Batam kini tengah bersolek. Jalan-jalannya semakin lebar, taman-taman baru dibangun dan banyak destinasi wisata baru yang bermunculan. Saat ini Pemerintah Kota (Pemko) Batam memang tengah memprioritaskan pembangunan infrastruktur dan mempercantik estetika kota untuk mendukung pengembangan pariwisata di Kota Batam.

RIFKI SETIAWAN LUBIS, BATAM

Sebanyak 750 golfer dari mancanegara berkunjung ke Batam pada 22 November lalu. Tujuannya adalah untuk mengikuti kompetisi golf bertajuk Batam Golf Adventure 2018 yang diselenggarakan di enam lapangan golf di Batam, 24-25 November kemarin.
Batam Golf Adventure 2018 merupakan kompetisi yang digelar oleh Persatuan Golf Indonesia (PGI) Batam bersama sejumlah instansi lainnya untuk menggairahkan dunia pariwisata di Batam. Panitia berharap lewat even ini dapat meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Batam.


Sekitar 10 persen dari peserta asal mancanegara bermain golf di Southlink Country Club. Mereka mulai berlatih pada 23 November, Jumat pagi. Salah satunya adalah golfer dari Belanda, Tim Van Der Werff.

Saat itu, ia tengah berlatih di salah satu driving range. Pria bertubuh tambun ini tengah bersiap-siap untuk mengambil tee shot. Sticknya diangkat tinggi-tinggi dan dalam sekali ayunan, bolanya melesat kencang. Tapi sayang, pukulannya melaju dengan ketinggian yang rendah.

Not good (tidak bagus,red),” serunya.

30 menit kemudian, Tim mengakhiri sesi latihannya dengan meninggalkan driving range dan kemudian bergegas menuju restauran untuk melepas lelah. Ia memilh kursi di pojok ruangan dan memesan segelas kopi latte.

Tim merupakan pria ramah. Ia tersenyum ketika disapa dan bahkan mempersilahkan penulis untuk duduk di sebelahnya. Tak disangka, ia bisa berbicara Bahasa Indonesia dengan lancar meskipun masih terdengar kaku. Pembicaraan pun mengalir lancar dan berfokus pada kekagumannya terhadap pengembangan infrastruktur di Batam.
Sebelum ke Southlink, ia berkeliling di Kawasan Nagoya, Batam terlebih dahulu. Tim sudah pernah datang ke Batam pada tahun 2014. Dan sekarang, ia melihat banyak perbedaan, khususnya pada infrastruktur, seperti jalan.

“Jalannya lebih lebar. Ada hiasan di kota. Jadi suasana malam hari lebih ceria,” katanya.

Dulu, ia masih ingat bahwa di sejumlah titik di jalanan Kota Batam selalu dihiasi kemacetan. Kemacetan ini memang tidak mengurangi minatnya untuk jalan-jalan di Batam, tapi mengurangi kenyamanannya dalam mengunjungi dari satu objek wisata menuju objek wisata lainnya.

Sejumlah titik kemacetan yang Tim ketahui yakni berada di Simpang Jam dan setelah Terowongan Pelita. Ketika macet, butuh waktu sekitar 45 menit untuk mencapai bandara.

“Tapi sekarang bisa 20 atau 25 menit ke bandara,” ucapnya.

Dan satu hal lagi yang belum ia pernah lihat sebelumnya adalah keberadaan Flyover Laluan Madani atau biasa dikenal sebagai jalan layang Simpang Jam beserta taman-taman di sekitarnya.

Menurut pria berusia 45 tahun ini, selain membuat mobilitas semakin lancar, konsepnya yang bernuansa Melayu turut berperan dalam upaya mencitrakan Kota Batam sebagai Kota Melayu. Pemerintah Kota (Pemko) Batam dianggap mampu membuat Batam semakin modern tapi tidak pernah melupakan ciri khasnya sebagai bagian dari Tanah Melayu.

“Saya pernah sedikit belajar kebudayaan Melayu dan begitu melihat jembatan di sana (Simpang Jam, red), saya tahu ini ciri khas Melayu. Dan Batam adalah Kota Melayu,” ungkapnya.

