Maria Magdalena (lima dari kiri) , saat berziarah makam salah satu anggota keluarga di TPU Kristen, Jalan Industri, Ampenan Selatan, Kota Mataram, Selasa (25/12). (F. lALU MOHAMMAD/LOMBOK POST/jpg)

Sudah jadi takdir bangsa ini dibangun dari kemajemukan. Maka sebaik-baik perekat anak bangsa yakni toleransi dan penghormatan yang tinggi atas perbedaan.

LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram

PAGI beranjak siang. Kicau burung melemah di dahan ranting kamboja. Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kristen di Ampenan Selatan berangsur ramai. Selayaknya agama lain, di tradisi umat Kristen Mataram, juga ada ziarah makam. Di deretan makam sisi utara, Maria Magdalena duduk sambil memandangi salah satu pusara anggota keluarganya.


“Ini keponakan saya,” kata Maria sambil tersenyum. Wanita itu bertutur lembut. Ia tak keberatan berbagi cerita tentang keponakannya yang telah tiada. Kebetulan saat Lombok Post (grup Batam Pos) menyapanya, ia baru saja usai memanjatkan doa dan membakar lilin di atas keramik pusara. “Nama (keponakan saya) Teresia Teiseran,” imbuhnya.
Pusara itu yang terakhir yang ia kunjungi. Sebelumnya ia mendatangi pusara suaminya di sisi selatan kawasan TPU. Juga pusara-pusara keluarga lainnya.

Usai pulang dari ibadah Natal di salah satu gereja di Kota Mataram, Maria langsung memilih menyambangi anggota keluarga yang lebih dulu dipanggil sang pencipta. “Ada rasa rindu,” terangnya.

Semalam ia merayakan malam Natal lebih sendu dari biasanya. Suaminya tidak lagi bisa menemani Maria dan anak-anaknya berbagi kebahagiaan. “Saat mendiang suami masih ada, banyak teman-temannya datang berkunjung di malam Natal. Tapi tidak dengan tadi malam,” ungkapnya sendu.

Ia dan anak-anaknya hanya merayakan malam Natal dengan keluarga kecilnya. Teman-teman almarhum suaminya yang biasa ramai datang berkunjung, tentu membatasi diri demi meng-hindari bisik-bisik yang tiada guna. “Kalau tidak ada salah satu anggota keluarga atau teman yang biasa berkunjung tidak datang, pasti ada rasa sedih,” ungkapnya.

Beruntungnya, ia masih punya saudara yang peduli. Maria mengaku mulanya memeluk agama Hindu. Di ‘tengah jalan’ hidupnya ia ditemukan dengan tambatan hatinya yang beragama Katolik. “Saya pun ikut agama suami saya,” ujarnya.

Tapi Maria tidak sendiri pindah keyakinan, adiknya Ni Made Sarini yang sebelumnya memeluk agama orang tuanya yakni Hindu, memilih keyakinan baru, yakni Islam.
“Bahkan ada juga yang memilih keyakinan agama Bud-dha,” imbuhnya.

Maka lengkaplah dalam satu keluarga besar Maria, terdiri dari berbagai agama. Ada Hindu, Kristen Katolik, dan Budha. Perbedaan keyakinan itu tidak membuat hubungan keluarga mereka retak. Maria mengaku justru tali persaudaraan mereka sangat harmonis.
“Saat saya meraya-kan Natal, mereka datang dan menghibur saya,” ungkapnya haru.

Maria dan keluarga besarnya yang lain tidak pernah peduli dengan ‘berisiknya’ dan sibuknya orang di luar sana mempertajam perbedaan. Bagi dia, jangankan iman atau keyakinan yang sifatnya imajiner. Terletak pula di dalam lubuk hati yang dalam.

Wajah yang nyata dan bersifat fisik saja tidak bisa dihindari. Dan akan selalu berbeda satu dengan yang lainnya. “Kami tetap rukun, berkeluarga, dan bahagia,” tegasnya.

Ni Made Sarini yang mengganti nama menjadi Layan Sari kebetulan ada di dekat Maria. Wanita itu tampak teguh menggunakan jilbab dengan pakaian besar dan longgar di area pemakaman Kristen. Layan Sari pun ikut mengulum senyum mendengar penuturan saudara tuanya itu.

“Saya masuk agama Islam setelah menikah,” kata Sari membenarkan penuturan kakaknya. Ia dan anaknya datang pada malam Natal ke kediaman Maria. Lalu menemani saudaranya itu menikmati malam Natal. Bagi Sari dan anak-anaknya tidak ada masalah menginap di kediaman kakaknya.

Jika masuk waktu ibadah, sudah ada tempat khusus untuk salat. “Bisa juga ke mas-jid,” ujarnya. Bahkan saat ia ikut Maria berziarah ke kompleks Pemakaman Kristen, ia ikut berdoa bersama-sama untuk kebaikan keluarga yang ada di dalam pusara. Sari pun ikut berdoa untuk sanak keluarganya yang beda keyakinan.

Ditanya doa apa yang ia panjatkan pada keluarga yang berbeda keyakinan dengannya itu, Sari menegaskan itu doa yang baik pada Tuhan Sang Pencipta Alam. “Doa yang baik-baik,” ungkapnya.

Sari sendiri ikut senang. Dalam keragaman keyakinan keluarganya ia tidak pernah ikut larut dalam hiruk-pikuk. Orang-orang yang sibuk mempertajam perbedaan. Ia tetap merasa damai dan bahagia dalam keluarga besarnya. “Sisi baiknya kita jadi lebih banyak hari raya, ya hari bahagia,” ujar sembari tersenyum.

Saat Natal tiba, ia dan keluarga ikut Natalan di kediaman Maria. Pun sebaliknya saat nanti ia merayakan Idul Fitri, Idul Adha, atau hari besar umat Islam lainnya, keluarga lain yang berbeda keyakinan pun datang ke rumahnya. “Jadi kita saling mengunjungi yang ada hari besar dan punya momen bahagia lebih banyak,” terangnya.

Pagi menjelang siang itu, berangsur-angsur keluarga besar Maria dan Sari semakin banyak yang datang.

Mereka berpelukan dengan hangat dan berkirim doa bagi yang telah tiada. “Sebenarnya masih ada satu keluarga lagi yang belum datang yakni yang beragama Budha, tapi masih di Bali. Mungkin besok baru datang,” ujar Sari.

Setelah itu, Maria, Sari, dan keluarga besarnya akan kembali dalam kehidupan masing-masing dan keyakinannya. Bekerja dengan sebaik-baiknya dan berlomba-lomba beramal baik kepada sesama manusia.***

Loading...