batampos.co.id – Beberapa event menjadi target Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kota Batam dalam meraih prestasi di tahun 2019 ini. Tak hanya itu, pembinaan atlet juga menjadi salah satu fokus kerja FPTI Batam.
Ketua FPTI Kota Batam Dian Desima mengatakan, saat ini atlet panjat tebing Batam tengah mempersiapkan diri untuk mengarungi beberapa kejuaraan. Termasuk persiapan menghadapi Pra Pekan Olahraga Nasional (PON), September mendatang.
”Kami rencananya akan menggelar kejuaraan panjat tebing, Februari atau Maret mendatang. Tetapi kami masih menentukan ruang lingkup kejuaraannya. Akan menggelar tingkat Kepri atau se-Sumatera,” ujarnya.
Selain itu, juga mempersiapkan diri untuk menghadapi event resmi kejuaraan nasional (kejurnas) junior yang akan diselenggarakan di Riau, Juni mendatang. Setelah itu langsung persiapan menghadapi Pra PON.
Jadi kalender kegiatan panjat tebing di tahun ini memang terbilang padat. Tentunya ini membutuhkan persiapan matang jika ingin meraih hasil maksimal.
Regenerasi atlet panjat tebing Kota Batam juga menjadi perhatian penting dalam pembinaan atlet. Kondisi organisasi yang sempat mengalami kevakuman selama tahun 2015 hingga 2016 menyebabkan regenerasi atlet terputus. Kondisi ini menyebabkan kami harus memulai segalanya dari awal.
“Termasuk regenerasi yang harus kembali dari nol,” paparnya.
Saat ini, ada 20 atlet panjat tebing binaan FPTI Batam. Ke 20 atlet ini tergabung dari kategori youth, junior, dan senior. “Mereka tengah berlatih keras untuk menghadapi kejuaraan-kejuaraan yang akan diselenggarakan untuk kalender 2019,” sambung Bina Prestasi FPTI Batam Dwi Nurdiyanto.
Hanya saja, kata Dwi, minimnya perhatian pemerintah menjadi kendala dalam pembinaan atlet panjat tebing. Setelah sarana berlatih panjat tebing yang ada di Dataran Engku Putri dibongkar karena pelaksanaan MTQ bebe-rapa waktu lalu, belum ada tanda-tanda akan dibangun kembali.
”Padahal sarana berlatih ini kami perlukan untuk mempersiapkan diri dalam beragam kejuaraan di masa mendatang,” sambungnya.
Tetapi, keterbatasan bukan berarti membuat FPTI Kota Batam terdiam. Beragam upaya dilakukan demi meningkatkan pembinaan olahraga panjat tebing. Salah satunya dengan membangun sendi-ri wall yang memiliki standar nasional.
”Kami berhasil membangun wall yang berstandar nasional di Batam. Hanya saja lokasinya kurang memenuhi syarat, lantaran terletak di kawasan permukiman liar,” ujarnya
Keterbatasan untuk mendapatkan lahan membuat FPTI Kota Batam memanfaatkan lokasi yang tersedia agar para atletnya bisa tetap berlatih dengan serius. Meski terkendala sarana dan prasarana, bukan berarti kami tidak bisa meraih prestasi. Kami tetap punya mimpi untuk bisa mengantarkan atlet panjat tebing Kota Batam meraih prestasi maksimal di tingkat nasional.
“Mungkin terdengar muluk, tapi kami punya target untuk bisa meraih emas di Pra PON nanti,” beber Dwi.
Baik Dian maupun Dwi mengakui pentingnya peran stakeholder dalam pembinaan panjat tebing. Semua pihak harus bekerja sama jika ingin meraih prestasi maksimal. Baik itu FPTI, Pemko Batam, KONI Batam, dan juga dunia usaha. Karena untuk membina atlet, membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Baik itu pertalatan, sarana berlatih, hingga pada asupan yang dibutuhkan.
Dian juga menjelaskan dalam mengikuti kejuaraan, atlet panjat tebing memerlukan waktu berbulan-bulan untuk bisa maksimal berlaga.
”Saya sendiri untuk bisa turun di Pra PON memerlukan waktu sedikitnya enam bulan,” ungkapnya.
Sementara beberapa kejuaraan menanti di awal tahun, seperti open kejurnas yang akan dilaksanakan Februari mendatang. Juga kejuaraan panjat tebing di Singapura yang digelar Mei mendatang.
Selain itu, pihaknya juga ingin membangun sarana berlatih indoor untuk menunjang pembinaan atlet. Ini sudah diterapkan di beberapa daerah dan negara tetangga.
Ketersediaan sarana berlatih indoor akan membuat atlet tak lagi terpengaruh cuaca saat berlatih.
Selain wall, ketersediaan sarana berlatih fisik sangat penting bagi atlet yang menjalani training center. Sebab, selain teknik, kesiapan fisik dan mental juga sangat pen-ting bagi atlet. ”Dua kali dalam seminggu, atlet menjalani latihan fisik, baik itu menjaga dan mening-katkan kebugaran serta stamina atlet, juga untuk meningkatkan kadar VO2Max,” terang.
Karenanya, Dwi meminta agar pemerintah serius dalam membina olahraga di Batam. Sebab, kata dia, melalui peningkatan pembinaan olahraga, sektor ekonomi dengan sendirinya akan terbangun.
Sebagai contoh kita bisa membuat kejuaraan-kejuaraan dengan skala nasional dan internasional tentunya akan memancing kunjungan wisatawan ke Batam. Tentunya, itu bisa dilaksanakan jika sarana dan prasarananya telah tersedia.
”Selain itu juga dituntut profesionalitas dari para pelakunya,” tegasnya.
Sebanyak 13 klub saat ini berada di bawah binaan FPTI Kota Batam. Tetapi yang terbilang aktif baru delapan klub. Ke depan, Dwi berharap panjat tebing menjadi olahraga yang bisa melambungkan nama Batam ke jenjang nasional dan bila mungkin ke level internasional.
”Kami memang dituntut untuk mandiri. Karena keterbatasan memaksa kami untuk semakin kreatif,” tuturnya.
Pihaknya juga optimis untuk bisa membawa nama Batam dan Kepri hingga ke jenjang nasional dan bahkan internasional.
“Ini adalah target lanjutan setelah berhasil mempertahankan gelar juara umum dalam Porprov lalu,” ujarnya.(yan)