Tim mengaku kagum karena infrastruktur Batam tumbuh begitu cepat dari terakhir kali ia berkunjung empat tahun lalu. Tim yakin jika dilakukan secara berkesinambungan, maka Batam dapat menjadi kota yang dapat mendukung iklim pariwisata agar terus bertumbuh.
Pengembangan infrastruktur seperti pelebaran jalan memang menjadi upaya Pemko Batam dalam menggairahkan pariwisata. Tujuannya adalah untuk menjalin konektivitas secara merata sehingga memudahkan upaya pemerintah daerah dalam membentuk Batam sebagai kota wisata yang madani.

Sedangkan konsep yang digunakan Pemko Batam dalam membangun infrastruktur utama seperti pelebaran jalan berakar dari konsep 3A yakni atraksi, amenitas dan aksesibilitas.
Atraksi adalah produk dari suatu destinasi wisata, misalnya even atau kuliner khas.

Sedangkan amenitas adalah fasilitas pendukung yang bisa mengakomodir wisatawan baik dari sisi penginapan maupun makan dan minum, misalnya hotel, restauran dan lainnya.
Sedangkan aksesibilitas adalah sarana dan infrastruktur menuju destinasi wisata seperti jalan raya, sarana transportasi dan rambu-rambu penunjuk jalan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata mengatakan saat ini pembangunan infrastruktur yang memadai sedang digalakkan Walikota Batam, Muhammad Rudi untuk mendukung pengembangan pariwisata.

“Contohnya dengan peningkatan dan pelebaran infrastruktur jalan. Kalau aksesnya jelek, bagaimana wisman mau ke Batam. Pada bagian inilah butuh anggaran besar, maka Pemko Batam ambil alih,” tuturnya akhir Oktober lalu di Kantor Bank Indonesia Perwakilan Kepri.

Pelebaran jalan ini diikuti oleh pembangunan pedestrian untuk pejalan kaki, memperbaiki drainase dan membangun taman seperti Taman Tuah Melayu di Simpang Gelael, Batam.
Dengan demikian, pembangunan terencana ini tidak akan mengabaikan ruang milik jalan (rumija) dan fungsinya.

“Aksesibilitas ini sangat penting dalam memudahkan perjalanan wisman menuju objek wisata,” paparnya.

Senada dengan Ardiwinata, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) Batam, Muhammad Mansyur mengakui kontribusi Pemko Batam lewat pembangunan infrastruktur sangat vital bagi pengembangan pariwisata di Batam.

“Untuk hunian hotel, geraknya mungkin masih pelan-pelan. Tapi untuk mobilitas, karena tidak macet lagi, tentu saja sangat penting karena wisman punya banyak waktu untuk eksplorasi tempat wisata di Batam,” kata Mansur, Rabu (5/12).

Ia kemudian menuturkan keuntungan terbesar yang bisa diperoleh dari pengembangan infrastruktur adalah peningkatan pertumbuhan investasi, termasuk investasi di sektor pariwisata, properti dan lainnya.

“Investor sangat suka dengan kota yang nyaman dan bagus jalan-jalannya. Jika mereka masuk, maka mungkin saja tinggal di Batam dan mengundang teman-teman lainnya untuk ikut berinvestasi,” jelasnya.

Mansur tidak asal bicara. Karena sejak proyek pelebaran jalan dimulai pada awal kepemimpinan Rudi pada tahun 2016, sudah banyak proyek investasi properti yang mulai dibangun di Batam.

Proyek-proyek apartemen bernilai triliunan rupiah ini dibangun di pinggir jalan-jalan yang telah dilebarkan oleh Pemko Batam. Proyek-proyek tersebut antara lain Pollux Habibie, Oxley, Orchard View, Pesona Kayangan dan lainnya.

“Sejujurnya, ini (pelebaran jalan,red) bagus sekali, semua menyukainya dan nyaman. Sekarang di mata dunia, Batam sudah memiliki citra positif di mata investor mancanegara,” ujarnya.

