batampos.co.id – Warga Batam masih sulit mendapatkan gas elpiji 3 kilogram (kg). Bahkan kelangkaan gas yang menggunakan tabung mirip melon tersebut, hampir terjadi di seluruh wilayah Kota Batam. Tidak hanya gas elpiji 3 kg, masyarakat juga sulit mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis premium. Di sejumlah Stasium Pengisihan Bahan Bakar Umum (SPBU) stok premium kosong.
Dalam sepekan ini, ketersediaan gas bersubsidi ini di sejumlah pangkalan hanya mampu bertahan beberapa jam. Begitu pengantaran dari agen atau distributor di pang-kalan, langsung diserbu warga. Seperti yang terlihat di pangkalan resmi di kawasan Bengkong, Rabu (23/1/2019).
Gas yang diantar Selasa (22/1) sore, malamnya sudah ludes.
Pemilik pangkalan yang enggan namanya disebutkan mengatakan, begitu pengantaran dari agen di-drop langsung diserbu warga. Jumlahnya berkisar 50 tabung gas sekali pengantaran.
”Baru datang langsung banyak yang beli. Nanti pengiriman lagi hari Kamis atau Jumat,” ujarnya.
Kondisi yang yang sama juga terlihat di pangkalan resmi di Bengkong Swadeby, Bengkong Indah, dan Bengkong Harapan. Gas yang diantar agen sehari sebelumnya juga langsung diserbu warga. Sehingga hanya bertahan beberapa jam, stok gas elpiji 3 kg langsung habis.
Mulia, warga Bengkong Indah mengatakan, ketersediaan gas di Bengkong sejak beberapa bulan belakangan agak susah. Ia menduga karena tingginya permintaan, apalagi banyak pedagang makanan di kawasan Bengkong.

foto: batampos.co.id / dalil harahap
”Saya sudah antisipasi dengan punya tiga tabung. Jadi ada stok saat gas langka,” tuturnya.
Menurut dia, banyak dari tetangganya yang harus rela menggeluarkan uang lebih untuk membeli gas bersubsidi tersebut. Harga lebih itu didapat dari pedagang eceran.
”Kata-nya ada yang sampai Rp 23 ribu, ada yang Rp 22 ribu dan paling murah Rp 20 ribu. Kalau di pangkalan resmi kan cuma Rp 18 ribu per tabung,” ungkapnya.
Pengawasan Pemerintah Lemah
Sementara itu, warga di wilayah Sagulung juga sulit mendapatkan gas 3 kg. Tengku Iskandar, pemilik pangkalan di Kelurahan Sagulung Kota Perumahan Buana Indah, mengaku kewalahan melayani permintaan masyarakat. Itu karena kuota yang diterima dari agen tidak seimbang dengan jumlah permintaan masyarakat yang ada di sekitar lokasi pangkalannya.
Iskandar menyebutkan mendapatkan kuota 60 tabung sekali pengiriman, yakni setiap Senin, Rabu, dan Jumat. Sehingga tidak mencukupi kebutuhan semua warga di sekitar pangkalannya yang mencapai 200 kepala keluarga (KK).
”Saya sudah ajukan penambahan kuota ke agen tapi tak dilayani. Masyarakat di sekitar pangkalan saya ini diatas 220 KK, jadi memang agak kewalahan karena yang beli juga dari pelaku UKM,” ujarnya.
Pantauan di lapangan, pedagang eceran di pinggir jalan utama Seibinti umumnya membeli gas 3 kg dalam jumlah ba-nyak dari pangkalan. Mereka membeli dengan harga normal Rp 18 ribu per tabung, lalu dijual lagi Rp 20 ribu sampai Rp 23 ribu pertabung.
Deretan kios yang berjejer di sepanjang pinggir jalan Sei-binti dan Sagulung Baru memajang 3 sampai 5 tabung gas melon di depan kios mereka. Padahal kios-kios tersebut bukan pangkalan resmi. Sejumlah pemilik warung dan kios mengaku menjual gas melon Rp 20 ribu sampai Rp 23 ribu per tabung.
”Ambilnya dari pangkalan juga. Warga kalau tidak kebagian di pangkalan larinya ke sini (kios, red),” ujar Rini, pedagang gas eceran di pinggir jalan Sagulung Baru, kemarin.
