foto: batampos.co.id / cecep mulyana

batampos.co.id – Masa angkutan Natal dan tahun baru sudah berakhir. Namun, harga tiket pesawat masih saja tinggi. Beberapa maskapai penerbangan bahkan menghilangkan fasilitas bagasi gratisnya.

Pantauan Batam Pos menunjukkan, kenaikan harga tiket pesawat dimulai pertengahan Desember 2018. Sebelum itu, tiket dari Batam ke Jakarta (Bandara Soekarno-Hatta) -di luar peak season- hanya Rp 650 ribu hingga Rp 800 ribu untuk kelas ekonomi. Namun saat dicek pada Jumat (11/1), harga tiket paling rendah Rp 1.030.000.

Jurusan Batam-Padang juga mengalami kenaikan signifikan. Selepas peak season, tiket nornal kelas ekonomi biasanya berkisar Rp 375 ribu hingga Rp 450 ribu, namun saat Batam Pos mengecek untuk keberangkatan pekan terakhir Januari, harga paling rendah Rp 750 ribu.


Harga tiket bervariasi, bergantung jam dan hari kebe-rangkatan. Rata-rata kenaikannya bisa lebih dari 50 persen. Selain itu, Lion Air dan Citilink kini tak lagi memberikan fasilitas bagasi gratis. Padahal, sebelumnya penumpang mendapat fasilitas bagasi gratis sampai 20 kg.

Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menyatakan, kenaikan tiket pesawat itu termasuk wajar jika dikaitkan dengan harga bahan bakar pesawat yang juga naik.

Namun, yang dia sayangkan, kenaikan harga tiket tersebut juga diiringi melambungnya biaya bagasi. ”Itu namanya kenaikan harga secara terselubung,” ucapnya.

Menurut Tulus, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) harus betul-betul memelototi kenaikan tersebut. Jangan sampai konsumen semakin dirugikan.

”Sudah banyak keluhan di media sosial yang saya lihat. Seharusnya sudah menjadi perhatian,” tuturnya.

Disinggung mengenai harga tiket pesawat yang melonjak, Ketua Bidang Penerbangan Berjadwal Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Bayu Sutanto mengklaim bahwa maskapai penerbangan masih mematuhi kisaran tarif batas yang ditentukan pemerintah.

”Harus dipahami, tiket pesawat domestik diatur oleh tarif batas atas (TBA) dan tarif batas bawah (TBB) yang tertuang dalam PM 14 Tahun 2016,” ujar Bayu, kemarin. INACA menaungi sekitar sepuluh maskapai penerbangan berjadwal. Termasuk Garuda Indonesia, Citilink, dan Air Asia.

Menurut Bayu, maskapai memiliki subkelas (subclass) yang berbeda-beda dalam menjual tiket. Subkelas mana yang dijual bergantung demand dan waktu atau periodenya.

”Jika permintaan sedang banyak, merupakan hal wajar jika harganya naik. Nanti kalau sudah low demand harga akan bergerak ke subkelas yang lebih murah sampai dengan TBB,” tambahnya.

Bayu memaparkan, sejak 2016 belum ada kenaikan TBA maupun TBB. Padahal, di sisi lain, pelaku maskapai harus menanggung biaya operasional yang naik setiap tahun.

”Komponen biaya seperti avtur, kurs USD, biaya bandara, dan navigasi sudah naik cukup besar,” urainya.

foto: batampos.co.id / cecep mulyana

Sekretaris Jenderal INACA Tengku Burhanudin menegaskan, range harga tiket pesawat saat ini masih mengacu aturan tarif batas atas. Tingginya harga tiket pesawat diduga Tengku sebagai akibat penyesuaian dengan permintaan yang masih tinggi sebagai buntut periode liburan Natal dan tahun baru. Khususnya arus balik ke sejumlah kota besar di Indonesia. INACA sendiri mempro-yeksikan periode peak season Natal dan tahun baru masih akan berlangsung hingga akhir Januari 2019.

Pemerhati penerbangan Alvin Lie juga menilai kenaikan harga tiket pesawat kategori LCC masih dalam batas wajar. Yang terjadi saat ini, menurut dia, calon penumpang atau konsumen kaget karena ada kenaikan dari harga yang biasa mereka dapatkan.

