id – Pasar properti 2019 diprediksi tumbuh lebih baik jika dibandingkan dengan tahun ini. Ada beberapa faktor yang mengakibatkan properti tahun depan lebih bergairah. Di antaranya, fokus pemerintah pada peningkatan infrastruktur, pelonggaran loan to value (LTV), sampai pengadaan rumah bersubsidi. Permintaan properti diperkirakan stabil dan ada sedikit peningkatan pada kelas menengah ke atas.

’’Pemerintah meningkatkan anggaran infrastruktur untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Sejumlah kebijakan lainnya seperti pelonggaran LTV serta program sejuta rumah membantu memudahkan masyarakat, terutama kelas menengah dan bawah, untuk memiliki hunian,’’ ujar pengamat dan praktisi properti Ike Hamdan.

Ike menambahkan, data menunjukkan suplai properti tumbuh signifikan pada kuartal ketiga 2018. Secara periode kuartal, pertumbuhan tertinggi tercatat pada kuartal ketiga 2018, yakni 15 persen, jika dibandingkan dengan kuartal kedua 2018. ’’Peningkatan suplai properti tampaknya sebagai respons penjual terhadap meningkatnya harga properti,’’ urainya.

Menurut Ike, pertumbuhan suplai properti yang sejalan dengan peningkatan harga mengindikasikan pasar properti mulai stabil. Pasar sudah memasuki masa seller’s market. ’’Penjual memasang harga tinggi untuk properti residensial, namun memberikan banyak pilihan kepada pembeli. Semakin banyaknya suplai membuat konsumen semakin mudah menentukan pilihan residensial, baik berdasar lokasi, harga, dan jenisnya,’’ bebernya.

Disinggung mengenai peran program rumah bersubsidi sebagai salah satu pendorong pasar properti 2019, Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) Soelaeman Soemawinata mengatakan, pada 2018 target membangun 230.000 rumah subsidi belum bisa tercapai. Penyebabnya adalah pengaruh kondisi masing-masing daerah. Walaupun, diprediksi realisasi pembangunan rumah subsidi mampu mencapai lebih dari 200.000 hingga akhir 2018.

’’Tapi, pembangunan tetap akan melebihi 200.000 unit rumah subsidi karena per September kemarin saja sudah hampir 168.000. Ada lonjakan di Jawa Timur. Targetnya 16.000 jadi 25.000, sampai akhir tahun akan mencapai 200.000 lebih,’’ urainya.

Menurut Soelaeman, pihak REI berharap pemerintah dapat mendukung iklim penyediaan rumah rakyat. Di antaranya, kepastian soal harga jual, teknis bangunan penyediaan perumahan subsidi, serta perizinan di daerah. ’’Perizinan di seluruh daerah tidak sama. Ada yang sudah melakukan dengan baik, tapi masih juga ada daerah yang belum bisa memahami industri properti ini dilayani dengan baik,’’ tambahnya.

Soelaeman menambahkan, tata ruang yang cepat berubah juga cukup menyulitkan pengembang. Sebab, kerap kali izin lokasi sudah diterima. Namun, izin mendirikan bangunan tidak bisa dilakukan karena tempat tersebut telah menjadi kawasan hijau. ’’Ada kejadian di Kalimantan Selatan, ada hal seperti itu. Saya kira ini menjadi hal yang sangat penting,’’ ungkapnya. (agf/c19/oki/JPG)

Yuk Baca