Berpuluh tahun mengandalkan hidup sebagai nelayan dengan pendapatan serba pas-pasan, warga Kampung Tua Tanjungpiayu Laut kini terpacu mengubah keadaan. Ketika kampung di pesisir Pulau Batam itu ditunjuk menjadi Kampung Berseri Astra (KBA) Batam di wilayah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), secercah asa menjalari segenap warga untuk mewujudkan perubahan menuju kehidupan yang lebih sejahtera.

RATNA IRTATIK, Batam

Harinah, 63, menumpahkan keluh kesah penyakit yang dirasakannya kepada dokter Fajar dan dokter Puspa, dua dokter muda di hadapannya. Lansia warga Kampung Tua Tanjungpiayu Laut itu mengaku perutnya sering perih jika telat mendapat asupan makanan. Badannya yang mulai renta itu juga diakuinya sering lemah saat perutnya melilit.


“Telapak kaki saya juga sering sakit, susah digerakkan,” keluh Harinah, sembari mengangkat telapak kaki kirinya, yang kala itu tanpa mengenakan alas.

Pemeriksaan kesehatan dari Program KBA Batam untuk warga Tanjungpiayu Laut. f. ratna/batam pos

Dokter Fajar kemudian mendiagnosa Harinah menderita sakit magh. Terkait sakit di kakinya, dokter yang praktik di Puskesmas Seipancur, Kecamatan Seibeduk, Kota Batam itu menyimpulkan wanita lanjut usia (lansia) itu menderita sakit asam urat.

“Nenek kurangi makan sayur daun ubi ya, boleh makan tapi sedikit saja. Kacang-kacangan juga jangan dimakan dulu,” saran dokter Fajar. Harinah mengangguk.

Dokter muda itu kemudian menyerahkan tiga kantong obat kepada Harinah. Setelah diberi penjelasan jadwal minum obat, wanita yang rambutnya mulai memutih itu pamit, tak lupa ia mengucapkan terima kasih.

“Saya agak sakit, makanya periksa. Tapi sudah dikasih obat,” kata Harinah, yang kemudian pamit pulang karena mengaku sedang tak enak badan.

Ketika Harinah beringsut, giliran Saamah yang bergeser untuk duduk. Persis di hadapan dokter Puspa, ia menyodorkan lengan kanannya agar diperiksa tekanan darahnya. Beberapa menit berlalu, wanita berhijab itu didiagnosa menderita darah tinggi.

“Tekanan darah ibu 160/100, nanti minum obat ya, sekali saja sehari,” kata dokter Puspa usai melihat alat pengukur tekanan darah digital di hadapannya.

Saamah menerima obat yang diberikan. Ia tersenyum lalu pamit berdiri, keluar dari deretan tempat duduk. Ia kemudian menyalami Batam Pos yang telah menunggunya.

Saat itu, memang sedang diadakan pemeriksaan kesehatan rutin dan gratis bagi warga Kampung Tua Tanjungpiayu Laut yang digelar oleh PT Astra International Tbk melalui program Kampung Berseri Astra (KBA) Batam. Menggandeng tenaga medis dari Puskesmas Seipancur, acara itu diadakan di sebuah balai pertemuan kecil di depan rumah Saamah, yang berada di RT 01/RW 10 Tanjungpiayu Laut pada Sabtu (22/12/2018) lalu.

Saamah kemudian bertutur, kala itu dirinya tidak sedang merasakan sakit. Namun, ia tetap ingin memeriksakan diri.

“Saya periksa rutin saja, cek tensi darah mumpung gratis. Kata bu dokter agak tinggi, makanya saya dikasih obat,” katanya sembari menunjukkan bungkus obat dalam kemasan plastik berwarna biru di tangan kirinya.

Menurut Saamah, pemeriksaan kesehatan rutin dari program KBA di tengah-tengah permukiman warga pada tanggal 22 tiap bulannya itu dinilai sangat membantu masyarakat. Betapa tidak, warga yang tinggal di Kampung Tua Tanjungpiayu Laut tersebut sebelumnya memang tak bisa rutin menjangkau layanan kesehatan umum. Pasalnya, untuk bisa memeriksakan diri ke layanan medis dari pemerintah seperti Puskesmas Seipancur, warga harus menempuh perjalanan sekitar 7 kilometer (km) jauhnya.

“Yang benar-benar sakit atau yang tak kuat jalan saja yang dicarikan kendaraan lalu dibawa ke sana. Kalau yang cuma periksa-periksa biasa, bisa datang rutin ke sini,” tuturnya.

