Jumat, 24 April 2026

Laporan Batam Pos tentang Pengelolaan Wisata di Negara-Negara Asia Tenggara

Berita Terkait

batampos.co.id – Kota Batam sejak lima tahun terakhir, dilihat dari segi infrastruktur yang perkembangannya cukup signifikan, telah mempunyai modal untuk mengembangkan sektor pariwisatanya. Sebut saja, infrastruktur jalan yang semakin baik, dan sudah dilengkapi dengan plang penunjuk arah dan nama-nama jalan. Bagi wisman ini sangat penting. Tapi apakah itu cukup?

Pemilik Tur Wisata online Batam Jalan Rame-Rame, Chotijah, mengatakan pariwisata Batam perlu dikembangkan dan diperbanyak lagi.

“Tak perlu membangun objek wisata baru, cukup poles dan kembangkan potensi wisata yang sudah ada saja dulu. Itu dulu diselesaikan,” ujarnya, Rabu ­( 23/1/2019) lalu.

Menurut gadis kelahiran Batam, 28 tahun lalu ini, Batam memiliki begitu banyak potensi wisata yang dapat digali dan dikembangkan menjadi tempat wisata yang menarik.

“Batam itu sebenarnya sangat menjual untuk dunia pariwisata selain wisata belanja. Wisata alamnya, wisata budayanya, bahkan kulinernya pun sangat menjanjikan,” ujarnya.

Ada beberapa destinasi wisata di Batam. Sebut saja, Jembatan Barelang, Patung Dewi Kwan Im di KTM Resort Sekupang, wisata belanja Nagoya, Pulau Abang sebagai tempat wisata bahari, Welcome to Batam di Bukit Clara, hingga wisata kuliner di Tanjungpiayu dan kawasan Tiban dan Barelang. Terbaru, hadirnya Pasar Mangrove di Desa Wisata Kampung Terih di Nongsa yang pada 2018 lalu dinobatkan sebagai destinasi wisata digital terbaik di Indonesia.

Dinas Pariwisata Batam mencatat, ada 19 objek wisata pantai, lima kawasan wisata, enam objek wisata jembatan, 14 sarana wisata pelabuhan dan bandara, 35 sarana wisata olahraga, 15 objek wisata religius, 21 objek wisata belanja, dan 118 objek wisata kuliner.

“Nah, banyak sebenarnya potensi yang bisa dimanfaatkan. Tapi dengan data itu, apakah itu semua dijual lewat paket wisata yang sinkron? Nggak kan? Kebanyakan dijalankan perseorangan, swasta. Pemerintah kurang serius menggarap,” terangnya.

Taman rusa

Menurutnya, selama ini pemerintah terlalu fokus pada angka jumlah kunjungan wisata yang masuk dan kurang fokus pada perbaikan lokasi-lokasi wisata yang sudah ada, minimnya pengelolaan kalender event tahunan, serta kurangnya pemberdayaan masyarakat sekitar sebagai bagian dari kelompok sadar wisata, dan tidak maksimal dalam hal relasi terhadap kelompok pelaku industri pariwisata.

Akibatnya, proses mendatangkan turis-turis ke objek wisata Batam ini, banyak warga, jadinya fokus perseorangan menjual paket-paket wisatanya. Umumnya dilakukan oleh orang-orang muda, atau kelompok milenial yang hobi jalan-jalan dan pintar membaca peluang.

Menurutnya, berangkat dari hobi jalan-jalan ke berbagai kawasan di Indonesia dan juga puluhan negara, Chotijah mendirikan Jalan Rame-Rame, biro perjalanan yang bergerak secara online dengan virtual office di kawasan Batam Kota. Dalam menjual paket wisata Batam, kerap kali ia bingung ketika kliennya menanyakan seputar paket wisata program pemerintah yang bisa dikunjungi di Batam.

“Sebenarnya paket-paket yang dijual untuk wisata Batam itu sangat minim. Padahal harusnya bisa banyak. Kita bisa buat sendiri, tapi kan itu program pribadi, bukan program bersama dengan agen tur yang lain dengan sepengetahuan pemerintah,” ujarnya.

Liburan empat hari di Batam, kerap membuatnya bingung dalam mengenalkan wisata Batam kepada para tamunya.