Menata Jalan Layang Hingga Melebarkan Jalan

Kendaraan lancar tanpa hambatan macet saat melintas di Jalan Layang Simpang Jam, Lubukbaja, Selasa (10/7). Sebelum dibuat jalan layang, simpang ini selalu macet panjang. F Dalil Harahap/Batam Pos

21 Desember 2017 merupakan salah satu hari terpenting bagi Kota Batam. Setelah menempuh proses pembangunan selama kurang lebih dua tahun, akhirnya jembatan Flyover Laluan Madani atau biasa dikenal sebagai Flyover Simpang Jam diresmikan oleh Walikota Batam, Muhammad Rudi dan Gubernur Kepri, Nurdin Basirun.

Setelah menandatangani prasasti, Rudi berjalan menuju tepi flyover. Ia memandang jauh dan tampak tersenyum puas.”Kehadiran jembatan ini memiliki peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi Batam dan tentu saja pengembangan pariwisata,” tegas Rudi kepada media massa.

Jalan layang Simpang Jam merupakan proyek dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) dibangun pada awalnya untuk mengurai kemacetan di Batam. Namun lambat laun, Pemko Batam juga ikut menata jalan layang kebanggaan warga Batam ini sebagai ikon baru.

Salah satu andil Pemko Batam yakni menambahkan ornamen khas Melayu.Hiasan khas Melayu di jembatan layang Simpang Jam ini menyentuh bagian pagar hingga pilarnya. Beragam motif ornamen Melayu itu antara lain Pucuk Rebung, Setampuk Manggis, Lebah Bergayut, dan Julur Kacang.

Ornamen-ornamen tersebut menegaskan bahwa flyover ini tetap mengikutsertakan budaya lokal Melayu sebagai ciri khas. Selain itu, di empat sisi bagian bawah flyover ini, Pemko Batam juga ikut membangun taman-taman yang semakin mempercantik penampilannya.

Peresmian flyover merupakan salah satu langkah awal dan penting dalam mendukung aksesibilitas di Batam. Langkah awal tersebut kemudian akan diintegrasikan dengan 10 proyek pelebaran jalan di tahun 2018. Sehingga di akhir kepemimpinannya kelak, Batam akan terkoneksi secara merata.

“Karena ada flyover, nama Batam Insya Allah akan naik kembali. Tapi perjuangan ini belum berakhir. Pelebaran jalan terus diupayakan menuju Batam terus berkembang,” ucapnya.

Proyek pembangunan infrastruktur memang menjadi prioritas Rudi selama masa kepemimpinannya sebagai Walikota Batam. Seperti diketahui, Anggaran Pendapatan dan Belaja Daerah (APBD) Kota Batam 2018 diketok pada akhir 2017 lalu sebesar Rp 2,6 triliun. Pemko Batam mentargetkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp 1,35 triliun, dana perimbangan Rp 934 miliar serta pendapatan sah lainnya sebesar Rp 248,8 miliar.

Dengan anggaran sebesar itu, Rudi mengupayakan proses lelang semua proyek lebih cepat di awal tahun, sehingga realisasi pembangunan juga di awal-awal tahun. Tujuannya agar ekonomi bergerak dari belanja pembangunan tersebut.

Rudi juga menegaskan akan tetap memprioritaskan pembangunan fisik. Ada 10 proyek pelebaran untuk 2018, yakni Simpang Flyover Laluan Madani-Simpang BNI, Simpang BNI-Underpass, Simpang BNI-simpang Frengky, Simpang Frengky-Simpang Tarempa.

Selain itu, ruas jalan Simpang Patung Kuda-Bengkong Seken juga akan dilebarkan. Lalu jalan di depan Kampung Utama-Simpang Kolekta, Simpang Kolekta-Polsek Lubukbaja, Simpang Baloi-Seiladi, Kantor Wali Kota-Simpang Kabil, dan Jalan Simpang KDA ke arah Camat Batam Kota.

“Alhamdulillah semua setuju, jadi tak ada masalah,” ujarnya.

Tak hanya jalan-jalan utama, perbaikan jalan di kelurahan juga jadi fokus Pemko Batam. Pada 2018 ini, ada 64 kelurahan di Batam akan mendapatkan anggaran Rp 1,1 miliar untuk setiap kelurahan.

Selain itu, Walikota juga mengungkapkan perbaikan sistem drainase juga menjadi programnya. Ia mengharapkan Batam bebas banjir pada 2020.