Sejatinya, Pemerintah Kota (Pemko) Batam dan Pertami-na sudah memberikan larangan menjual gas 3 kg selain di pangkalan resmi. Namun karena lemahnya pengawasan oleh pemerintah sendiri, kios-kios di pinggir jalan bebas gas bersubsidi ini dengan harga lebih mahal. Anehnya di pang-kalan resmi justru sulit mendapatkan gas 3 kg ini.
Kuota Premium Dikurangi
Awal tahun ini, warga tidak hanya dihadapkan dengan masalah kelangkaan gas elpiji 3 kg, tapi juga sulit mendapatkan BBM jenis premium. Pantauan di sejumlah SPBU yanga ada di Batam, bensin hanya ada di jam-jam tertentu karena langsung habis begitu pasokan datang.

”Saya sudah keliling beberapa SPBU tak ada bensin. Mau bagaimana lagi, terpaksalah saya beli pertalite di sini (SPBU Simpang Tobing, red),” ujar Viky, karyawan sebuah perusahaan di Mukakuning, Rabu (23/1/2019).
Ia mengaku dalam beberapa hari terakhir selalu pergi ke SPBU untuk mengisi bensin. Tetapi sangat jarang dapat. ”Saya minggu ini masuk malam, pulang pagi. Jadi, pulang kerja selalu mampir ingin isi bensin. Eh.. kalau pagi SPBU selalu kosong premium. Saya sudah cari mulai dari SPBU Tembesi, SPBU Genta II sampai ke sini (SPBU Simpang Tobing, red),” ungkapnya.
Senada diungkapkan, Lina, warga Perumahan Aster Raya, Batuaji. Ia mengaku dalam beberapa hari terakhir selalu kesulitan mendapatkan premium. Terutama pada pagi hari.
”Pulang antar anak sekolah selalu saya ke sini, tetapi memang kalau pagi tidak pernah dapat bensin. Saya pernah datang ke sini (SPBU Simpang Tobing, red) di siang hari, baru ada, tetapi antrean sangat panjang,” katanya.
Sementara itu, petugas SPBU Simpang Tobing Batuaji, Romlah mengakui memang bensin ke SPBU itu di pagi hari dipastikan kosong. Ini karena pengantaran yang dilakukan Pertamina biasanya menjelang siang hari.
”Biasanya datang paling cepat pukul 10.00 WIB. Dan itu pun langsung habis. Jadi kalau mau dapat bensin, harus siang datangnya,” imbuhnya.
Romlah mengatakan, saat ini kuota ke SPBU tersebut memang berkurang. Dimana setiap pengantaran saat ini hanya sekitar 10 kiloliter.
”Kalau biasanya lebih dari itu (10 kiloliter sekali pengantaran, red). Sekarang berkurang, makanya sekarang langsung cepat habis,” sebutnya.
Pertamina Membantah
Pihak PT Pertamina (Persero) langsung membantah. Officer Communication and Relation Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I, Wien Rachusodo menyatakan tidak pernah mengurangi penyaluran elpiji subsidi ukuran 3 kilogram (kg) ke masyarakat. Penegasan ini menjawab isu kelangkaan gas melon itu di sejumlah daerah di Batam yang mulai menimbulkan keresahan masyarakat.
”Kalau memang langka tentu ada laporan dari teman-teman (Pertamina) di Batam. Tetapi sejauh ini kami di Medan belum menerima laporan kelangkaan,” ujar Wien, Rabu (23/1/2019).
Diakuinya, sejauh ini Pertamina wilayah I selalu berkordinasi dengan perwakilannya yang ada di daerah seperti Batam.
”Dalam hal ini ketika ada kelangkaan, pasti mereka (Pertamina di Batam) cepat informasi ke kami. Misalnya ada keterlambatan pe-ngiriman, suplai atau kendala distribusi pasti cepat di laporkan ke kami. Sejauh ini belum ada,” tutur Wien.
Ia menambahkan, kelangkaan yang dimaksud mungkin terjadi di tingkat pangkalan yang kosong. Sementara pangkalan lain yang juga di daerah tersebut masih ada yang mendistribusikan.
”Kalau ini belum bisa dikatakan langka, karena masih ada yang distribusikan,” sebut Wien. (she, cr2, rng, ian)