Fisherism, Tanjungriau. Lokasi ini dilengkapi tempat wisata foto, tanaman hydroponik. Lokasi ini terbuka untuk umum dan pelajar untuk belajar tanaman hydroponik dan lain sebagianya F Dalil Harahap/Batam Pos

“Dalam dua hari, kita sudah puas banget mengeksplorasi objek-objek wisata di Batam itu. Satu hari ke Pulau Abang, satu hari keliling kota termasuk kawasan Camp Vietnam, dan Barelang, wisata Pantai Ocarina. Sudah selesai. Hari selanjutnya? Terpaksa kami setting ke Malaysia atau Singapura jadinya,” ungkapnya.

Padahal, menurutnya, banyak destinasi-destinasi yang menarik di kota ini yang bisa dieksplor lagi. Kawasan mangrove yang tumbuh secara alami di beberapa kecamatan misalnya, masih tidak dimanfaatkan pemerintah. Sebab, wisatawan Jepang dan wisman lainnya sangat menyukai eksplorasi mangrove di pulau ini. Demikian halnya dengan island hopping ke pulau-pulau kecil di sekelilingnya.

“Sebenarnya tak hanya itu. Banyak yang masih potensial banget untuk dijadikan objek wisata, cuma masih belum diseriusin pemerintah,” jelasnya.

***

Berdasarkan pengalaman Batam Pos mengunjungi beberapa negara di Asia Tenggara, sebenarnya, untuk kondisi infrastruktur di beberapa objek wisatanya tidak jauh berbeda dengan Batam. Misalnya, saat mengunjungi Siem Reap, Kamboja, Oktober 2018 lalu.

Provinsi ini memiliki objek wisata terkenal, Angkor Wat atau Kota Candi. Terkenal menjadi objek wisata yang mendunia setelah dijadikan sebagai lokasi pembuatan film Tomb Rider yang dibintangi Angelina Jolie, dan kini menjadi salah satu satu UNESCO Heritage oleh PBB.

Dari pusat Kota Siemreap, jarak tempuh ke Angkor Wat ini sekitar 60 menit menggunakan tuktuk (becak khas Kamboja, red). Untuk memasuki kawasan Small Circle Angkor Wat, setiap pengunjung wajib membayar tiket 37 dolar AS untuk satu hari, atau 67 dolar AS untuk paket dua dan tiga hari, serta 72 dolar AS untuk paket tujuh hari. Khusus penjualan tiket ini tidak dijual secara online. Dipusatkan di satu tempat saja, yakni di kantor Angkor Conservation Ticket Area di Kota Siemreap.

Harga itu untuk tiket masuk saja, belum lagi untuk rental mobil atau tuktuk. Untuk tuktuk, dikenakan biaya 15 dolar AS per hari, belum termasuk biaya makan pengemudi. Masing-masing pengemudi tuktuk ini adalah warga lokal yang diberdayakan pemerintah.

Umumnya, mereka sudah paham percakapan Bahasa Inggris dasar, atau Bahasa Melayu karena sering membawa wisatawan dari Malaysia dan Indonesia.

Tak cukup di situ saja. Selama memasuki kawasan candi, misalkan kawasan Angkor Wat atau di kawasan Bayon Temple yang jaraknya lumayan jauh, Departemen Pariwisata Siemreap menempatkan para pegawainya menjadi tur guide. Tak tanggung-tanggung, mereka adalah tur guide berlisensi dari Kerajaan Kamboja.

Mereka dibagi dalam beberapa kelompok. Ada tur guide khusus berbahasa Prancis untuk melayani turis dari Prancis, tur guide berbahasa Madnarin untuk melayani turis dari Tiongkok, dan tur guide berbahasa Inggris untuk turis umum. Bagi para turis yang ingin didampingi tur guide, bisa membayarnya mulai dari 15 sampai 100 dolar AS. Tergantung lama waktu yang dipilih.

Pemerintah Kerajaan Kamboja cukup serius dalam bidang pariwisata ini. Namun bagaimana dengan akses di sana? Akses di lokasi wisata sangat bagus. Namun untuk masuk ke kawasan candi-candinya di tengah hutan, akses dibiarkan natural. Jalan tanah tapi bersih.

Di antara jalan-jalan itu, warga lokal menjajakan jualannya, seperti sutra, lukisan, tempelan kulkas, dan hasil kerajinan warga lokal. Kios mereka tidak modern. Hanya bedeng dengan terpal atau seng terbuka.

Sementara di pusat kota, tersedia Siemreap Night Market di Pub Street. Setiap malam, satu titik kawasan jalan itu ditutup untuk transportasi. Kawasan pub-pub terkelompok di sana, demikian juga para warga lokal yang menjajakan aneka menu makanan dan minuman di gerobak-gerobak berkumpul di sana. Tiap malam, kawasan itu menjadi pusat kuliner yang dipadati para turis.

