batampos.co.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berupaya memperbaiki sistem peringatan dini di Selat Sunda. Upaya ini dilakukan untuk antisipasi adanya gelombang tsunami yang dipicu erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). Apalagi sejak Kamis (27/12) pagi status GAK dinaikkan dari level II (waspada) ke level III (siaga).

Kepala Bagian Humas BMKG Akhmad Taufan Maulana menuturkan yang saat ini dilakukan BMKG adalah mempersiapkan pemasangan tiga unit tide gauge. Alat tersebut dilengkapi dengan sensor yang fungsinya untuk mengukur perubahan muka laut secara mekanik dan otomatis.

BMKG berupaya tiga unit tide gauge itu dipasang segera.

’’Secepatnya. Januari bisa terpasang,’’ kata Taufan, Kamis (27/12). Dia menuturkan dengan adanya perangat tide gauge tersebut, diharapkan mampu membaca adanya potensi-potensi tsunami. Khususnya tsunami yang dipicu longsoran bawah laut maupun erupsi GAK.

Sementara itu Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono menuturkan BMKG terus memantau kondisi GAK. Apalagi status level gunung tersebut sudah dinaikkan dari level II ke level III.

’’Peringatan kewaspadaan potensi tsunami di wilayah pantai selat Sunda dalam radius 500 meter hingga 1 km masih tetap berlaku,’’ kata dia.

Peningkatan status Gunung Anak Krakatau dari level II (waspada) menjadi level III (siaga) karena ada peningkatan aktivitas. Data dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan semakin sering letusan gunung tersebut.

Jumlahnya sampai 14 kali letusan dalam satu menit. Sedangkan getaran yang dihasilkan letusan itu belum tercatat cukup besar.

Sekretaris Badan Geologi Kementerian ESDM Antonius Ratdomopurbo menuturkan bila dihitung dalam magnitudo getaran yang ditimbulkan dari letusan itu rata-rata M 0,5 hingga 1. Saat ini, seismogram atau alat yang di-pergunakan untuk merekam gerakan tanah milik badan tersebut didetailkan agar bisa menangkap getaran yang sangat kecil.

”Kalau 14 kali permenit itu magnitudonya 0,1 sampai 0,2, kecil banget kalau di seismogram. Jadi sebenarnya dari sisi magnitudonya itu tak ada apa-apa,” ujar Purbo di kantor Kementerian ESDM, Kamis (27/12/2018).

Letusan Gunug Anak Krakatau berjenis strombolian yang disertai lontaran lava pijar dan awan panas. Pada Rabu (26/12) terpantau letusan berupa awan panas dan surtseyan. Awan panas itu yang mengakibatkan hujan abu mengarah ke baratdaya. Ada juga yang mengarah ke timur menyebabkan hujan abu vulkanik tipis jatuh di Kota Cilegon dan sebagian Serang pada Rabu pukul 17.15 WIB.

Purbo mengungkapkan letusan saat ini memang belum bisa secara langsung memicu tsunami. Karena material lava yang keluar bersifat mengalir sehingga pelan-pelan masuk ke dalam laut.

Untuk mengetahui potensi longsor pada Gunung Anak Krakatau tidak terlalu mudah. Berbeda dengan di daratan, saat sebelum longsor terlihat ada indikasi seperti retakan pada tanah.

”Di situ ada juga begitu (retakan). Tapi kan kita tidak berani mendekat. Kecuali kita mau apalah mempercepat proses dari hidup ke mati,” tambah dia.

Sementara itu, menyusul peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK), AirNav Indonesia menerbitkan Notice to Airmen (NOTAM) nomor A5446/18, kemarin.

Dalam NOTAM tersebut, termuat sejumlah informasi mengenai sejumlah jalur penerbangan yang terdampak. Meski demikian, Corporate Secretary AirNav Indonesia, Didiet KS Radityo memastikan bahwa abu vulkanik Gunung Krakatau tidak mengganggu penerbangan.

”Pelayanan navigasi serta lalu lintas penerbangan berjalan aman dan normal,” katanya kemarin.

Ada tujuh jalur penerbangan yang terdampak. Penutupan dan Pengalihan jalur penerbangan dilakukan di wilayah yang terdampak sebaran debu vulkanik Gunung Krakatau.(wan/jun/tau/JPG)

Yuk Baca