batampos.co.id – Perusahaan jasa pengiriman ekspres, pos, dan logistik melakukan penyesuaian tarif pengiriman paket sejak awal 2019.

Kenaikan tarif tersebut dilakukan lantaran biaya operasional membengkak. Ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia (Asperindo) Jatim Ardito Soepomo menyatakan, biaya operasional meningkat signifikan sejak beberapa bulan terakhir. Karena itu, hampir seluruh penyedia layanan pengiriman memutuskan menaikkan tarif 10–20 persen.

Rata-rata kenaikan biaya operasional perusahaan jasa pengiriman 20–50 persen. Beberapa komponen mengalami kenaikan sehingga harus menyesuaikan. ’’Kenaikan itu berlaku untuk semua jenis pengiriman yang basis pengiriman menggunakan airlines,’’ jelasnya, Rabu (9/1/2019).

ilustrasi

Salah satu komponen dasar yang berpengaruh signifikan adalah tarif surat muatan udara (SMU) yang diberlakukan maskapai. Kenaikannya cukup besar jika dibandingkan dengan sebelum-sebelumnya. ’’Selama sebulan bisa naik dua kali,’’ ungkap Ardito.

Sebagaimana diwartakan, maskapai telah menaikkan tarif SMU pada Oktober 2018 lalu. Bahkan, ada beberapa maskapai yang menaikkan tarif hingga dua kali dalam sebulan.

Yang jelas, lanjut dia, kenaikan tarif SMU adalah salah satu komponen dasar. Sebab, untuk pengiriman ke luar pulau, yang tercepat adalah via udara.

’’Jika komponen dasar sudah tinggi, bagaimana lagi kami bisa bertahan kalau tidak mengikutinya,’’ paparnya. Sebagai contoh, biaya SMU untuk Surabaya–Jakarta dari Rp 2.900 menjadi lebih dari Rp 6.000.

Meski tarif SMU naik signifikan, hingga sekarang, permintaan layanan pengiriman belum terpengaruh. Menurut dia, permintaan pengiriman paket dari pelanggan masih normal. Selain mengandalkan pasar ritel seperti dari e-commerce, perusahaan jasa pengiriman memiliki pelanggan tetap dari kalangan korporasi. Saat ini sumbangan dari korporasi masih mendominasi.

’’Tiap perusahaan berbeda-beda, tapi untuk korporasi rata-rata 60 persen,’’ tuturnya.

Selain menempuh langkah menaikkan tarif, perusahaan jasa pengiriman berupaya menekan biaya operasional. Tiga komponen besar yang menyumbang biaya operasional selain transportasi ialah listrik dan UMR.

’’Hal-hal yang bisa diefisienkan akan dimaksimalkan. Efisiensi memang harus dilakukan di berbagai sektor, khususnya untuk menekan operational cost yang sangat tinggi,’’ kata Ardito. (res/c22/oki)

Yuk Baca