Kegiatan-kegiatan seperti ini akan terus dilakukan Pemko Batam untuk membuat sektor pariwisata tumbuh sebagai salah satu fondasi yang menyokong pertumbuhan ekonomi Batam. Kota yang memiliki infrastruktur yang bagus akan menjadi kota yang menarik untuk dikunjungi.

Wisman dan wisatawan lokal yang berkunjung akan mendapatkan kenyamanan. Setelah itu, mereka akan mengajak rekan-rekannya yang lain untuk datang ke Batam
“Sudah ada peningkatan jumlah wisatawan asing yang datang ke Batam, tahun ini sekitar

1,4 juta orang hingga Oktober,” papar Rudi.

Dampak dari pelebaran jalan dapat memudahkan upaya Pemko Batam mengembangkan pariwisata dengan program-program utama lainnya seperti membuka destinasi baru, menggelar even, mempercantik estetika kota dan memberikan sertifikasi kepada pekerja di sektor pariwisata.

Dan hal tersebut menuai dampak positif bagi pertumbuhan wisman di Kepri khususnya Batam. Berdasarkan data yang dihimpun BPS, pada tahun 2016 jumlah wisan yang berkunjung ke Kepri mencapai 1.920.232 wisman. Dari jumlah kunjungan tersebut, Batam menyumbang 1.432.427 wisman atau sekitar 80 persen. Pada tahun 2017, kunjungan ke Kepri meningkat hingga menjadi 2.074.534 wisman. Batam menyumbang wisman sebanyak 1.504.275 atau sekitar 75 persen.

Dan untuk tahun ini, kunjungan wisman ke Kepri sudah mencapai 2.095.221 hingga Oktober. Untuk Batam, sumbangan wisman sebanyak 1.498.754 wisman atau 75 persen. Jumlah kunjungan tahun ini lebih baik daripada periode yang sama di tahun sebelumnya yang hanya 1.242.537 wisman. Dengan capaian ini, Rudi sangat optimis bahwa target 1,8 juta wisman akan tercapai. Apalagi di dua bulan tersisa yakni November dan Desember, banyak even akan digelar di Kepri, khususnya Batam.

Sedangkan jika ditinjau berdasarkan negara asal, wisman Singapura paling banyak datang ke Kepri. Jumlahnya hingga Oktober 2018 mencapai 1.006.726 wisman dan semuanya masuk melalui Batam, kemudian menuju tempat wisata lainnya. Kemudian dari Malaysia sebanyak 247.832 wisman dan Tiongkok sebanyak 220.130.

Dorong Pariwisata Lewat Insentif dan Destinasi Wisata Baru

Warga mendayung sampan untuk menuju tepian pantai Terih Nongsa, Minggu
(26/8). Masyarakat bersama Penjelajah Alam Kepri (PARI) menjadikan
kampung terih menjadi tempat wisata yang bisa dinikmati baik oleh warga
Batam maupun wisatawan. F Cecep Mulyana/Batam Pos

Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Guntur Sakti mengatakan Kepri khususnya Batam menjadi andalan utama Indonesia dalam meraup banyak kunjungan wisman selain Bali dan Jakarta.

“Tahun 2020, pemerintah memberikan target untuk mendatangkan wisman sebanyak 20 juta dan Batam sudah dipersiapkan untuk menjadi kontributor utama,” kata Guntur awal September lalu di Hotel Radison Batam.

Menurut Guntur, konsep 3A sudah sangat melekat ke Batam, baik itu soal aksesibilitas, amenitas dan atraksi. Makanya Kepri mendapatkan insentif dari Kemenpar yakni program Hot Deals. Hot Deals merupakan program yang dikemas dalam paket 3A yang terdiri dari diskon untuk atraksi, diskon untuk akses dan diskon untuk akomodasi. Hot Deals ini ditargetkan untuk 500 ribu wisman.”Jadi diskonnya bisa sampai 50 persen. Baik itu diskon untuk akses fery, diskon untuk atraksi golf dan diskon akomodasi seperti hotel,” jelasnya lagi.

Guntur meyakini bahwa program ini dapat mendongkrak kunjungan wisman ke Kepri.
Sedangkan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisbudpar) Kepri, Buralimar akan berupaya untuk terus mendorong peningkatan destinasi wisata baru di Kepri, khususnya Batam.

