batampos.co.id – Nilai tukar rupiah hingga akhir perdagangan Senin (7/01) mempertahankan penguatan atas dolar AS. Berdasarkan data dari bloomberg rupiah ditutup menguat 187 poin atau 1,31 persen ke posisi 14.082 per dolar. Pergerakan harian rupiah tercatat Rp 14.021-14.184 per dolar AS, pembukaan berada di level Rp 14.177/dolar AS.

Ekonom Maybank Myrdal Gunarto mengatakan jika tren penguatan terus berlanjut rupiah bisa menguat ke range level Rp 13.700-Rp 14.000. Rupiah diperkirakan akan melanjutkan tren penguatan didorong oleh arus masuk uang asing seiring dengan aksi investor global yang kembali masuk ke pasar keuangan negara berkembang.

Loading...

“Yang memiliki imbal hasil menarik dan valuasi bagus, dengan latar belakang ekonomi yang cukup stabil dan solid,” paparnya.

Beberapa hari terakhir, rilis data ekonomi global mengecewakan dan imbal hasil obligasi AS semakin turun karena ekspektasi kenaikan bunga The Fed yang lebih longgar.

Foreign inflow dari hasil lelang Surat Utang Negara (SUN) pemerintah juga berdampak positif pada penguatan Rupiah nantinya,” imbuhnya.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan menguat mengikuti tren tersebut. Beberapa sektor yang perlu diperhatikan adalah sektor keuangan, infrastruktur dan consumer goods.

Hal Senada disampaikan Ekonom Indef Bhima Yudhistira. Ia mengungkapkan faktor perkasanya rupiah bisa dilacak dari pelemahan ekonomi global di AS dan Tiongkok membuat investor memindahkan dananya ke negara berkembang.

Sebagai indikator dolar AS melemah terhadap hampir seluruh mata uang dominan lainnya. Dolar index menurun -1,25 persen dalam sebulan terakhir sehingga berada di level 96. Kondisi ini mirip dengan post krisis global 2008.

“Di mana resesi AS menjadi berkah bagi negara berkembang karena masuknya capital inflow yang cukup deras,” jelasnya.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah mengatakan rupiah menguat diwarnai optimisme atas prospek hasil negosiasi kesepakatan sengketa dagang AS dan Tiongkok. Serta perubahan sikap Chairman FOMC The Fed atas lintasan suku bunga AS ke depan.

Tidak seperti sebelumnya yang tegas akan menaikkan suku bunga dua kali di 2019, paska jatuhnya harga saham di AS, The Fed menyiratkan akan lebih fleksibel. Proses normalisasi kebijakan moneter pasca krisis 2018, sejak Desember 2017 the Fed dalam proses melepaskan kembali surat surat berharga yang diterbitkan swasta.

Dibeli The Fed untuk mengtasi krisis keuangan 2008/2009. Tengah terjadi penarikan likuiditas dari sistem keuangan. Surat berharga milik swasta yang ada pada neraca The Fed sampai saat ini baru turun ke 3.86 triliun dolar AS per Januari 2018, dari 4,2 triliun dolar AS yang bertahan sejak Januari 2014.

ilustrasi

Berbagai indikator manufaktur di Eropa dan Tiongkok semakin menunjukkan kemerosotan, mengindikasikan perang dagang menimbulkan efek negatif. Kesepakatan perang dagang, perubahan sikap The Fed, dan berbagai perkembangan data ekonomi  tersebut mendorong terjadinya pelemahan nilai tukar USD secara broadbase.

Meski rupiah saat ini menguat, pengusaha tetap waspada terhadap volatilitasnya. Pasalnya, ketidakpastian masih bisa terjadi. Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, sikap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump masih akan banyak memengaruhi aliran dana yang pada akhirnya menjadi penentu pergerakan nilai tukar.

Faktor perang dagang adalah sentimen utama yang dapat keluar dari mulut Trump. Di samping itu, meski tekanan dari The Fed sedikit mereda, namun kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga acuan masih ada. Untuk itu, Shinta menyarankan agar pengusaha tak hanya tergantung pada mata uang dollar AS (USD) saja.

Mata uang lain yang bisa menjadi pilihan misalnya yuan Tiongkok. Mata uang tersebut sudah semakin banyak diperdagangkan sebagai upaya diversifikasi.

“Menurut saya, daripada kita hanya bertapak dengan apa yang akan terjadi, kita punya solusi-solusi penggunaan mata uang asing lainnya dalam kita bertransaksi secara bilateral,” ucapnya.

Selain itu pengusaha juga didorong untuk menggunakan mata uang lainnya, misalnya ringgit Malaysia dan baht Thailand. Sebab BI juga telah bekerja sama dengan bank-bank sentral Malaysia dan Thailand dalam hal bilateral swap ini. Dengan semakin banyaknya mata uang lain selain dolar AS di pasar, maka kurs rupiah terhadap dolar AS akan lebih stabil. Shinta berharap rupiah dapat terus menguat dan stabil sementara ini di level Rp 13 ribu per dolar AS.

Sementara itu, BI dan pemerintah telah menyepakati kerja sama pemanfaatan informasi devisa terkait kegiatan ekspor dan impor melalui Sistem Informasi Monitoring Devisa Terintegrasi Seketika (Simodis). Simodis akan mengintegrasikan aliran dokumen, barang dan uang melalui dokumen ekspor dan impor. (nis/rin)

Loading...