Minggu, 26 April 2026

Kuota Ditambah, Gas 3 Kg Masih Langka

Berita Terkait

batampos.co.id – Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram (kg) masih terjadi di sejumlah pangkalan di wilayah Batam hingga kemarin. Padahal, PT Pertamina mengklaim tidak melakukan pengurangan kuota gas bersubsidi tersebut untuk wilayah Batam. Rata-rata Pertamina menyaluran 940.000 tabung gas elpiji 3 kg per bulan atau 38.000 tabung setiap hari.

“Sebenarnya pemberitaan terkait elpiji (gas 3 kg, red) kemarin agak bingung saya. Di lapangan banyak dimana-mana. Kami cek di Bengkong, pangkalan masih menjual. Memang ada yang kosong tapi yang isi juga ada,” ujar Sales Eksekutif LPG PT Pertamina (Persero) Wilayah Kepri Andri Setiyawan kepada Batam Pos, Jumat (25/1/2019).

Menurut Andri, di Batam ada 11 agen dan 1.800 pangkalan gas elpiji. Rata-rata penyaluran elpiji bersubsidi tersebut sebanyak 940 ribu tabung per bulan atau 38 ribu tabung setiap harinya. Jumlah kuota tersebut tidak ada perubahan bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Pertamina, kata dia, menya-lurkan gas 3 kg sesuai kuota yang diberikan pemerintah. Pertamina juga tak memiliki wewenang menambah maupun mengurangi kuota yang diberikan pemerintah pusat.

“Terkait ada yang kosong, kita ada 1.800 pangkalan, dan tidak semua yang diisi. Tergantung jadwal pengiriman agen ke pangkalan. Kalau ada satu pangkalan dikirim seminggu sekali, ya wajar kalau dia kemudian kosong. Tapi kan masih ada 1.799 pangkalan lainnya,” sebut Andri.

Ia juga memastikan tidak mengurangi penyaluran gas melon tersebut. Bila ditemukan di lapangan, kemungkinan ada pangkalan yang dikurangi bisa saja karena alasan nakal atau masalah internal mereka.

“Itu urusan internal agen dan pangkalan. Yang jelas Pertamina ke agen tak ada pengurangan sama sekali. Bahkan kami tambah (kouta),” jelasnya.

Penambahan yang dimaksud berlaku selama dua hari, yak-ni Jumat dan Sabtu. Penambahan ini sebagai antisipasi kenaikan permintaan di lapangan. Tak tanggung-tanggung, selama dua hari ini Pertamina menambah 30.000 tabung gas elpiji yang di salurkan di seluruh wilayah Batam.

“Penambahan kami berikan ke agen-agen di Batam. Untuk distribusi ke pangkalan agen yang mengatur,” ujarnya.

Disinggung kemungkinan ada penyelewengan penerima gas elpiji 3 kg, Andri menjawab, industri di Batam lagi berkembang.

“Bisa jadi sektor yang seharusnya menggunakan gas nonsubsidi tapi menggunakan elpiji subsidi, yang seharusnya diperuntukan untuk masyarakat tidak mampu,” jelasnya.

Dia menambahkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri, jumlah penduduk miskin di Batam berkisar 131 ribuan jiwa. Sementara kuota gas elpiji 3 kg yang disalurkan Pertamina berjumlah 940 ribu tabung per bulan.

“Seharusnya lebih dari cukup gas elpiji 3 kg subsidi di Batam. Kalau untuk pengawasan kepada siapa dijual itu ada di Disperindag Batam,” tegasnya.

Menurutnya, pemerintah daerah melalui dinas terkait harus meningkatkan pengawasan agar penerima gas 3 kg tepat sasaran.

“Kami bukan aparat, sifatnya hanya mengimbau saja agar elpiji subsidi tepat sasaran,” tutupnya.

Permintaan Meningkat

Sementara itu, pantauan di Bengkong kemarin, gas bersubsidi tersebut masih kosong di beberapa pangkalan. Warga pun masih cukup kesulitan untuk mendapat gas berbentuk melon tersebut. Seperti pangkalan gas resmi di Bengkong Indah tampak secarik kertas bertuliskan “Gas Kosong”. Padahal gas baru siang terlihat diantar oleh distributor. Namun hanya dalam beberapa jam, gas langsung kosong.

“Gas habis. Tadi siang ada (pengantaran, red), tapi langsung habis,” ujar wanita yang disapa Uni itu.

Kekosongan di pangkalan resmi juga terlihat di Bengkong Swadeby, Bengkong Palapa, Bengkong Sadai hingga Bengkong Kolam. Begitu juga di SPBU Seipanas (Simpang Kuda), SPBU Terowongan dan SPBU Simpang Ocarina atau Bundaran Madani.

“Gas melon kosong,” ujar petugas yang enggan namanya disebutkan.

Tika warga Bengkong mengaku cukup kesulitan mendapatkan gas di pangkalan resmi. Padahal ia sempat mendengar ada pangkalan yang menjual gas.

“Pas datang kesana ternyata gasnya sudah habis. Cepat kali habisnya. Jadi saya beli di warung, harganya Rp 22 ribu,” aku Tika.

Permintaan gas elpiji 3 kg juga mengalami peningkatan di daerah Sagulung. Mulai dari kebutuhan gas untuk rumah tangga dan pelaku UKM, jumlah kouta gas tidak mencukupi kebutuhan masyarakat. Tak heran, dua agen resmi di Kelurahan Sagulung persediaan gas selalu tidak ada secara bersamaan.(she/cr1/rng)

Update