Lupa merupakan “penyakit” yang sering menyerang manusia.

Itulah yang saya alami. Mestinya, Corner Kick terbit pada Selasa (15/1) kemarin. Namun karena terserang “sakit” lupa, tidak terbit. Saya kira sudah saya kirim ke whatsapp Pemimpin Redaksi Batam Pos, Muhammad Iqbal. Ternyata masih tersimpan rapi di draf hape saya.



Ah…! Sudahlah. Tidak ada yang perlu disesali. Yang pasti saya harus membuat tema baru. Menulis ulang. Karena tema soal BPJS Kesehatan yang mau saya angkat, sudah basi.

Namun yang pasti, tulisan yang tertunda itu suatu saat akan saya terbitkan. Mau dimodifikasi ulang sembari mengikuti perkembangan terbaru. Biar makin dalam isinya. Hehehehehehe.

Lupakan soal “penyakit” lupa. Saya pilih move on dan melupakannya. Biarlah “sakit” itu jadi pelajaran buat saya. Belajar lebih konsisten lagi. Hemm.

Isu yang lagi ramai soal dihapuskannya bagasi gratis. Hampir semua orang yang menggunakan pesawat membahasnya. Ada yang mengaitkan dengan pulang kampung makin mahal. Atau ada yang sampai berencana beralih ke moda transportasi air: kapal.

Corporate Communications Strategic of Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro melalui email yang saya terima menyebut ada dua poin penting terkait bagasi.

Poin pertama. Seluruh penerbangan domestik Lion Air tidak diberlakukan bagasi cuma-cuma 20 kilogram per penumpang.

Poin kedua. Seluruh penerbangan domestik Wings Air tidak diberlakukan bagasi cuma-cuma 10 kilogram per penumpang.

Poin ketiga yang bikin ngilu. Setiap calon penumpang (kecuali bayi), diperbolehkan membawa satu bagasi kabin (cabin baggage) dengan maksimum berat 7 kilogram dan satu barang pribadi (personal item) seperti tas laptop, perlengkapan bayi, bahan membaca, binocular, tas jinjing wanita (hand luggage). Ketentuan maksimum ukuran dimensi bagasi kabin adalah 40 cm x 30 cm x 20 cm.

Tak hanya Lion Air. Citilink pun juga melakukan hal sama. Dalam rilisnya, Amelia Yaksa Parijata selaku VP Sales & Distribution Citilink menjelaskan, penghapusan bagasi gratis itu berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 185 Tahun 2015.

Di mana, maskapai berbiaya rendah masuk dalam kategori no frills alias pelayanan dengan standar minimum. Artinya, maskapai yang masuk kategori itu berhak mengenakan biaya bagasi.

Pertanyaannya, apakah kedua maskapai low budget itu tidak takut kehilangan penumpang. Bayangkan, naik Lion Air atau Citilink, beda-beda tipis dengan menumpang Batik Air atau Garuda Indonesia. Entahlah.

Yang pasti, nasi sudah menjadi bubur. Keputusan sudah diambil. Bagi yang bepergian menggunakan pesawat bertiket murah, siap-siaplah mengeluarkan biaya tambahan. Kalau dihitung-hitung lumayan lho tambahnya.

Kalau Lion Air, tarif bagasinya berkisar antara Rp 55 ribu dengan berat 5 kilogram, sampai Rp 330 ribu dengan berat 30 kilogram. Lumayan.

Bagi dunia pariwisata, kebijakan ini berisiko besar. Saya ambil contoh di Batam. Karena, sudah barang tentu wisatawan yang berkunjung, mikir dua kali kalau harus membawa oleh-oleh dalam jumlah besar.

Ini yang bikin seram. Di satu sisi, Pemko Batam dan BP Batam lagi gencar-gencarnya mempromosikan pariwisata Batam. Harapannya, setiap wisatawan yang datang ke Batam menghabiskan duitnya untuk berbelanja. Borong semua yang ada di Batam, beli semua, bawa pulang, dan bagikan kepada keluara serta tetangga atau teman.

Dengan tingginya intensitas transaksi jual-beli, sudah barang tentu ekonomi semakin tumbuh. Pertanyaannya, apakah dengan kebijakan baru ini akan berdampak terhadap pariwisata Batam?

Secara pribadi, saya menjawab: sangat berdampak.

Anda bisa membayangkan, mereka yang berwisata ke Batam cuma datang untuk melihat-lihat. Atau cuma jalan-jalan. Ketika pulang, tidak membawa apa-apa. Tangan kosong. Tidak mau membayar lebih untuk bagasi.

Bagaimana nasib pelaku usaha, penyedia oleh-oleh, atau pedagang? Bagaimana produk-produk Batam bisa ke luar dan dinikmati oleh orang luar Batam? Wah. Pasti jelimet.

Meskipun tidak ada lagi bagasi gratis, kabar baik muncul. Harga tiket pesawat turun 60 persen. Wow. Kok bisa? Apakah ini salah satu trik untuk meminimalisir gejolak peniadaan bagasi gratis? Mungkin saja.

Hanya saja, masyarakat Indonesia sangat paham. Bahwa harga tiket pesawat itu fluktuatif. Mengikuti momen. Kadan melambung, kadang sedang.

Sekarang, bola panas ada pada Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Oke, kita terima peniadaan bagasi gratis. Tapi apakah ada kebijakan khusus untuk mencegah, jika sewaktu-waktu harga tiket pesawat, naik hingga masuk kategori tidak wajar.

Selama ini sih pemerintah bungkam. Tapi mudah-mudahan ada sikap tegas pemerintah kepada maskapai, agar tidak semena-mena menaikkan harga tiket pesawat. Amin. (*)

(Mohon maaf karena kesibukan penulis, Corner Kick yang biasanya terbit setiap Hari Selasa harus tertunda satu hari dan baru diterbitkan Hari Rabu)

Loading...