batampos.co.id – Program kampanye imunisasi measles (campak) dan rubella (MR) telah selesai pada akhir tahun lalu. Indonesia sendiri telah melakukan kampanye sejak 2017, hasilnya pencapaian secara nasional hanya 87,33 persen. Jumlah tersebut merupakan rekapan dari kampanye di Jawa dan luar Jawa.

”Capaian imunisasi yang ada di luar Jawa mencapai 72,70 persen,” ungkap Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Anung Sugihantono, Selasa (8/1).

Loading...

Di luar Jawa ada 256 kabupaten kota yang cakupan imunisasinya di atas 95 persen. Namun, masih ada 71 kabupaten/kota yang cakupan kurang dari 50 persen. Meski demikian, menurut Anung, pekan lalu WHO mengapresiasi totalitas Indonesia dalam capaian kampanye imunisasi MR.

Selama kegiatan kampanye hingga 31 Desember lalu, hanya ada satu kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI). Kejadian yang terjadi di Papua itu adalah anafilaksis atau alergi berat. Namun, Anung membantah jika penyebab satu-satunya adalah vaksin.

”Adanya komponen lain yang jadi satu kesatuan,” bebernya.

Meski kampanye MR disudahi, Kemenkes tetap menye-diakan layanan imunisasi tersebut melalui fasilitas kesehatan terdekat. Anung menyebut jika setelah ini, nama yang digunakan untuk layanan bukan lagi MR atau measles rubella melainkan campak dan rubella.

ilustras imunisasi
foto: batampos.co.id / cecep mulyana

Imunisasi ini diklaim dapat menurunkan angka kejadian campak dan rubella. Sebagai contoh pada Januari 2017 mencapai 449 orang, dan rubella mencapai 147 orang. Kejadian mewabah lagi pada Juni 2017 mencapai 98 orang dan rubella mencapai 143 orang.
Namun pada bulan selanjutnya menurun. Pada Agustus, kasus campak mencapai 52 orang dan rubella 34 orang, sementara. Hingga Desember lalu, menurut catatan Kemenkes terdapat enam kasus campak  dan orang yang terkena rubella.

Masih adanya daerah yang belum 95 persen berhasil mengimunasi anak-anak, menyebabkan risiko. Pasca kampanye ini, Kemenkes tengah melakukan pemetaan risiko potensi wilayah yang perlu diwaspadai penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I).

”Semua laporan kegiatan kampanye sudah disiapkan untuk diberikan kepada Ibu Menteri (Nila Moeloek, red) dan diberikan juga kepada Presiden, Kemendikbud, Kemendagri, Kemen-PPPA, KemenkoPMK, dan Kominfo. Agar sama-sama mendorong masyarakat melakukan imunisasi,” beber Anung.

“Karena belum semua RS di tingkat kabupaten/kota mempunyai tiga spesialis (spesialis mata, THT, dan jantung, red), inilah yang jadi tantangan kami ke depan dalam mengamati atau meminimalkan kejadian yang tidak diinginkan karena anak tidak diimunisasi,” katanya. Hal ini harus dicermati karena congenital rubella syndrome memerlukan perhatian setidaknya tiga spesialis tersebut. (lyn)

Loading...