batampos.co.id – Dunia pariwisata terancam dengan harga tiket yang tinggi serta penerapan bagasi berbayar. Bila kondisi ini dipertahankan, diperkirakan menyebabkan penurunan tingkat hunian hotel, restoran, penjulan suvenir dan mengurangi daya beli terhadap oleh-oleh.
Dari beberapa sektor penunjang pariwisata ini digerakan oleh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Apabila roda-roda penggerak pariwisata ini terganggu, tentunya jalannya pariwisata bisa tersendat.
“Kami melihat ini dari dua sisi. Sisi bisnis (Maskapai), mungkin ini cara mereka bertahan ditengah besarnya biaya operasional. Namun disisi pariwisata, ini memberikan dampak (cukup besar). Multiplier efek,” kata Sekjen ASITA Kepri, Febriansyah, Rabu (23/1).
Ia mengatakan efek yang sudah terlihat saat ini yakni ada beberapa grup travel yang dibatalkan. Penyebabnya adalah, tidak relevannya biaya yang dikeluarkan agen travel.
“Tak hanya tiket mahal, agen harus menanggung biaya bagasi. Kalau grup tarvel itu tidak sama dengan backpacker. Grup travel pasti membawa banyak barang, kena bagasi. Beberapa teman saya di Batam, terpaksa membatalkan grup travelnya,” ucap Febriansyah.
Batalnya grup-grup travel wisatawan nusantara ini, dapat menyebabkan turunnya tingkat hunian hotel. Dari data yang didapatnya, saat ini tingkat hunian hotel di Batam kurang dari 50 persen.
“Rata-rata 35 persen,” ujarnya.

foto: batampos.co.id / cecep mulyana
Bila kondisi ini terus berlangsung, tidak dipungkiri okupansi hotel akan terus menurun.
Salah satu pendukung sektor pariwisata lainnya yakni penjualan suvenir dan oleh-oleh. Dua sektor yang digerakan oleh UMKM ini, menempati bagian paling depan yang dihantam kebijakan bagasi berbayar.
“Keduanya ini efeknya pasti sangat terasa. Orang tidak lagi mau membeli barang banyak berupa suvenir maupun oleh-oleh,” ungkapnya.
Febriansyah mengatakan apabila pemerintah tidak turun tangan, dan kondisi ini terus bertahan dalam jangka waktu lama. Tentunya mempengaruhi tingkat kedatangan wisatawan nusantara ke Batam atau Kepri.
“Untuk Kepri saja target Wisnusnya, kalau gak salah diatas 7 juta orang. Kondisi seperti ini, gimana mau tercapai,” tuturnya.
Kepala Dinas Pariwisata Batam, Ardiwinata mengamini kondisi tiket mahal dan bagasi berbayar, memberikan dampak besar terhadap perkembangan pariwisata. “Memang adanya kebijakan maskapai penerbangan ini, berpotensi dan berefek kunjungan (wisnus) ke Batam,” ucapnya.
Apa langkah yang telah dilakukan Dinas Pariwisata Batam? Ardi mengatakan bahwa kebijakan ini datangnya dari pusat. “Kami hanya bisa menghimbau mereka, meminta agar kebijakan ini dipertimbangkan kembali,” ujarnya.
Kondisi ini, kata Ardi sudah dibahasnya dalam Focus Grup Diskusi beberapa waktu lalu dengan Bank Indonesia. “Solusinya, yah kami sedang menjalin korespodensi pihak-pihak terkait,” ungkapnya.
Direktur Badan Usaha Bandar Udara Internasional Hang Nadim, Suwarso menuturkan Maskapai Lion Air yang telah memberlakukan bagasi berbayar, memiliki rute dan penerbangan terbanyak di Batam.
“Mereka menguasai,” ucap Suwarso.
Walaupun maskapai berbiaya murah lainnya, seperti Citilink belum menerapkan bagasi berbayar. Tapi, efek yang penerapan bagasi berbayar Lion Air Grup ini cukup besar.
Suwarso mengatakan kondisi ini juga berdampak besar di Bandara Hang Nadim.
“Ada 50 porter di sini, menurunkan pendapatan mereka. Karena tidak banyak lagi yang membawa barang. Lalu petugas wrapping (pembungkus barang), tentunya akan sepi peminat. Pusat oleh-oleh di lantai dua, pasti ada penurunan nantinya,” ungkap Suwarso.
Saat ditanyakan, berapa persen penurunan tersebut. Suwarso mengungkapkan masih belum bisa menghitungnya. “Ini baru berjalan sehari. Kami akan memantau terus dalam seminggu ini. Nanti akan disampaikan,” ungkapnya.
Adanya protes di konter-konter Lion Air, dibenarkan oleh Suwarso. “Sejak kemarin, saya sudah meminta jajaran untuk memantau. Sejauh ini (protes) masih di konter cek in saja,” pungkasnya. (ska)