Selain faktor jarak, warga Tanjungpiayu Laut yang mayoritas menekuni pekerjaan sebagai nelayan, pilih melaut mencari ikan untuk menyambung hidup ketimbang harus pergi jauh untuk memeriksakan kesehatan ke Puskesmas. Sedangkan bagi kalangan wanita yang tak ikut melaut, biasanya tinggal di rumah mengasuh anak atau memasak. Namun, ada juga sebagian kaum wanita yang sudah berkeluarga dan ikut membantu suami melaut. Misalnya, membantu memasang bubu, alat tangkap ikan sederhana yang biasanya dianyam dari bambu.

Itulah sandaran hidup warga, meski hasil yang didapat tak seberapa, namun tetap dilakoni demi memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan, rutinitas itu yang menyita waktu dan perhatian sebagian besar warga, sehingga banyak yang kadang mengabaikan kesehatannya.

Karena itu, hadirnya pemeriksaan kesehatan di tengah warga Tanjungpiayu Laut setidaknya bisa memangkas jarak, sekaligus mendorong kesadaran warga untuk rutin memeriksakan dirinya. Tak heran jika kemudian Saamah menyebut dalam beberapa waktu terakhir, jumlah warga yang bersemangat memeriksakan diri ke layanan kesehatan yang diadakan KBA Batam terus meningkat.

“Ya karena periksa kesehatan di sini lebih mudah, dekat, gratis pula. Semua orang kan inginnya sehat,” ujarnya.

Selain pemeriksaan kesehatan rutin bagi kalangan lanjut usia (lansia) dan dewasa setiap tanggal 22 setiap bulannya, program KBA juga menghadirkan pemeriksaan kesehatan untuk bayi di bawah lima tahun (balita) dan anak-anak dengan mengadakan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) tiap tanggal 16 saban bulannya. Kegiatan ini selain bekerja sama dengan kader posyandu dari pemerintah, biasanya juga menggandeng lembaga pendidikan yang fokus di bidang kesehatan.

“Sudah beberapa waktu ini berjalan dan masyarakat yang punya bayi juga rutin periksa,” kata Saamah.

Tak hanya pemeriksaan kesehatan, pada momen tertentu, KBA Batam juga menggelar penyuluhan dan sosialisasi tentang kesehatan yang menyangkut suatu jenis penyakit. Misalnya, pada 21 Oktober 2018 lalu digelar diskusi tentang osteoporosis, sempena peringatan Hari Osteoporosis Dunia. Kemudian, pada pada Kamis 22 November 2018 digelar penyuluhan kesehatan tentang penyakit diabetes dan pentingnya menjaga kesehatan, juga sempena Hari Diabetes se-Dunia. Nyatanya, warga antusias menyambutnya.

“Dengan adanya kegiatan ini saya merasa senang dan terbantu, karena kami jadi lebih paham lagi untuk menjaga kesehatan,” ucap Kusmadi, 59, warga lain yang juga tinggal di RT 01/RW 10 Tanjungpiayu Laut.

Selain itu, pada 13 Oktober 2018 lalu juga diadakan acara penyuluhan kesehatan tentang pentingnya cuci tangan di SDN 002 Seibeduk, RT 01/RW 10 Tanjungpiayu Laut. Para murid sekolah itu juga diajak simulasi mencuci tangan agar tetap sehat.

Nurma (kiri) mendapat bimbingan tentang menghitung HPP dari pemilik usaha Bayam Edan Batam, Hafidz. f. instagram kba.batam

Selain kesehatan, program KBA Batam yang merupakan bentuk tanggung jawab sosial perusahan atau Corporate Social Responsibilty (CSR) dari grup Astra itu juga mendorong agar warga Tanjungpiayu Laut mengembangkan potensi yang ada melalui tiga pilar lainnya. Yakni, pengembangan ekonomi melalui kewirausahaan, mendorong peningkatan kapasitas diri melalui bidang pendidikan dan juga ikut menjaga lingkungan.

Misalnya di bidang pengembangan kewirausahaan. KBA Batam aktif memberikan pendampingan bagi pelaku atau perintis usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Tanjungpiayu Laut.

Jika sebelumnya warga Tanjungpiayu Laut mayoritas hanya mengandalkan pendapatan dari hasil melaut, lambat laun mulai banyak warga yang mencoba peruntungan dengan berwirusaha. Meskipun, dengan skala yang masih sangat kecil. Misalnya, berjualan keripik pisang, keripik peyek kacang, peyek teri, keripik royco original dan pedas, membuat kerajinan tangan dari cangkang gonggong yang merupakan siput laut khas perairan Provinsi Kepri, berjualan ikan asin dalam kemasan, dan beberapa jenis wirausaha lainnya.

