WARGA menggunakan perahu karet keluar dari permukiman yang terendam banjir di Blok 10, Perumnas Antang, Makassar, Rabu (23/1). (IDHAM AMA/FAJAR/JPG)

batampos.co.id – Bencana banjir di Sulawesi Selatan (Sulsel) terus meluas. Sudah 31 korban tewas ditemukan. Di Jeneponto, 100 warga bahkan masih hilang.

Korban tewas ditemukan di Maros (4), Jeneponto (4), Gowa (22), dan Pangkep (1). Sementara warga hilang di Jeneponto dari beberapa kecamatan. Itu masih data sementara yang terdata Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Loading...

Kapusdatin dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, banjir menggenangi 53 kecamatan di sembilan kota/kabupaten. Yakni, Kabupaten Jeneponto, Gowa, Maros, Soppeng, Barru, Wajo, Bantaeng, Pangkep, dan Kota Makassar. Sawah seluas 10.021 hektare juga terendam.

Sutopo mengatakan, banjir membuat beberapa sungai meluap. Yakni, Sungai Topa, Allu, Bululoe, Tamanroya, Kanawaya, dan Tarowang. Hingga kemarin, proses evakuasi masih berlangsung. Begitu pula pencarian, penyelamatan, dan pendistribusian bantuan. Banyak warga yang mengungsi sementara di atap rumah sambil menunggu dievakuasi. ”Tim SAR gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Basarnas, SKPD, PMI, Tagana, relawan, dan lainnya saat ini melakukan penanganan darurat,” kata Sutopo.

Sementara itu, harian Fajar melaporkan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jeneponto merilis kondisi terakhir bencana banjir. Hingga tadi malam, seratus warga dilaporkan hilang. ”Kita belum perinci. Masih terus mengumpulkan data,” terang Kepala BPBD Jeneponto Anwaruddin.

Titik banjir terparah berada di Desa Sapanang, Kecamatan Binamu. Di desa yang terdiri atas lima dusun dengan penduduk 4.000 jiwa itu, hampir seluruh rumah tenggelam. Bahkan, berdasar pantauan Fajar, tidak sedikit rumah yang hanyut akibat luapan Sungai Sapanang.

Kepala Dusun Sapanang Basoddin menjelaskan, di dusun tersebut 132 rumah rusak parah. Tujuh orang hilang dan tujuh rumah hanyut.

Untuk empat dusun lainnya, belum ada informasi valid. Sebab, jalan masih terputus di Sapanang. Akses yang terputus itu membuat tiga lokasi belum tersentuh evakuasi. Yakni, Desa Jombe, Desa Bonto Matene, dan Desa Bulu Loe. Padahal, menurut BPBD, tiga lokasi tersebut termasuk titik terparah. ”Ratusan rumah di sana tenggelam,” kata Kasi Logistik BPBD Jeneponto Zulfikar.

Di titik parah lainnya, seperti banjir di Belokallong Binamu yang sempat memutuskan jalan Trans-Sulawesi, seluruh warga sudah terevakuasi. Namun, kemacetan masih terjadi akibat tingginya genangan air.

Bupati Jeneponto Iksan Iskandar menjelaskan, korban banjir kini menempati beberapa lokasi pengungsian. Di antaranya, di kantor satpol PP, Gedung Sipatagarri, dan masjid agung. Titik lainnya berada di masing-masing kecamatan dan desa.

Sementara itu, elevasi air di Bendungan Bilibili kemarin terus turun mendekati normal. Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang T. Iskandar menyatakan, elevasi bendungan pada Rabu (23/1) menunjuk angka 100.17 dengan total air tertampung 269 juta meter kubik.

”Air yang masuk ke bendungan saat ini mencapai 792,02 meter kubik/detik. Air yang dikeluarkan 792,56 meter kubik per detik,” terangnya.

Akibat dibukanya pintu air di hilir bendungan, banjir menggenangi beberapa daerah di Gowa dan Makassar. Dua wilayah tersebut terhubung langsung dengan aliran Sungai Jeneberang. Sementara itu, banjir yang melumpuhkan akses darat di Kabupaten Maros, kata Iskandar, disebabkan meluapnya Sungai Maros yang tidak berhubungan dengan Bilibili.

Hingga kemarin, banjir meluas kendati hujan tidak lagi mengguyur Kota Makassar. Genangan terjadi di beberapa titik dan melumpuhkan akses transportasi.(ful/ans/gsa/rif/uk/tau/byu/c6/oni/JPG)

Loading...