”Konsumen kaget aja. Selama ini airlines banting-bantingan harga tiket. Giliran dikembalikan ke harga normal, konsumen kaget,” ucapnya.

Alvin mengungkapkan, sudah ada aturan tarif batas atas dan bawah untuk penerbangan kelas ekonomi. Aturan itu tercantum dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 14 Tahun 2016 tentang Mekanisme Formulasi Perhitungan dan Penetapan Tarif Batas Atas dan Tarif Batas Bawah Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.

Dalam aturan itu tercantum pula daftar TBA dan TBB yang disesuaikan dengan jenis pesawat. Misalnya pesawat dengan propeler atau baling-baling berkapasitas di bawah 30 orang, pesawat propeler berkapasitas di atas 30 orang, dan pesawat bermesin jet.

Sebagai contoh, untuk rute Jakarta via Cengkareng ke Juanda (Surabaya), harga tiket pesawat propeler di bawah 30 seat adalah Rp 1.177.000 untuk tarif bawah dan Rp 3.923.000 untuk tarif atas. Sedangkan pesawat propeler berkapasitas lebih dari 30 orang bertarif Rp 557.000 hingga Rp 1.857.000. Sementara pesawat jet dengan rute sama Rp 412.000 hingga Rp 1.372.000.

Di Indonesia hanya ada lima airlines yang terdaftar sebagai maskapai berbiaya rendah atau low cost carrier (LCC), yaitu Indonesia Air Asia, Citilink, Lion Air, Susi Air, dan Wings Air. Prinsip LCC itu hanya menjual tiket tanpa fasilitas lain.

Dengan demikian, bila mau memilih kursi, makan, dan minum, penumpang harus membayar lagi. Maskapai juga diperbolehkan menjual tiket tanpa fasilitas bagasi gratis.

”Hanya ke toilet yang tidak dipungut biaya tambahan,” ungkap dia.

Alvin mengingatkan, bila LCC tidak hati-hati, harga tiket LCC plus bagasi 20 kg bisa mendekati atau bahkan lebih mahal daripada tiket full service. Imbasnya, penumpang bisa beralih ke full service yang lebih nyaman.

”Kenaikan harga sedikit atau banyak sama-sama mengagetkan dan merepotkan. Daripada naik sedikit tapi berulang-ulang, pusingnya berulang-ulang. Lebih baik seperti sekarang,” tuturnya.

Sementara itu, Komisioner Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) Guntur Saragih menyebutkan bahwa fenomena kenaikan harga tiket pesawat yang terjadi saat ini belum dapat diindikasikan sebagai tindak kartel. KPPU sendiri mengaku menyoroti persaingan industri penerbangan sejak operasi Sriwijaya Air diambil alih Garuda Indonesia.

”KPPU memang melihat pemain semakin sedikit dan ada kecenderungan pasar mulai terkonsentrasi. Arahnya ke sana dan kami terus pelajari. Tapi, untuk kesimpulan kartel, KPPU belum bisa sampaikan karena belum ada bukti,” ujarnya.

Menurut Guntur, maskapai tak bisa disalahkan jika menganggap kenaikan tiket pesawat masih dalam tarif batas yang ditentukan pemerintah. Untuk beberapa jenis usaha yang TBA dan TBB-nya sudah diatur pemerintah, mereka memiliki keleluasaan untuk melakukan penyesuaian harga sesuai supply dan demand.

Pada bagian lain, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub kemarin mengadakan pertemuan dengan INACA untuk konfirmasi terkait tarif tiket penerbangan. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Hengki Angkasawan mengatakan, tarif maskapai yang berlaku masih sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 14 Tahun 2016. Terkait TBA dan TBB, sebenarnya sudah dilakukan sosialisasi kepada masyarakat.

Dengan kejadian tersebut, Hengki berharap masyarakat bisa lebih memahami penetapan TBA dan TBB yang berlaku. Direktur Angkutan Udara Maria Kristi Endah Murni mengatakan bahwa kenaikan tersebut tidak melanggar. Dia menjelaskan, tarif pesawat terus diawasi.

”Satu kali 24 jam kami awasi. Masyarakat silakan melapor kalau menemukan maskapai yang menjual di atas batas atas,” ucapnya. (agf/jun/lyn/vir/c9/oni)

Loading...