Senin, 27 April 2026

Jumlah Penumpang Pesawat Makin Turun

Berita Terkait

foto: batampos.co.id / cecep mulyana

batampos.co.id – Dampak mahalnya harga tiket pesawat terhadap traffic penumpang sudah mulai dirasakan maskapai penerbangan. Garuda Indonesia menyebutkan arus penumpang awal tahun ini melandai dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. Maskapai tak menepis penyebab menurunnya penumpang tersebut tak lepas dari penyesuaian harga tiket yang cenderung dianggap mahal.

Direktur Garuda Indonesia Ari Askhara membeberkan bahwa traffic penumpang pada Januari 2019 tidak terlalu banyak dibandingkan dengan Januari tahun lalu.

”Ada sedikit penurunan sekitar 0,01 untuk maskapai Garuda tapi itu tidak signifikan, karena memang kita ada penyesuaian harga dan beberapa segmen menengah bawah,” ujarnya, saat ditemui di acara menyambut HUT Garuda Indonesia ke-70 di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Sabtu (26/1/2019).

Bahkan, lanjut Ari, beberapa konsumen juga terpantau shifting untuk memilih penerbangan yang lebih murah. Misalnya, para penumpang yang sebelumnya memakai layanan Garuda Indonesia beralih ke anak perusahaannya yakni, Citilink.

”Tapi tetap, untuk kelas bisnis kita tidak me-ngalami penurunan. Juga untuk penerbangan dengan rute internasional, semua aman dan tidak ada penurunan,” tambah Ari.

Garuda Indonesia mengaku tetap optimis traffic akan kembali pulih. Arus penumpang disebut Ari mampu meningkat meski diprediksi tidak terlalu cepat peningkatannya.

”Tahun ini peningkatan sedikit melambat. Tapi kami terus berinovasi memberikan penawaran dan program-program baru,” bebernya.

Pengamat Penerbangan Alvin Lie menyebut fakta penurunan penumpang pesawat terjadi sejak Desember 2018. Menurut Alvin, penurunan bisa mencapai 9 persen dibanding periode sama tahun lalu.

”Enam bandara besar misal Soekarno-Hatta, Juanda, pe-numpang turun sekitar 13 persen. Traffic pesawat turun 5,56 persen. Jumlah penerbangan turun karena penumpang turun,” ujarnya.

Selain itu, menurut Alvin penerapan kebijakan bagasi berbayar juga akan membuat tarif LCC menjadi lebih mahal dibandingkan maskapai full-service, seperti Garuda dan Batik Air.

”Ini juga akan menjadi masalah bagi penurunan penum-pang kelas ekonomi maskapai LCC di masa mendatang,” pungkasnya.

Di Bandara Hang Nadim Batam sendiri, ada 363 pener-bangan dibatalkan dalam kurun 1-24 Januari karena penurunan jumlah penumpang akibat harga tiket tinggi.

”Periode sebelumnya ada pembatalan, tapi tidak sebanyak ini,” kata Suwarso, direktur Badan Usaha Bandar Udara Hang Nadim Batam. (agf/ska)

Update