(Jawa Pos)

DI hadapannya, seorang remaja pria ingin tahu cara menyeduh kopi. Sedangkan di ”seberang sana”, melalui perantaraan aplikasi percakapan di ponsel, ada calon pembeli saksofon yang juga harus dia layani.

Namun, Risma tetap bisa membagi perhatian dengan baik. Kepada si remaja pria, dengan telaten dia menjelaskan cara menggiling kopi. Juga, bagaimana memainkan rasio kopi dan air serta teknik menggunakan pour over.

Loading...

Saat sang tamu mulai mempraktikkan yang dia ajarkan, tangannya dengan cekatan membalas percakapan si calon pembeli. Menjelaskan dengan detail berbagai hal yang terkait dengan saksofon yang akan dibeli.

”Saya ingin urip iku urup (hidup itu harus bermanfaat bagi orang lain, red). Berbisnis dengan menjadikan konsumen sebagai teman,” ujarnya.

Begitulah cara Ardhaseta Risma-yudha, nama lengkap Risma, menjalankan Rumah Tiup. Ramah, terbuka, dan tak pelit berbagi ilmu dengan siapa saja.

Di rumah yang terletak tak jauh dari Malioboro, Yogyakarta, tersebut, siapa saja bisa mengenal lebih dekat berbagai alat tiup. Sekaligus belajar menyeduh kopi atau sepeda. Risma yang lekat dengan turban itu dengan senang hati akan melayani.

Penampilan Risma nyentrik. Kata orang-orang yang mengenalnya, dia nyaris tak pernah lepas dari turban yang melekat di kepalanya. Senang pakai kemeja dengan dua kancing atas sengaja dibuka. Seperti gaya Raja Dangdut Rhoma Irama.

Sejak 2011, Risma mengelola Rumah Tiup Tina. Rumah itu sebenarnya peninggalan neneknya. Sengaja dilestarikan untuk menyambung hobi orang tuanya: mengoleksi berbagai alat musik tiup.

Ayah Risma, Prihardianto, dan ibunya, Valentine Sriyu-niati yang biasa dipanggil Tina, kolektor alat musik tiup sejak ’80-an. Koleksinya kini sudah tembus ratusan.

”Awalnya mengenal alat musik tiup karena dulu saya sering diminta ibu untuk membantu servis. Kebetulan, keluarga kami juga menerima servis alat musik tiup,” kata Risma.

Ayah dan ibunya kini tinggal di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur. Sementara itu, Risma dan istrinya, Franxisca Rina Noviyanti, tinggal di Yogyakarta.

Rumah Tiup Tina menempati sebuah bangunan sederhana. Arsitektur bangunannya khas rumah kampung pada umumnya. Beberapa bagian bahkan sengaja hanya diplester tanpa dikeramik. Meskipun begitu, bagi penggemar alat musik tiup, rumah itu bak museum sekaligus studio.

Berbagai alat musik tiup ada di sana. Misalnya saksofon. Hampir semua merek ada. Yang langka, antara lain, Alto Yanagisawa (Jepang), Tenor Werklang (Jerman Timur), serta Tenor Selmer dan Saxo C Melody Carl Fisher (keduanya dari Amerika Serikat).

”Saya ingin mewujudkan cita-cita ayah membuat museum dan pusat edukasi alat musik tiup,” tutur Risma.

Juga ada kiowa dari Amerika Selatan, quena (Peru), tin whistle (Irlandia), ocarina (Korea), dan suling Bali, suling Batak, serta toleat dari Subang.

Oleh Risma, rumah itu sengaja didesain untuk memungkinkan pengujian alat musik tiup. Misalnya, ada ruangan yang sengaja dide-sain sebagai studio, stage, dan living room.

”Jadi, orang yang datang bisa mencoba. Misalnya, saksofon itu kalau dimainkan di studio, stage, dan living room, bedanya seperti apa,” ujarnya.

Sejumlah alat tiup di Rumah Tiup Tina sengaja dijual. Biasanya, yang dijual seri-seri baru. Yang Risma punya beberapa buah. Bukan hanya alat musik tiup, Risma juga menyediakan peranti-peranti pendukung. Misalnya, mouthpiece saxophone.

