limbah di pantai

batampos.co.id – Berada di jalur internasional, perairan Batam kerap tercemar limbah baik tumpahan minyak maupun sampah. Sayangnya, kondisi ini tak pernah teratasi.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam Herman Rozie mengungkapkan, bahkan kasus limbah minyak yang mencemari perairan Batam 2016 silam hingga kini belum menemukan titik terang, Padahal Kementrian Koordinator Kemaritiman telah menggelar beberapa kali rapat, termasuk dengan perwakilan asuransi kapal di Indonesia yaitu SPICA Services Indonesia.

“Siapa pelakunya belum diketahui sampai sekarang,” ucap Herman di Kantor Wali Kota, Senin (21/1) siang.


Untuk menyelediki kasus pencemaran ini, bahkan pernah turun tim dari pemerintah pusat. Namun sayang hasil investigasi tim, nihil. Menurutnya kesulitan penyelidikan karena limbah minyak tersebut diduga dibuang di perairan internasional atau Out Port Limit (OPL).

“Dari citra satelit dapat dilihat (tumpahan) minyak-minyak itu, tapi kapalnya ada juga yang tak nampak,” kata dia.

Selanjutnya, tumpahan minyak tersebut akan bergerak ke pesisir Batam maupun Kepri umumnya. Biasanya terjadi pada akhir hingga awal tahun.”Udah beberapa hari ini lagoi tercemar. Batam lihatlah satu atau dua hari lagi,” imbuhnya.

Beberapa waktu lalu juga sempat ada rencana pembicaraan dengan negara-negara tetangga. Namun Herman menyebutkan, Kementrian Koordinator Kemaritiman baru akan menyiapkan diri perihal rencana tersebut.
“Ini pembicaraan tingkat tinggi, DLH Batam tak bisa masuk. Limbah ini kalau di Batam, selalu kenakan Nongsa, upaya kami ya hanya laporkan dan kalau ada pencemaran melakukan pembersihan berkoodinasi dengan Pemerintah Provinsi,” papar dia.

Tidak hanya limbah minyak, selain karena minimnya kesadaran membuang sampah pada tempatnya dari pengunjung pantai, ia menduga sebagian sampah merupakan buangan dari kapal-kapal yang melintas di perairan internasional tersebut. “Ada yang buang sampah dari kapal kitakan tidak tahu juga, pas pasang terseretlah ke kita (Kepri),” imbuhnya.

Sementara kini, DLH tidak memiliki armada khusus pembersihan sampah di laut. Menurutnya yang ada hanya armad berupa boat yang dioperasikan di Tanjunguma, Bengkong maupun Tanjungriau. “Dan ini tidak efektif, yang efektif adalah masyarakat tidak membuang sampah sembarangan,” pintanya.

Pencemaran laut ini, kata Herman, sudah pasti merugikan Batam, terutama sektor pariwisata yang kini sedang dikembangkan Pemko Batam.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam Ardiwinata mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi intens dengan dinas-dinas terkait seperti DLH maupun KP2K perihal ini. Wisata bahari adalah satu sektor yang akan dikembangkan. Contoh, yang kini dipersiapakn adalah public area yakni Pantai Nongsa dan Pulau Putri Nongsa, maka kebersihan adalah keharusan,” pungkasnya. (iza)

Loading...