KBA Batam kemudian mendukung pengembangan usaha tersebut. Selain memberikan pendampingan dengan mendatangkan pelaku usaha di Batam yang sudah lebih dulu sukses untuk berbagai ilmu dan memberi pengarahan, KBA Batam juga membantu memberikan bantuan usaha. Seperti, membuatkan kemasan produk yang lebih modern agar bisa masuk ke segmen pasar yang lebih luas.

Sebut misalnya, bantuan membuatkan kemasan untuk produk keripik pisang milik Rentina. Jika sebelumnya keripik pisang yang dijual Rentina hanya dikemas dengan plastik bening biasa, kini dengan kemasan bantuan KBA, tampilannya lebih modern dan enak dipandag.

Berbahan dasar aluminium foil di sisi belakang sedangkan bagian depannya plastik transparan, lengkap dengan tempelan merek dan tanggal pembuatan serta batas waktu kedaluwarsanya. Banana Chips Mrs Rentina, Kripik khas Tanjungpiayu Laut. Begitu bunyi label di bagian depan kemasan, lengkap dengan gambar keripik pisang goreng berwarna kekuningan. Sementara bagian atasnya, merupakan klip yang bisa dibuka tutup berulang kali.

“Sekarang memang lebih bagus kemasannya, semoga bisa terjual semakin luas di Batam ini,” harap Rentina, sembari menyiapkan pisang yang akan digorengnya menjadi keripik.

Menurut ibu dua orang anak tersebut, membuat keripik pisang adalah usahanya untuk membantu ekonomi keluarga. Karena sebelumnya, keluarga ini hanya menyandarkan hidup dari hasil kerja sang kepala keluarga, Edi, sebagai nelayan.

“Saya juga dulu kadang membantu suami melaut, saya bisa ikut pasang bubu,” ujarnya.

Namun, lambat laun, kebutuhan ekonomi meningkat. Maka terbersitlah keinginan untuk membuat sesuatu yang bisa dijual guna menambah pundi-pundi pendapatan keluarga. Hingga, ia memilih mengiris tipis pisang kepok dan dijadikan keripik pisang. Tak dinyana, keripik pisangnya diterima dan disukai warga sekitar. Permintaan meningkat. Bahkan, beberapa rumah makan khas makanan laut (seafood) yang mulai banyak berdiri di pesisir Tanjungpiayu Laut, juga menerima keripik pisang miliknya.

“Saya bersyukur sekarang ada pelatihan usaha dan juga bantuan kemasan dari KBA Batam. Warga yang berminat bikin usaha sampingan juga semakin banyak sekarang,” tuturnya.

Selain Rentina, warga Tanjungpiayu Laut lainnya yang juga merasakan manfaat dari hadirnya program KBA adalah Nurma. Ia adalah pengrajin bunga hias dari cangkang gonggong. Nurma mengaku sudah beberapa kali difasilitasi KBA Batam yakni dipertemukan dengan mentor yang juga pelaku usaha dan sudah berpengalaman menjalani usaha. Salah satunya, Hafidz, pemilik usaha Oleh-oleh Keripik Bayam Edan Batam. Nurma mengaku diajari menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) agar kerajinan gonggong yang ia buat bisa mendapatkan keuntungan.

“Jadi nanti bisa membedakan, mana keuangan pribadi dan keuangan usaha,” kata Nurma.

Hal itu, sambung Nurma, juga penting lantaran pelaku usaha baru seperti dirinya kadang masih bingung bagaimana membedakan modal usaha dengan uang pribadi. Tak hanya itu, ia juga mengaku mendapat ilmu bagaimana agar produk yang dihasilkannya semakin terlihat estetik dan berkelas. Sehingga, pangsa pasarnya juga semakin luas.

“Sekarang tambah semangat. Mudah-mudahan nanti dibantu juga mencari pembeli lebih banyak,” harapnya sembari terkekeh.

Tak hanya di bidang ekonomi melalui kewirausahaan, gelora untuk mengubah hidup makin baik dan sejahtera juga menghinggapi warga Kampung Tanjungpiayu Laut yang ingin agar anak-anaknya kelak mendapatkan pendidikan yang layak. Lewat kerja sama antara Astra dengan Bank Permata, dihadirkan program beasiswa pendidikan KBA Batam bagi 35 anak warga Tanjungpiayu Laut. Tujuannya, untuk meningkatkan semangat belajar anak-anak di kampung tersebut. Untuk murid jenjang SD, tiap semester mendapatkan bantuan beasiswa Rp 480 ribu. Sedangkan siswa SMP dapat Rp 600 ribu per semester. Pembukaan tabungan beasiswa dilaksanakan di RT 02/RW 10 Kampung Tanjungpiayu Laut pada 30 Oktober 2018 lalu.