Sekitar satu jam koran ini singgah di Rumah Tiup Tina. Ada saja orang yang datang untuk bertransaksi. Misalnya, dua driver ojek online yang mengambil barang pesanan orang. Ada juga anak muda yang datang langsung untuk mengambil saksofon yang selesai diservis.

Di rumah itu, Risma juga kerap melayani kursus gratis belajar alat musik tiup. ”Sering orang datang ke sini untuk belajar. Tak ajarin (saya ajari, red) gratis agar orang tak skeptis terhadap alat musik tiup,” ujar lulusan Jurusan Akuntansi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) itu.

Risma memang sudah lama bergelut dengan saksofon dan alat musik tiup lain. Namun, sebenarnya dia tak berniat mencari uang dari sana.

Dia pernah sempat benar-benar jauh dari alat musik tiup. Tepatnya ketika Risma bekerja sebagai pegawai di Jakarta.

Suatu ketika Risma jenuh dengan pekerjaannya. Padahal, versi Risma, posisinya saat itu sudah lumayan. Risma yang sudah menikah dan tinggal di Jakarta ingin pulang kampung ke Yogyakarta.

Apalagi, saat itu neneknya baru saja meninggal. Rumah nenek yang sudah dibeli ayahnya tersebut kosong. Rumah itulah yang kini dijadikan Rumah Tiup Tina. Singkat cerita, pasangan tersebut kompak pindah dari Jakarta. Risma resign dari pekerjaannya. Sedangkan Rina minta mutasi.

Kepada siapa pun yang datang, Risma tak segan untuk membagikan ilmu yang dipunya. Tak peduli mau beli alat musik tiup atau tidak.

Ilmu yang dibagikan juga tak sekadar soal alat musik tiup, tapi juga teknik menyeduh kopi dan pengetahuan tentang sepeda. Kebetulan, dua hal itu juga menjadi hobi Risma.

Totalitas Risma mempelajari kopi patut diacungi jempol. Dia tak membuka kedai kopi, tapi peralatan kopinya tergolong lengkap. Peralatan seduh manualnya aneh-aneh.

Bisa dikatakan mahal untuk ukuran penghobi kopi rumahan. Misalnya, untuk grinder kopi manual, Risma punya Lido Espresso Orphaned. Harganya sekitar Rp 3 juta.

Juga ada alat pembuat espresso manual yang bernama espresso forge. Dia beli waktu pembuatnya masih memproduksi alat itu dalam bentuk prototipe. Belum dijual secara komersial. Harga alat itu di pasaran kini sekitar Rp 8,6 juta. Termasuk jarang dijual di Indonesia.

Seperti saat diminta untuk menjelaskan berbagai saksofon, Risma juga asyik saat diajak ngobrol soal kopi. Orangnya terbuka.

Pendapatnya soal penyeduhan dan cita rasa kopi juga logis. Tak seperti beberapa orang yang memaksakan pendapatnya soal teknik penyeduhan tapi tidak bisa menerangkannya secara logis.

Totalitas yang sama ditunjukkan Risma pada hobinya, bersepeda. Dia selama ini lebih menekuni hobi bersepeda touring.

Hampir setiap hari kalau tidak hujan dia berangkat ngepit dari rumahnya di Nge-losari Turi, Sleman, ke Rumah Tiup Tina. ”Jaraknya sekitar 22 km,” ujar Risma.

Di bagian belakang Rumah Tiup Tina, diparkir sejumlah sepeda touring. Antara lain, Surly dan Cargo Minivelo. Ada juga sepeda lipat kekinian Brompton. Tembok yang mengitari penuh dengan tool sepeda.

Waktu terus berjalan. Si remaja pria yang belajar menyeduh kopi telah pulang. Chat di ponsel juga sudah selesai. Namun, ngobrol bareng Risma seperti tak ada habisnya. Susah ngeremnya. Saking asyiknya.(*/c11/ttg)

Loading...