batampos.co.id – Penyebab tsunami di Selat Sunda makin terang benderang. Berdasar hasil analisa tim gabungan, pemicunya adalah longsornya sebagian badan (flank/partial collapse) Gunung Anak Krakatau (GAK). Akibatnya, material vulkanis dalam jumlah besar tercebur ke lautan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendasarkan analisis mereka pada citra satelit. Tampilan citra satelit yang diambil pada 23 Desember 2018 setelah tsunami menunjukkan adanya potongan besar badan GAK yang hilang.
Gambar tersebut dibandingkan dengan citra satelit sebelumnya yang diambil pada 11 Desember 2018.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono mengungkapkan, pihaknya yakin tsunami yang melanda Selat Sunda disebabkan longsornya GAK.
“Material yang longsor seluas 64 hektare. Dari citra satelit, sangat jelas penampakan sebelum dan sesudah tsunami. Tampak ada area yang longsor,” jelasnya.
Material yang longsor itu, kata dia, menimbulkan getaran yang tercatat seismograf BMKG di Banten dan Lampung.
’’Dari hasil analisis BMKG, material longsoran itu setara dengan kekuatan gempa 3,4 skala Richter (SR),’’ ungkapnya.
Hingga saat ini, kapal tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) belum bisa mendekat ke GAK. Sebab, kondisi cuaca dan gelombang sangat berbahaya.
Dalam pernyataan resminya, PVMBG menyampaikan, tsunami di Selat Sunda merupakan kasus spesial. Jarang terjadi di dunia. Masih sangat sulit untuk memperkirakan kejadian partial collapse di sebuah gunung berapi.
Karena itu, sangat diperlukan pemantauan tsunami di tengah Selat Sunda. Baik dengan pemasangan peralatan pemantau seperti stasiun pasang surut di pulau sekitar GAK maupun pemantauan visual dengan penginderaan jauh.
Kepala Subbidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Barat PVMBG Kristianto menyatakan, untuk mengetahui potensi longsor di tubuh Gunung Anak Krakatau, diperlukan kajian mendalam.
’’Banyak faktor yang bisa mengakibatkan collapse selain faktor kemiringan lereng,’’ katanya.
Sementara itu, Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan berjanji segera menyelesaikan perpres terpadu penguatan sistem peringatan dini bencana. Saat ini perpres tersebut sudah masuk finalisasi.
’’Nanti minggu pertama atau kedua Januari 2019 kita duduk lagi. Nanti antara semua instansi terkait biar tuntas. Setelah itu, dibawa ke ratas (rapat kabinet terbatas yang dipimpin Presiden Jokowi, red),’’ ungkapnya kemarin.
Perpres tersebut akan memuat payung hukum, anggaran, dan pembagian tugas puluhan instansi penanganan bencana di tanah air. Juga, pembentukan sistem terpadu peringatan dini bencana.
373 Meninggal, 5.361 Mengungsi
Sementara proses pencarian dan evakuasi korban tsunami di Lampung Selatan dan Banten masih berlanjut. Jumlah korban terus bertambah. Hingga Senin (24/12) kemarin korban meninggal yang telah ditemukan sebanyak 373 orang, luka-luka 1.459 orang, dan korban hilang sebanyak 128 orang.
Kapusdatin dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan, beberapa daerah yang sebelumnya sulit dijangkau karena akses tertutup material hanyutan tsunami, sebagian sudah dapat dijaAngkau petugas.
”Hal ini menyebabkan korban baru terus ditemukan oleh petugas tim SAR gabungan,” kata Sutopo, Senin (25/12).
Dia mengatakan, jumlah korban dan daerah terdampak paling parah adalah pesisir Kabupaten Pandenglang.
”Daerah ini merupakan kawasan wisata dengan fasilitas hotel dan vila yang berderet di sepanjang pantai,” katanya.
Ditambah lagi, tsunami terjadi saat libur panjang sehingga banyak wisatawan menginap di hotel dan vila. Tidak adanya peringatan dini tsunami juga menyebabkan jatuh korban cukup banyak. Sebab, masyarakat tidak memiliki kesempatan untuk menghindar.
Sutopo mengatakan, jumlah pengungsi yang semula 11.453 orang, saat ini berkurang menjadi 5.361 orang. Berkurangnya pengungsi karena mereka kembali ke rumahnya.
”Kemarin mereka mengungsi karena isu tsunami susulan,” jelasnya.
Daerah di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, juga berhasil dijangkau petugas. Sebelumnya, akses terputus karena kerusakan jalan dan jembatan. Petugas dan alat berat sudah beroperasi di Sumur.
”Tercatat 36 orang meninggal dunia dan 476 orang luka di Sumur. Evakuasi akan dilanjutkan besok pagi,” jelas Sutopo.
Hingga kemarin, listrik di sebagian daerah masih padam. Sebanyak 125 gardu belum berfungsi. Semula ada 150 unit gardu yang padam. ”Perbaikan yang dilakukan kemarin tidak optimal karena ada isu tsunami susulan. Sebanyak 187 personel dan alat berat dikerahkan untuk memulihkan jaringan PLN,” kata Sutopo.
Sementara itu, Polri masih berupaya menembus daerah yang terisolir. Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menjelaskan, ada sejumlah kampung di sekitar Ujung Kulon yang terputus akses masuknya.
”Jalannya rusak akibat tsunami,” tuturnya. Hingga kemarin, sebanyak 303 personel Brimob masih berupaya menembus daerah yang belum tersentuh bantuan apapun itu. Dia mengatakan, targetnya secepatnya daerah itu bisa dibantu.
Yang juga penting dilakukan adalah menyelidiki kerusakan alat pendeteksi tsunami. Polda Banten bersama BMKG akan menelusuri peralatan mana yang mengalami kerusakan.
”Kita lihat posisinya alat dimana, perairan mana,” paparnya. Setelah itu, akan didalami kemungkinan kerusakan alat tersebut, apakah akibat alam atau manusia.
”Ini yang perlu diketahui,” terangnya di kantor Divhumas Polri kemarin. Dia menuturkan, Polri juga berupaya menjaga keamanan perayaan Natal di setiap gereja di Pandeglang.
”Kami tetap siapkan pasukan untuk di setiap gereja, walau lokasinya baru saja terkena tsunami,” ungkapnya.(tau/idr/oni/JPG)
