Ifdal, Humas Pengadilan Agama Kelas IA Batam menunjukkan ruang bermain khusus anak di pengadilan tersebut, Rabu (16/1). (Yulitavia/Batam Pos)

Pengadilan Agama Kelas 1A Batam menyiapkan arena bermain khusus untuk anak-anak yang diajak orangtuanya saat berperkara di pengadilan. Si kecil bisa tetap riang bermain, sementara orangtuanya saling perang urat di depan hakim. Suatu upaya mengalihkan perhatian anak, agar tak makin terluka karena melihat orang yang dicintainya akan mengakhiri hubungan mereka.

YULITAVIA, Batam

Loading...

Tahun baru saja berganti. Berbagai harapan agar hidup lebih baik, makin sejahtera dan bahagia dipanjatkan hampir semua orang. Namun, pada pekan pertama Januari 2019 itu pula, Pengadilan Agama Kelas IA Batam sudah memutus tujuh perkara perceraian pasangan suami-istri. Semua kasus perpisahan ini merupakan lanjutan dari kasus 2018 lalu. Angka perceraian di Batam pada 2018 tercatat naik menjadi 2.013, dari tahun sebelumnya yang hanya 1.800 kasus. Miris.

Berlanjut pada pekan kedua Januari. Di ruang tunggu pengadilan yang berada di Sekupang itu juga sudah mulai terlihat ramai. Kursi ruang tunggu terisi penuh oleh warga yang akan menjalani sidang. Tidak sedikit orangtua yang membawa serta anak mereka ketika hendak menjalani sidang perceraian.

Ada tiga ruangan yang biasa digunakan pemohon untuk menjalani sidang. Ruang utama, dan dua ruangan lainnya. Secara bergantian, pemohon gugatan cerai terlihat keluar dan masuk dari ruangan sidang tersebut.
Salah seorang pemohon, Rita, 34, membawa serta kedua putri kembarnya yang masih berusia 4 tahun. Kala itu, ia menjalani sidang kedua atas gugatan perceraian yang ditujukan kepada suaminya. Jika Rita duduk di ruang tunggu, kedua anaknya terlihat asyik dan menikmati arena permainan yang disediakan pihak pengadilan.

Ya, ruangan berukuran kurang lebih 2×4 meter ini memang sengaja disiapkan untuk arena bermain anak-anak. Sembari menunggu persidangan bergulir, anak yang diajak ke pengadilan bisa bermain lepas. Dinding arena permainan dipenuhi stiker dan hiasan tokoh kartun yang menarik perhatian si kecil. Di sudut ruangan, terdapat keranjang mainan yang bisa dipilih untuk media bermain anak.

Dua putri kembar Rita memang harus menghadapi kenyataan pahit karena kedua orangtuanya hendak berpisah. Menurut Rita, perpisahan merupakan jalan terbaik yang dipilih saat ini. Setelah membina rumah tangga selama tujuh tahun, pasangan ini memutuskan berpisah.

”Tak ada kecocokan lagi, makanya kami memilih berpisah,” kata Rita sembari melihat kedua putrinya yang tengah asyik bermain.

Kedua balita yang masih polos itu terpaksa dibawa ke pengadilan karena tidak ada yang menjaga ketika ia pergi memenuhi panggilan sidang. ”Tak ada yang buat dititipkan, jadi saya bawa sekalian ke sini,” ucapnya.

Humas Pengadilan Agama Kelas 1A Batam Ifdal mengatakan keberadaan arena bermain diharapkan bisa membantu dan menghibur anak-anak yang menjadi korban perceraian kedua orangtuanya. Bahkan, anak-anak itu tak perlu melihat orangtuanya bersitegang di depan majelis hakim. Atau, tambah terluka kala palu menjatuhkan putusan agar kedua orangtua tercintanya harus berpisah.

”Psikis anak pasti terganggu dengan adanya perpisahan. Apalagi anak turut dibawa ke sini untuk menyaksikan perceraian orangtuanya. Makanya kami sediakan arena bermain. Biar mereka selalu happy dan tidak ikut terbawa suasana orangtuanya,” ujar Ifdal.

Arena bermain tersebut, sambung dia, memang belum memiliki jumlah permainan yang banyak. Salah satu faktornya, karena luas tempat bermain itu juga masih terbatas. Ruangan kecil itu setidaknya diharapkan bisa mengalihkan perhatian anak dari perkara yang dihadapi orangtuanya, meskipun hanya sesaat.

”Karena kami juga menyi-agakan satu petugas yang berjaga. Jadi, anak-anak bisa dititipkan sedangkan orangtuanya menjalani sidang,” jelasnya.

Untuk itu, pihaknya juga akan meningkatkan fasilitan taman bermain tersebut pada tahun ini. ”Nanti arena bermain akan kami perluas dan lebih banyak lagi permainannya. Sekarang kan masih di dalam. Nanti rencananya akan kami pindahkan ke luar,” sebutnya.

Ia berharap, anak- anak yang menjadi korban perceraian bisa menjalani kehidupan seperti anak lainnya.
Orangtua memiliki peran sangat penting untuk memperhatikan tumbuh kembang anak yang menjadi korban perceraian ini.

”Meskipun arena bermain ini tidak besar, tapi semoga bisa menghibur mereka setidaknya ketika berada di pengadilan,” lanjutnya.

Terkait angka perceraian di Batam, sambung Ifdal, ia tak menampik jumlahnya cukup tinggi. Selama 2018, angka pengajuan perceraian di Batam mencapai 2.013 pengajuan, sembilan dispensasi dan beberapa pengajuan poligami.

”Naik dari tahun sebelumnya. Penyebab masih faktor ekonomi dan pengaruh media sosial,” ujarnya.

Sementara untuk pendaftaran perceraian selama Januari 2019 ini, sudah ada puluhan orang yang mendaftarkan rencana perpisahan mereka. ”Sudah ada tiga puluh lebih yang mengajukan. Tapi nanti kan ada tahap mediasi. Mana tahu mereka mau berubah pikiran,” imbuh Ifdal.

Berdasarkan data dari Kementerian Agama (Kemenag) Batam tahun 2018, sedikitnya 8.523 pasangan menikah di 12 Kantor Uruasan Agama (KUA) yang ada di masing-masing kecamatan di Batam.

Kepala Kemenag Batam Erizal Abdullah mengatakan setiap tahun angka pasangan yang menikah memang berkisar di delapan ribu pasangan. Ia berharap pasangan yang menikah bisa menjaga mahligai pernikahan hingga maut memisahkan. ”Yang nikah banyak, tapi angka cerai kita juga cukup tinggi,” katanya. ***

Loading...