Selasa, 28 April 2026

Terpaksa Tinggalkan Barang Bawaan sebab Lion Air Kenakan Biaya Bagasi Rp 1,3 Juta

Berita Terkait

batampos.co.id – Maskapal Lion Air dan Wings Air mulai memberlakukan kebijakan bagasi berbayar, Selasa (22/1/2019). Beragam reaksi calon penumpang muncul menanggapi hari pertama penghapusan layanan bagasi gratis itu.

Pantauan Batam Pos di Bandara Hang Nadim Batam, sejumlah penumpang mengaku kaget dengan kebijakan maskapai tersebut. Bahkan sempat terjadi kegaduhan kecil di konter check in Lion Air di Hang Nadim. Beberapa calon penumpang menolak membayar biaya bagasi yang kelewat mahal.

Adis salah satunya.

Calon penumpang Lion Air rute Batam-Makassar itu memilih untuk meninggalkan barang bawaannya karena dikenakan biaya sampai Rp 1,3 juta. Padahal barang bawaan Adis hanya seberat 19 kilogram (kg).

“Besar sekali biayanya. Tadi saya meminta ibu saya untuk membawa pulang kembali. Mahal banget,” kata Adis, Selasa (22/1/2019).

Lain lagi cerita Diah. Calon penumpang Lion Air tujuan Semarang itu hanya bisa pasrah saat petugas Lion Air memintanya membayar bagasi dengan biaya yang cukup mahal. Yakni dengan tarif Rp 41 ribu per kg.

Padahal barang bawaannya lumayan banyak, yakni sekitar 35 kg. Maklum, Diah baru saja pulang dari ibadah umrah sehingga membawa banyak oleh-oleh.

“Kaget, syukur ada bawa uang. Kalau tidak, ya nggak tahu juga,” ucapnya.

Artinya, Diah harus membayar Rp 1,4 juta untuk bagasinya itu. Padahal harga tiket Batam ke Semarang hanya sekitar Rp 1,2 juta.

“Lebih mahal biaya bagasi dibandingkan harga tiket,” katanya.

Calon penumpang lainnya yang enggan menyebutkan namanya mengaku tidak mengetahui penerapan bagasi berbayar ini. Ia menyebut kebijakan ini sangat memberatkan.

“Harga tiket tinggi, bagasi berbayar. Nasib jadi orang kecil, harus dipaksa menerima semua ini,” tuturnya.

Ia berharap pemerintah dapat mengkaji ulang pemberlakuan bagasi berbayar ini.

“Kalau naik pesawat full service nggak kuat, bisanya naik yang murah. Kalau yang murah tak lagi murah, kami harus gimana?” ucap pria tersebut.

Calon penumpang Lion Air rute Batam-Padang, Astrid juga mengaku kaget dengan penerapan bagasi berbayar ini.

“Biasanya kami tidak perlu bayar bagasi lagi, kecuali membawa lebih dari 20 kilogram. Tetapi sekarang harus mengeluarkan uang lagi,” katanya.

foto: batampos.co.id / cecep mulyana

Anggota DPRD Batam Riky Indrakari menilai keputusan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memperbolehkan pengenaan tarif bagasi adalah upaya menaikkan tarif secara sepihak. Apalagi maskapai yang mengenakan tarif adalah maskapai berbiaya murah atau Low Cost Carrier (LCC).

“Ini sepihak karena secara tidak langsung tarif pesawat naik,” katanya.

Menurutnya, jika bagasi berbayar tidak dikendalikan oleh pemerintah, maka akan terjadi kenaikan tiket terselubung yang akan berpotensi melanggar harga batas atas tiket.

“Ini bentuk inkonsistensi terhadap LCC,” tuturnya.

Riky juga melihat, maskapai penerbangan domestik murah juga akan berpotensi melampaui harga tiket pesawat full service semacam Garuda. Kebijakan bagasi berbayar di penerbangan domestik ini nantinya akan berpengaruh terhadap pendapatan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang menjual produk oleh-oleh.

Direktur Badan Usaha Bandar Udara Hang Nadim, Suwarso, membenarkan hari pertama penerapan bagasi berbayar menuai protes calon penumpang. “Sejauh ini protesnya ke konter (maskapai) saja, belum ke kami,” ucap Suwarso.

Ia mengatakan, telah meminta jajarannya untuk mengawasi proses check in di konter-konter milik Lion Air Gruop. Karena berdasarkan arahan Kementerian Perhubungan, meminta pihak bandara memberikan pengawasan lebih, ketika awal penerapan bagasi berbayar.

“Kami akan monitor dulu dalam tiga hari ke depan,” ungkapnya.

Kebijakan bagasi berbayar ini, kata Suwarso, tidak hanya berdampak ke penumpang. Tapi juga menghilangkan keuntungan yang didapat porter barang, petugas wrapping, dan penjual oleh-oleh di Bandara Hang Nadim.

District Manager Lion Air Grup Batam M Zaini Bire membenarkan penerapan bagasi berbayar sudah dimulai per 22 Januari 2019. Ia mengatakan kebijakan ini sepenuhnya dari manajemen pusat.

“Lalu terkait penumpang bernama Adis, dia bayar mahal karena mau menuju Makassar via Pontianak. Batam ke Pontianak itu bagasinya Rp 30 ribu per kilogram, lalu Pontianak ke Makassar Rp 43 ribu per kilogram. Ini penyebab mahalnya,” ungkap Bire.

Ia mengimbau agar para calon penumpang Lion Air membeli paket bagasi (pre-paid) supaya lebih murah. Karena apabila membayar bagasi saat di terminal keberangkatan, tarifnya akan jauh lebih mahal.

Ia mencontohkan, untuk penerbangan Batam ke Jakarta (Soekarno Hatta). Jika membayar bagasi saat check in akan dikenakan tarif Rp 55 ribu per kg. Namun jika membeli prepaid di agen travel atau enam jam sebelum keberangkatan, tarifnya hanya Rp 140 ribu per 5 kilogramnya.

“Paket bagasi ini tersedia dalam ukuran 5 kg, 10 kg, 15 kg dan seterusnya,” ucapnya. (ska)

 

Update