Penantian 17 tahun itu terobati. Persija Jakarta berhasil menjadi juara Liga 1 2018.
Dua gol Marko Simic pada menit 17 dan 58 sudah cukup menyegel titel menjadi klub terbaik di Indonesia. Meskipun Mitra Kukar sempat memperkecil kedudukan pada menit 87 melalui gol spektakuler Aldino Herdianto, namun tak mampu mengadang Macan Kemayoran meraih gelar juara.

Di tempat nan jauh di sana, PSM Makassar melumat PSMS medan dengan skor 5-1. Kemenangan telak itu juga tak mampu membawa Juku Eja menjadi juara. Perbedaan satu poin tidak cukup bagi PSM untuk membawa pulang gelar juara.

Inilah liga paling sengit di jagat raya. Siapa yang menjadi juara, klub mana yang terdegradasi, harus ditentukan pada laga pamung­kas. Sangat sulit ditebak. Penuh kejutan. Tidak ada yang menyangka jika klub-klub besar bertabur bintang justru keok.

Bali United, Persib Bandung, hingga Persipura Jayapura terlempar dari perburuan gelar juara. Yang paling mengenaskan adalah Sriwijaya FC dan Mitra Kukar yang dikenal sebagai tim bertabur bintang di Indonesia. Mereka harus turun kasta.

Keduanya harus merelakan jatah mereka kepada klub baru yang naik kelas. PSMS Medan yang baru saja promosi tahun lalu, harus kembali ke kasta kedua. Tiga klub Liga 2 menggantikan mereka, PSS Sleman, Semen Padang, dan pendatang baru Kalteng Putra.

Liga 1 tahun ini memang ramai. Tidak hanya di lapangan, tapi juga faktor lainnya. Mulai dari kepemimpinan wasit, meninggalnya suporter, hingga dugaan pengaturan skor yang melibatkan beberapa pemain. Semua menjadi bumbu.

Itulah yang membuat Liga 1 tahun ini begitu berbeda. Lebih seru. Juga lebih meriah. Dalam industri sepak bola, bumbu luar lapangan lebih lezat. Sangat menghibur. Lebih menggiurkan. Setidaknya, dapat mengangkat “derajat” sepak bola Indonesia.

Musim kompetisi Liga 1 memang berakhir. Namun tidak menurunkan kadar keseruannya. Saat ini masih berlangsung Piala Indonesia. Meskipun banyak klub yang menurunkan pemain lapis kedua, namun tidak menghilangkan gengsi daerah.

Tak hanya itu, rumor transfer juga bikin heboh. Menambah cerita menarik. Si A direkrut klub mana, si B berlabuh ke mana, semua membuat nilai Liga 1 semakin “mahal”. Bahkan, Kalteng Putra yang baru saja promosi ke Liga 1 sudah gembar-gembor mendatangkan megabintang dunia, Zlatan Ibrahimovic.

Dulu saya pernah mengupas soal pentingnya sebuah daerah memiliki klub sepak bola. Mungkin Batam perlu mencobanya. Lewat sebuah klub sepak bola yang berbasis di Batam, barangkali bisa mendorong program peningkatan wisata di Batam.

Kita ambil contoh Bali United. Akibat hadirnya Bali United, tingkat kunjungan wisatawan mancanegara ke Pulau Dewata meningkat. Bahkan, banyak wisatawan asing yang menjadi fans Irfan Bachdim dan kawan-kawan. Sampai-sampai, selalu ke Bali setiap klub kesayangannya bertanding.

Batam selalu didatangi wisatawan. Baik dari Singapura, Malaysia, maupun negara-negara lainnya. Butuh sesuatu yang baru untuk kita sajikan ketika mereka ke Batam. Mungkin, sepak bola bisa jadi alternatif.

Memang, sudah ada 757 Kepri Jaya.

Namun, yang lebih spesifik tentang Batam belum ada. Bisa jadi menghidupkan kembali PS Batam. Atau membeli salah satu kontestan Liga 1 dan mengubahnya menjadi Batam United, Batam City, atau Batam FC.

Liga 1 memang tak seheboh liga-liga besar Eropa lainnya. Namun, dengan pengelolaan yang baik, Indonesia bisa menjelma menjadi kiblat sepak bola Asia, bahkan dunia.

Selamat buat Persija! ***

Yuk Baca