ilustrasi

batampos.co.id – Penghapusan bagasi gratis bagi penumpang oleh maskapai perusahaan serta naiknya biaya kargo cukup berdampak terhadap pelaku usaha online (daring/dalam jaringan) yang ada di Batam.

Pelaku usaha online, Yani mengatakan kenaikan untuk pengiriman barang dari Batam ke luar sebenarnya sudah terjadi sejak Desember lalu, berbeda dengan daerah lain yang baru berlaku bulan ini.



“Kalau mengeluh sudah pastilah. Karena kami punya buyer kan bertanya- tanya juga kok naik. Padahal permintaan lumayan banyak,” kata dia yang dijumpai usai mengirim barang di Tibancenter, Sabtu (12/1/2019).

Menurutnya, untuk jasa pengiriman seperti JNE itu kenaikan cukup drastis lebih dari 10 ribu lebih per paketnya. Banyak sekarang sesama pelaku jualan beralih ke jasa Lion Parcel karena lebih murah.

“Kalau yang ini kebanyakan permintaann dari pembeli. Karena sewaktu pemesanan mereka tanya dulu ongkir beberapa jasa pengiriman,” sebutnya.

Mengenai permintaan belanja akhir- akhir ini memang cukup mengalami perubahan. Karena tidak sedikit dari mereka yang tidak jadi berbelanja karena mahalnya ongkos kirim.

“Kami tidak tahu kenapa kok mahal begini. Padahal untuk Batam sendiri berjualan online salah satu mendapatkan penghasilan yang mudah. Barang di sini banyak, dan Batam memang terkenal dengan produk seperti tas, sepatu yang memang sering dibeli sama orang dari daerah lain,” ujarnya.

Solusinya agar produk tetap jalan, pelaku usaha online berusa mencarikan jasa pengiriman yang paling murah.

“Ya cuma itu solusinya. Kami akan cari cost paling murah agar barang tetap terjual dan menjaga pelanggan,” imbuh ibu tiga anak ini.

Perempuan yang sudah berjualan online selama lima tahun lebih ini mengungkapkan, berjualan online merupakan salah satu penopang perekonomian keluarga.

“Untungnya memang tidak banyak, tapi kalau dapat pesanan cukup banyak kan lumayan. Yang jelas kami minta ongkos kirim ini kembali normal lagi,” lanjut Yani.

Hal senada juga dikatakan Elisabeth. Pelaku online ini kebanyakan mendapatkan pesanan ke Indonesia bagian timur. Ia menyebutkan saat ini ongkos pengiriman tergolong sangat tinggi.

“Sekarang saya kirim barang ke Sorong itu Rp 160 ribu, sebelumnya hanya Rp 105 ribu. Berapa persen itu naiknya,” kata dia.

Sebulan ia bisa mengirim 70 hingga 100 paket ke luar dari Batam. Menurutnya sangat lumayan bagi ibu rumah tangga seperti dia.

“Buat jajan anak dan uang sekolah sangat membantu. Tapi sejak ongkir naik ini ada penurunan. Kadang ongkir lebih mahal dari barang sehingga mereka cancle, terang perempun yang akrab disapa Lisbeth ini.

Perempuan yang sudah tiga tahun membidangi jualan online ini berharap ada penurunan biaya ongkos kirim, agar penjual online tetap bisa bertahan dengan usaha mereka.

“Kami kan tak punya toko. Jualan hanya via media sosial dan untuk juga tak banyak. Turunkan lah ongkir ini,” harapnya. (yui)

Loading...