Sejak Kamis, 05 Januari 2019 saya resmi memiliki akun Instagram pribadi. Bahasa karibnya IG. Bagi kebanyakan orang, IG memang bukan barang baru. Bahkan, sudah menjadi kebutuhan. Setiap buka hape, pasti buka IG. Entah bikin status. Atau cuma sekadar menengok status teman.

Sebenarnya, saya termasuk orang yang tidak begitu menggemari IG. Penyebabnya, karena saya sudah mengoperasikan media sosial (medsos) lain. Ada Facebook, Twitter, dan Linkedin.

Lalu, kenapa saya membuka IG? Salah satunya karena tekanan. Banyak yang mendesak agar saya membuka akun IG. Sambil mengejek, rekan-rekan dan relasi menyampaikan alasannya.


Ternyata sepele. Gara-gara saya menjabat sebagai Direktur Utama PT Batam Multimedia Korporindo selaku operator media online batampos.co.id. Anak perusahaan Harian Pagi Batam Pos yang beroperasi di jagat dunia maya.

Karena ngomongin dunia maya, sudah barang tentu IG menjadi bagiannya. “Lah, pegang perusahaan online tapi tidak punya IG,” begitu rata-rata komentar mereka yang “mengejek” saya.

Ah. Akhirnya saya bikin IG. Ikuti semua prosedurnya. Simsalabim. Akhirnya punya akun. Unggahan pertama saya adalah foto keluarga. Saya bersama istri dan ketiga anak saya. Lalu, satu per satu foto anak-anak saya, diunggah.

Jreng…. Biar kelihatan punya teman, saya follow IG melalui contact person di hape saya. Dan akhirnya, beroperasilah IG atas nama @gunturmarchista. Hahahaha…

Sekarang, saya harus disibukkan dengan aktivitas lain. Mengelola IG pribadi. Agak berat memang. Tapi mau tidak mau saya jalankan. Daripada nanti “diejek” enggak melek teknologi. Kwakakakakak

Mirip dengan produk jurnalistik. Menulis status di medsos juga harus menerapkan asas cover both side. Tidak boleh sembarangan. Apalagi menjurus pada hoaks. Bisa kena Undang-undang (UU) ITE.

Tapi biarlah. Yang pasti saya melanggar komitmen. Tapi istri saya meyakinkan bahwa komitmen yang dilanggar demi kebaikan. Kalau mengelola bisnis online, harus menguasai semua hal yang berbau dunia maya.

Setidaknya penjelasan istri bisa membuat saya agak lega. Melanggar komitmen demi kebaikan diri sendiri. Ya, sambil belajar mengoperasikan “mainan” baru bernama IG. Sembari menjalani rutinitas sehari-hari dan mengoperasikan medsos pribadi lainnya.

Memang, tanpa kita sadari hidup berubah begitu cepat. Tahun berganti, lahir pula sesuatu yang baru. Perkembangan teknologi tidak bisa kita bendung lagi. Tak bisa pula kita adang.
Hanya, tergantung kita saja bagaimana menyesuaikannya. Apakah bersedia dikalahkan zaman, ikut arus perubahan zaman, atau menyesuaikan dengan setiap kondisi zaman.

Yang penting bagi saya, semangat untuk maju, berkembang, dan berkarya tidak boleh oleh perkembangan zaman. ***

Loading...