Upaya ini perlu dilakukan untuk mengimbangi pembangunan infrastruktur seperti jalan yang tengah gencar dilakukan Pemko Batam. Tanpa destinasi wisata baru, maka upaya pelebaran jalan akan sia-sia. Ia mengakui bahwa pelebaran jalan ini sangat penting dalam mengembangkan pariwisata secara berkelanjutan.

“Saat ini, Kampung Terih di Batam sudah meraih predikat sebagai destinasi wisata terpopuler di Indonesia,” katanya.

Disamping upaya pemerintah, ternyata juga mendapatkan dukungan dari anak-anak muda kreatif. Contohnya adalah Tebing Langit di Sekupang, Batam yang lahir karena ide kreatif pemuda-pemuda setempat.

Lalu ada lagi Kampung Tanjung Uma Berpelangi. Tanjunguma bersolek dengan nuansa pelangi. Tampilannya penuh warna warni. Desain kampung pesisir Kota Batam itu, mengadopsi Kampung Jodipan di Malang, Jawa Timur. Idenya berasal dari penduduk lokal disana.

Even-even juga akan semakin ramai digelar. Untuk Desember ini, Buralimar mengatakan Diva Indonesia, Rossa akan tampil menghibur Batam pada 8 Desember mendatang. Setelah itu, acara tahunan Batam Cultural Carnival akan digelar pada 8 hingga 9 Desember.

“Bagi Kemenpar, Kepri itu sangat potensial sekali sehingga banyak proyek Kemenpar yang akan tertuju pada Kepri di tahun 2019 nanti. Dan kedatangan Rossa merupakan awal dari proyek tersebut,” ucapnya.

Buralimar mengatakan tahun ini dan seterusnya, Kemenpar telah memberikan target kunjungan wisman bagi Kepri sebanyak 20 persen dari target nasional. Sedangkan sisanya adalah Bali sebanyak 40 persen dan Jakarta sebanyak 30 persen. Dan selebihnya merupakan target dari provinsi-provinsi lainnya di Indonesia.

Terpisah, Ketua Batam Heritage Society Eddy Sooetrisno mengungkapkan bahwa pelebaran jalan yang dibangun memudahkan akses ke kawasan wisata baru yang potensial. Contohnya kawasan wisata di seputar Pulau Rempang dan Galang.

“Potensinya wisata di Rempang dan Galang itu besar, apalagi untuk mengembangkan wisata bahari berbasis ekologi. Contohnya snorkeling, fishing island, hopping, scuba diving dan potensi terbaru seperti yachting,” ungkapnya.

Pemerintah Kota (Pemko) Batam saat ini masih mengembangkan gugusan Pulau Abang yang berada di sekitar Pulau Galang sebagai kawasan konservasi laut.

Belum lagi jika membahas mengenai potensi wisata di Pulau Rempang dan Galang. Hingga saat ini, kawasan tersebut memiliki sejumlah pantai-pantai indah yang siap untuk dieksplorasi wisatawan, seperti Pantai Setokok, Pantai Melayu, Pantai Melur, Pantai Vio-Vio dan lainnya. Selain itu, masih ada destinasi wisata berbasis sejarah seperti Kampung Vietnam di ujung jembatan enam Pulau Galang.

Ia juga memberikan masukan kepada Pemko Batam agar mengembangkan Dendang Melayu sebagai pusat informasi wisata. “Nanti di dalamnya juga bisa dimuat mengenai sejarah Jembatan Barelang dan kalau perlu ada videonya. Jadi semacam visitor centre berpadu dengan tourism information centre,” sarannya.

Eddy yakin jika destinasi wisata digarap secara sungguh-sungguh, maka pariwisata di Kepri, khususnya Batam akan meningkat. Sehingga target tahun 2019 untuk mendatangkan wisawatan sebanyak empat juta orang per tahun bukanlah mimpi lagi.

“Idealnya dengan segala infrastruktur yang dimiliki Batam itu bisa mengakomodir wisawatan sebanyak tujuh juta orang detik ini juga. Jadi ini soal pengembangan destinasi wisata,” ucapnya.(*)

Loading...