Upaya penanganan tanggap darurat bencana tsunami di Pandeglang masih berlangsung hingga kini. Selain melanjutkan proses evakuasi korban, Aksi Cepat Tanggap (ACT) juga mulai mengaktivasi sejumlah posko dan dapur umum, Senin (24/12/2018).

Vice President ACT Ibnu Khajar menerangkan, posko kemanusiaan didirikan di empat titik yang terkena dampak bencana cukup parah. Keempat posko tersebut di antaranya Posko Induk dan Dapur Umum di Kecamatan Labuan, Posko Wilayah Sumur, Posko Wilayah Panimbang dan Tanjung Lesung, dan Posko Wilayah Anyer.

Loading...

“Aktivasi keempat posko ini untuk mempercepat penanganan tanggap darurat. Aktivasi ini juga dibarengi dengan pendirian dapur umum di posko induk serta pemberian layanan medis untuk korban bencana. Semua simultan dengan proses evakuasi yang masih berlangsung hingga kini,” kata Ibnu, Senin (24/12).

Lebih dari 50 relawan yang tergabung dalam Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) telah terjun di lokasi-lokasi terdampak bencana, bersama dengan Tim Emergency Response ACT. Ibnu memperkirakan jumlah relawan yang terlibat akan terus bertambah hingga 500 relawan, mengingat masih banyak warga terdampak yang membutuhkan pertolongan.

“Dengan empat posko yang diaktivasi, itu setidaknya membutuhkan 250-500 relawan untuk memastikan pendistribusian logistik dari setiap posko ke titik-titik pengungsi berjalan lancar. Tidak terkecuali penyediaan makanan siap santap di dapur umum. Dapur umum ini menjadi bagian yang penting karena masih banyak warga yang mengungsi di rumah-rumah penduduk di wilayah pegunungan, seperti yang saya kunjungi di Desa Sukarame, 7 km sebelum Puskesmas Carita,” imbuh Ibnu.

Sementara itu, tim medis mulai dikerahkan ke titik-titik terdampak tsunami untuk menjangkau korban luka yang belum mendapatkan penanganan medis. Ambulans Pre-Hospital juga diberangkatkan dari Jakarta untuk mendukung proses pemberian layanan medis di fase tanggap darurat.

“Kita berikhtiar cepat untuk merespons karena efek dari bencana tsunami di Banten cukup besar. Laporan dari relawan kita korban jiwa yang dievakuasi telah mencapai lebih dari 280 orang, ditambah lagi ribuan lainnya luka-luka,” ujar Ibnu.

Evakuasi berlanjut

Tim Emergency Response ACT bersama MRI dan tim SAR gabungan meninjau sejumlah lokasi yang terkena dampak tsunami paling parah seperti di Kecamatan Carita dan Sumur.

“Tim kami dibagi 2, satu ke Sumur, satunya lagi ke Carita untuk melanjutkan evakuasi di Pantai Carita dan Tanjung Lesung,” terang Kusmayadi selaku Komandan Emergency Response ACT, Senin (24/12).

Hingga Senin (24/12) pukul 07.00 WIB, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 281 orang meninggal dunia, 1.016 orang luka-luka, 57 orang hilang dan 11.687 orang mengungsi. Kerusakan fisik meliputi 611 unit rumah rusak, 69 unit hotel-vila rusak, 60 warung-toko rusak, dan 420 perahu-kapal rusak.

“Korban dan kerusakan ini terdapat di 5 kabupaten terdampak yaitu Pandeglang, Serang, Lampung Selatan, Tanggamus dan Pesawaran. Jadi, wilayah di Provinsi Banten dan Lampung yang berada di Selat Sunda. Daerah pesisir di Kabupaten Pandeglang adalah daerah yang paling banyak jumlah korban dan kerusakannya dibandingkan daerah lain,” terang Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam pernyataan tertulisnya, Senin (24/12). [*]

Loading...