Kamariah, warga yang tinggal di RT 01/RW 10 mengaku sangat senang dan terbantu dengan adanya program beasiswa pendidikan dari KBA Batam. Dengan itu diharapkan bisa membantu anak-anaknya mendapatkan akses pendidikan yang lebih baik ke depannya.

“Terima kasih banyak atas beasiswanya. Semoga anak-anak kami bisa terus sekolah tinggi,” tutur wanita 49 tahun tersebut.

Supriadi dan tim Relawan Nusantara ikut gotong royong membersihkan lingkungan tempat tinggal warga di Tanjungpiayu Laut. f. instagram kba.batam

Sementara untuk kehidupan sosial kemasyarakatan, KBA Batam juga ikut mendorong masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan tempat tinggalnya. Hal itu disambut baik masyarakat Tanjungpiayu Laut. Beberapa waktu lalu, warga mau bekerja sama dan bergotong royong membersihkan lingkungan.

Seperti, pada 2 Agustus 2018 lalu diadakan gotong royong membersihkan rumput dan membuat aliran air di sekitar tempat tinggal warga, khususnya di sekitar lapangan RT 01/RW 10. Sekitar 15 orang hadir di acara itu. Ada yang membabat rumput gajah yang tumbuh tinggi, namun ada juga yang mencangkul dan membuat aliran air menuju parit.

Bahkan setelah itu, pada Sabtu (30/9/2018), KBA Batam juga memfasilitasi gotong royong membersihkan kampung dan membuat mini garden di Tanjungpiayu Laut. Acara yang dilaksanakan dari pagi hingga sore hari itu juga dibantu tim dari Relawan Nusantara sebanyak 19 orang serta unsur dari warga dan perangkat RT 01 dan 02/RW 10 Tanjungpiayu Laut.

“Kami bersyukur karena banyak yang peduli dengan lingkungan tempat tinggal kami. Warga juga makin kompak gotong royong,” kata Yanto, warga RT 01 Tanjungpiayu Laut.

***

Semangat Mengejar Ketertinggalan

Kampung Tua Tanjungpiayu Luat berada di ujung timur Pulau Batam. Meskipun masih satu daratan dengan pulau utama (mainland) Batam, namun perkembangan kampung ini tidak terlampau pesat seperti wilayah lain di Batam.

Sejak Batam dikembangkan pemerintah pusat dan kemudian dibentuk Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam atau yang lebih dikenal dengan Otorita Batam pada awal tahun 1970-an, pulau yang berhadapan langsung dengan negara tetangga, Singapura ini memang mengalami kemajuan pesat. Puluhan kawasan industri dibangun. Ratusan investor yang mayoritas dari luar negeri berduyun-duyun masuk dan membangun pabrik di Batam.

Pemerintah bahkan menetapkan Batam sebagai kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas atau free trade zone (FTZ). Artinya, diberlakukan kebijakan penghapusan bea masuk dan pajak dalam perdagangan internasional. Dengan begitu, barang-barang dari luar negeri yang masuk ke Batam tidak dikenakan beberapa jenis pajak. Seperti, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) maupun Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM).

Pertumbuhan Batam kian moncer dari tahun ke tahun. Seiring kemajuan tersebut, jumlah penduduk juga terus meningkat. Itu karena, jumlah pendatang dari berbagai daerah lain di Indonesia yang mengadu nasib ke kota ini juga tinggi. Beberapa kawasan kemudian ikut berkembang, baik sebagai kawasan perdagangan yang ramai seperti di Jodoh dan Nagoya, kawasan wisata terpadu dan resort di Nongsa, maupun berdirinya kawasan perumahan elite di sekitar Batam Center.

Namun ternyata, derap kemajuan ekonomi di pusat Kota Batam tak selaras dengan yang terjadi di beberapa kawasan pesisir. Salah satunya di Kampung Tua Tanjungpiayu Laut ini.

“Karena akses jalan dari sini langsung ke Batam dulu tidak ada. Jalan yang menghubungkan sekarang ini, baru dibangun sekitar tahun 2003, sebelumnya itu (akses jalan) hutan belantara,” tutur Ketua RT 02/RW 10 Kampung Tua Tanjungpiayu Laut, Budiyanto.

