batampos.co.id – Neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit tajam sepanjang 2018. Pada periode Januari-November 2018, defisit perdagangan tercatat sebesar 7,51 miliar dolar AS.

Ekonom Senior Indef, Faisal Basri, menilai kinerja neraca perdagangan 2018 sebagai yang terburuk sejak Indonesia merdeka.

Loading...

“Sejak merdeka, defisit perdagangan hanya tujuh kali. Tahun 2018 defisit perdagangan terburuk sepanjang sejarah,” ujar Faisal di akun Twitter-nya, Kamis (10/1/2019).

Defisit perdagangan pernah terjadi di antaranya tahun 1945, 1975, 2012, 2013, 2014, dan 2018. Bila dilihat, defisit perdagangan 2018 yang paling parah.

Peneliti Indef, Bhima Yudhistira, menilai buruknya kinerja Neraca Perdagangan Indonesia karena beberapa faktor. Pertama, Bhima menyebut impor BBM naik signifikan karena harga minyak dunia sempat menyen-tuh level tertingginya di 70-80 dolar AS per barel dari April hingga pertengahan November 2018. Harga tersebut dinilai tertinggi sejak harga minyak dunia mulai terpukul pada 2014.

Pemerintah dan BUMN juga berkontribusi besar atas naiknya laju impor bahan baku dan barang modal pada proyek infrastruktur. Laju impor juga didorong oleh Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 22 Tahun 2018 tentang Ketentuan Impor Besi dan Baja.

Akibat Permendag 22, impor besi dan baja melonjak tajam sebesar 27,81 persen pada periode Januari-November 2018.

Lanjut Bhima, minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) yang merupakan ekspor unggulan Indonesia terpukul sepanjang 2018. Selain proteksi dari pasar AS, Eropa, dan India, produk CPO Indonesia mengalami dampak penurunan harga. Proteksi dan penurunan harga memicu nilai ekspor sawit (nonmigas) menurun sekitar 10,82 persen.

“Padahal CPO kontribusinya cukup besar terhadap total ekspor nonmigas. Harga CPO ambruk kinerja ekspor loyo. Di semester kedua efek perang dagang mulai berimbas ke ekspor komoditas lain karena Cina kurangi permintaan bahan baku,” jelasnya.

Pemerintah tak menampik maupun membenarkan defisit neraca perdagangan Indonesia selama tahun lalu merupakan yang terparah dibandingkan tahun-tahun yang lalu.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, tak seharusnya hal tersebut dibesar-besarkan. Masyarakat juga perlu melihat dari sisi defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) di tahun lalu yang diprediksi masih lebih baik dibandingkan 2014.

“Memang udah keluar (datanya)? Jangan digede-gedein,” ujar Darmin di kantornya, Jakarta, Rabu (8/1).

Darmin memproyeksi, CAD sepanjang tahun lalu hanya sekitar 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Sementara itu realisasi CAD di 2017 sebesar 1,7 persen dari PDB. Angka proyeksi CAD di 2018 sedikit lebih baik dibandingkan CAD sepanjang 2014 sebesar 3,09 persen terhadap PDB maupun sepanjang 2013 sebesar 3,19 persen terhadap PDB.

foto: batampos.co.id / dalil harahap

Target Ekspor Rendah

Pertumbuhan ekspor nonmigas tahun ini dipatok lebih rendah daripada 2018. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menargetkan pertumbuhan ekspor nonmigas 2019 mencapai 7,5 persen. Target tersebut turun 3,5 persen dari tahun lalu. Pada 2018 pemerintah membidik pertumbuhan ekspor nonmigas 11 persen. Namun, target itu meleset. Sebab, hingga November 2018, pertumbuhan ekspor nonmigas baru 7,5 persen.

’’Tidak tercapainya target pemerintah untuk pertumbuhan ekspor nonmigas tersebut disebabkan ketidakpastian perekonomian global. Itu terutama dengan tren perlambatan ekonomi dunia pada tahun ini,’’ ujar Enggar di kantornya, Jakarta, Kamis (10/1/2019).

Meski meleset, Mendag mengklaim target pertumbuhan ekspor nonmigas telah melampaui rencana kerja pemerintah (RKP) yang dipatok 5–7 persen.

Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor Januari–November 2018 meningkat menjadi 150,14 miliar dolar AS jika dibandingkan selama periode sama 2017 yang mencapai 139,7 miliar dolar AS.

’’Dengan pertumbuhan tersebut, pemerintah berhasil mempertahankan surplus neraca nonmigas di tengah ketidakpastian kondisi perdagangan global akibat efek perang dagang yang ditimbulkan AS,’’ urai Mendag.

Keputusan pemerintah untuk menetapkan target ekspor lebih rendah tahun ini, menurut Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), sudah sesuai dengan prediksi mereka. Apindo memprediksi kinerja ekspor nonmigas Indonesia pada 2019 tidak lebih baik daripada 2018 lantaran masih tingginya ketidakpastian di berbagai sektor, baik dari dalam maupun luar negeri.

Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani menyatakan bahwa pada 2019 tantangan terbesar muncul dari potensi berlanjutnya perang dagang antara AS dan Tiongkok. Hal itu kembali menimbulkan gangguan pada rantai pasok global yang pada akhirnya mengganggu kinerja ekspor nasional.

“Tantangan 2019 lebih berat,’’ ujarnya.(agf/c22/oki)

Loading...