Jumat, 24 April 2026

PT Energi Unggul Persada Bangun Kilang CPO di Kabil

Berita Terkait

batampos.co.id – Investor lokal, PT Energi Unggul Persada (EUP) akan beroperasi secara penuh pada tahun 2020. Saat ini, EUP tengah membangun Bulking Station di Kabil, Batam sebagai tempat penimbunan minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO).

“Ada dua tahapan pembangunan. Tahap pertama sudah 80 persen, yakni pembuatan Bulking Station dan tanki-tankinya,” kata Deputi III BP Batam, Dwianto Eko Winaryo, Jumat (25/1/2).

Bulking Station adalah fasilitas penimbunan CPO yang terdiri dari sejumlah tangki ti09mbun CPO yang lokasinya berada di dekat pelabuhan. Tujuannya adalah untuk mempermudah proses bongkar muat pengapalan produk CPO sebelum diekspor atau menuju pabrik penyulingan untuk pengolahan selanjutnya.

Dwi mengungkapkan sebagaimana yang tertuang dalam rencana bisnis yang dibuat oleh Divisi Business and Development PT EUP. Lokasi EUP memang sangat berdekatan dengan Dermaga Curah Kabil. EUP akan membangun sekitar 70 tangki dengan 12 tangki memiliki kapasitas diatas 5.000 ton. Tangki paling besar memiliki kapasitas 10.000 ton. Pabrik milik EUP di Batam ini merupakan pabrik yang menjalankan proses downstream. Dengan kata lain, sudah memasuki proses akhir.

“Kalau proses mainstream ada di Sungai Guntung, Riau. Kami ambil resourcesnya (kelapa sawit,red) dari sana. 3.000 ton tiap hari dengan kapal menuju Batam. Jarak yang dekat membuat lebih efisien,” ungkapnya.

Ketika beroperasi nanti, EUP akan memproduksi CPO 3.500 ton per hari dan 1.000 ton biodiesel per hari. Produk olahan CPO ini rencananya akan diekspor ke Tiongkok dan Eropa. Sedangkan produk biodiesel banyak yang merupakan pesanan dari Pertamina.

Pada awalnya, EUP berencana untuk beroperasi pada tahun ini. Namun, ternyata kebun kelapa sawit milik EUP di Sungai Guntung, Riau belum memasuki masa usia produksi penuh. Karena usia sawitnya masih ada di rentang lima hingga delapan tahun.

“2020 nanti usianya pas untuk produksi. Sehingga kami akan operasi tahun depan,” ucapnya lagi.

EUP menempati lahan seluas delapan hektar yang dulunya merupakan lahan tidur. BP mencabut izin alokasi lahannya dan kemudian memberikannya kepada EUP sebagai investor baru. Nilai investasinya sendiri sekitar Rp 1,4 triliun. Untuk tenaga kerja, EUP tidak akan merekrut banyak karena tenaga kerja EUP lebih banyak difokuskan di kebun sawitnya di Sungai Guntung, Riau.

Alasan EUP memilih Batam sebagai basis operasi pabrik penyulingan yakni karena kota industri ini memiliki fasilitas fiskal seperti bebas bea masuk, pajak pertambahan nilai, pajak penjualan atas barang mewah dan cukai tentunya.

Namun, ada satu catatan penting agar kelancaran bisnis mereka bisa terjamin. Badan Pengusahaan (BP) Batam harus meningkatkan kapasitas Dermaga Curah Kabil. Hingga saat ini masih belum cukup memenuhi untuk menampung produk CPO dari pabrik-pabrik yang ada di Batam.

EUP menilai kapasitas pelabuhan belum mencukupi. Disana banyak yang menggunakan jasanya seperti Ecogreen, Musim Mas, EUP dan lainnya sehingga jika semuanya memakai sekaligus, maka pelabuhan tak bisa mengakomodir.

Sehingga sekarang, EUP memiliki rencana alternatif untuk menggunakan pelabuhan milik Pertamina agar bisa menerima atau mengirim produk olahan CPO.

Di tempat yang sama, General Manager (GM) Komersil dan Pengembangan Usaha Kantor Pelabuhan BP Batam, Johan Effendy mengatakan pengembangan Dermaga Curah Kabil akan selesai tahun ini. “Maret selesai. Pada semester kedua nanti mulai beroperasi,” ucapnya.

Pengembangan Dermaga Curah kabil yang
lebih kurang seluas 10 Hektar ini dimaksudkan untuk melayani lalu lintas dan bongkar muat CPO.

Pertama, pembangunan dermaga utama dengan panjang 273,6 meter, lebar 33 meter dengan kapasitas kapal 35.000 DWT, kedalaman alur kolam dermaga 12 mdpl.

Kedua, pembangunan sarana pontoon atau dermaga wharf sepanjang 101 meter dengan kedalaman kolam 6 mdpl. Ketiga mempercepat waktu sandar dan bongkar muat operasional pelabuhan. Total dana APBN proyek multi tahunan sejak 2016 ini sekitar Rp 208 miliar.

Sedangkan Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri, Gusti Raizal Eka Putera mengatakan bahwa pada tahun 2018, komoditi ekspor non-migas yang mengalami defisit neraca perdagangan di Kepri hampir menyentuh semua produk utama ekspor Kepri, seperti perkapalan, besi baja, mesin dan elektronik.

“Satu-satunya neraca perdagangan yang mengalami surplus adalah komoditas CPO dan olahannya. Meskipun menurun pada 2018,” ungkapnya.

Hingga triwulan kedua 2018, Gusti memaparkan pertumbuhan ekspor non migas bersumber dari peningkatan ekspor produk dari besi dan baja serta produk olahan CPO yang masing-masing tumbuh 232,27 persen dan 10,01 persen.

Secara keseluruhan, nilai ekspor Provinsi Kepri Juli 2018 mencapai 1.091,04 juta dolar Amerika. Ekspor migas Juli 2018 mencapai 353,04 juta dolar AS dan ekspor nonmigas mencapai 738.005,14 juta dolar AS. (leo)

Update