Dulu, ia mengenang, warga Tanjungpiayu Laut yang hendak pergi ke Batam biasanya menaiki sampan atau perahu kecil menuju dermaga kecil berupa jembatan pelantar dari kayu di kawasan Telaga Punggur, Kecamatan Nongsa, Kota Batam. Dari sana, warga melanjutkan perjalan darat ke tempat yang dituju di Batam.

“Itulah kenapa kami lambat berkembangnya. Baru sekitar 10 tahun ini kami bisa cepat menuju ke Batam,” tuturnya.

Selain itu, sambung Budi, mayoritas warga Tanjungpiayu Laut masih mengandalkan hidup dengan bergantung pada laut, yakni sebagai nelayan. Namun, penghasilan sebagai nelayan tak menentu. Terlebih, saat musim angin kencang atau cuaca buruk melanda. Seperti, saat musim angin utara. Saat musim ini datang, ombak tinggi menerjang. Biar selamat, nelayan pilih menepi dan menambatkan perahu. Pendapatan pun tak menentu lagi. Begitu roda perputaran ekonomi warga pesisir Tanjungpiayu Laut sebelumnya.

“Makanya, ketika program KBA Batam itu datang dan memilih kampung kami, tentu kami sangat senang. Apalagi, ada juga program untuk mengembangkan kewirausahaan, yang bisa jadi alternatif kami menyambung hidup selain sebagai nelayan,” jelas Budi.

Selain itu, Budi juga berharap agar program lain yang dicanangkan KBA Batam makin melecut semangat warga untuk terus meningkatkan kapasitas dan kualitas hidupnya. “Tentu kami ingin maju seperti daerah lain, mengejar ketertinggalan lewat program Astra ini,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Lurah Tanjungpiayu, Syamsul Rizal. Menurutnya, program KBA Batam untuk warga Kampung Tanjungpiayu Laut sangat bermanfaat. Pasalnya, empat pilar program yang dilaksanakan KBA Batam di kampung tua itu mampu menggerakkan sekaligus memberikan dorongan agar warga bisa hidup lebih sejahtera.

“Misalnya untuk pelatihan kewirausahaan, saya minta warga menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya sehingga muncul pengusaha-pengusaha baru yang bisa menggerakkan roda perekonomian,” kata Syamsul.

Bahkan, Syamsul juga berharap agar perusahaan-perusahaan lain di Batam mau ikut berkontribusi seperti yang dilakukan PT Astra International Tbk melalui program KBA. Terlebih, di Kecamatan Seibeduk yang juga merupakan satu kecamatan yang sama dengan Kampung Tanjungpiayu Laut, terdapat banyak perusahaan asing. Misalnya, di kawasan industri Batamindo, Mukakuning.

“Kita berharap agar perusahaan di wilayah Seibeduk mau peduli dengan menyalurkan CSR-nya untuk warga kami,” harapnya.

Sementara itu, Fasilitator Program KBA Batam, Supriadi mengatakan empat pilar KBA yakni kesehatan, pendidikan, lingkungan dan kewirausahaan sudah dijalankan semua di Kampung Tanjungpiayu Laut. Supri, panggilan akrabnya, juga melihat dan merasakan semangat warga Tanjungpiayu Laut untuk memperbaiki kualitas hidupnya juga kian meningkat seiring waktu.

“Tentu kami akan terus mendorong sehingga target agar warga Kampung Tanjungpiayu Laut bisa semakin sejahtera itu insyaallah bisa terwujud,” katanya.

Bahkan, Supri berharap Kampung Tua Tanjungpiayu Laut ini bisa berkembang dan menjadi kampung wisata di Batam. Mengingat, potensi yang dimiliki kampung ini cukup banyak. Antara lain, berada di pinggir laut dan suplai makanan laut juga cukup banyak sehingga bisa dijadikan destinasi wisata kuliner seafood unggulan di Batam.

“Saat ini kan sudah ada beberapa rumah makan dan investor yang membangun restoran seafood tepi laut di dekat sini, kita harapkan itu terus berkembang sehingga banyak yang datang ke wilayah ini,” ujar Supri.

Namun, ia ingin agar tak hanya kuliner saja yang diandalkan jika Tanjungpiayu Laut telah jadi kampung wisata. Namun juga, bisa memiliki dampak luas dan melibatkan masyarakat dalam pengembangannya. Ia mencontohkan, masyarakat bisa ikut menata kawasannya sehingga pemandangan ke tepi laut juga makin indah dan menarik. Selain itu, bisa dikembangkan juga untuk wisata memancing, dipadu atraksi budaya dan lain sebagainya.

“Nah, nanti masyarakat juga bisa menyediakan homestay. Nanti pelan-pelan program kita juga akan mengarah ke sana,” tutupnya. ***

Loading...