Mengenai akses jalan, Siemrap masih menggunakan aspal mentah, dan kondisinya berdebu. Namun, tetap saja disukai turis. Promosi wisata dengan menjual keunikan 3A yakni Akses, Amenitas, dan Atraksi menjadi alasannya.

Demikian halnya Vietnam. Negara yang bisa diakses lewat jalur darat selama lima jam dari pusat Kota Pnom Penh di Kamboja ini, perkembangan pelayanan pariwisatanya sangat pesat sejak lima tahun terakhir.

Awal November 2018 lalu, Kota Ho Chi Minh sudah sangat berubah dibanding saat wartawan koran ini berkunjung ke sana pada Oktober 2013 lalu. Hampir 80 persen pusat atraksi turis dan fasilitas umum di Distrik 1,2, dan 3 kini dilengkapi jaringan nirkabel Wi-Fi tanpa Password. Siapa pun bebas mengaksesnya.

Tak hanya itu, sejumlah toilet umum dengan fasilitas baik tersedia di beberapa titik. Seperti di kawasan Pham Ngu Lao Ward, City Hall Palace, dan beberapa tempat lainnya. Disediakan gratis bagi siapa saja, dan sangat dirawat bersih. Masuk ke dalamnya saja, setiap pengunjung wajib membuka sepatu dan staf penjaga toilet menyediakan sandal khusus yang tertata rapi di rak sebelah kanan pintu masuk.

Infrastruktur jalan sedang proses pembangunan besar-besaran. Demikian halnya akses LRT dan MRT yang tengah dibangun di sana untuk menghubungkan tempat-tempat wisata seperti misalnya dari Saigon Centre menuju pasar tradisional yang kini menjadi pasar wisata terkenal di Ho Chi Minh, Benh Thanh Market. Meski proses pembangunan berlangsung, tapi tidak mengganggu aksesibilitas. Di antara lokasi pembangunan jalan itu, disediakan pedestrian untuk turis dan warga lokal.

Perlahan tapi pasti, mengenai kesemrawutan lalu lintas di sana, kini para pejalan kaki lebih dihargai. Disediakan tombol khusus untuk menghentikan kendaraan di tiap persimpangan lampu merah, layaknya di Singapura. Itu baru satu kawasan saja, Ho Chi Minh.

Di kota itu, para mahasiswa atau pelajar diberdayakan pemerintah. Sebagai bagian dari memajukan pariwisata Vietnam, dalam memanfaatkan waktu luangnya dari sekolah, mereka akan bergerombol di berbagai objek-objek wisata dan menawarkan diri menemani para turis untuk mengunjungi objek wisata lainnya dan menjelaskan apa makna atau sejarah di balik objek wisata tersebut. Tanpa dibayar .

“Sebagai wujud sosial kami kepada negara, dan rasa terimakasih kami kepada para turis yang berkunjung, membuat negara kami semakin dikenal di luar sana,” ujar Pham, perempuan yang masih kuliah tingkat satu di Jurusan Ekonomi, saat ditemui di kawasan wisata Kantor Pos Ho Chi Minh.

Mengenai paket wisata, Vietnam sangat cekatan dalam menjual paket wisata pedesaannya di masing-masing provinsinya. Mereka menjual kehidupan warga lokal sehari-sehari kepada turis dengan harga terjangkau. Misalnya, paket wisata Telusur Sungai Mekong di Desa Cai Be, Provinsi Tien Giang.

Sementara itu, dunia pariwisata Thailand sangat jauh lebih berkembang dibanding Indonesia karena pengelolaan pemerintahannya melalui Tourism Authority of Thailand (TAT) kepada masyarakatnya sangat baik. Bersamaan dengan pengembangan objek wisata, pemerintahannya juga turut membangun kelompok sadar wisata di tiap-tiap objek wisatanya, serta mengajak warga lokal membuka bisnis penginapan, kerajinan dan kuliner dengan perizinan yang sangat mudah.

Mengeksplorasi potensi pariwisata kawasan menjadi ladang pendapatan untuk negeri pun dilakukan. Hampir semua kalender event Thailand selalu menjadi pusat perhatian dunia.

Sebut saja, Festival Songkran. Merupakan tahun baru penanggalan Thailand yang tahun ini jatuh pada 13-15 April mendatang. Perayaan ini merupakan pesta air yang melibatkan seluruh warga dan wisman yang berkunjung. Diadakan setiap tahun di seluruh penjuru Negeri Thailand. Ini menjadi kalender event tahunan Thailand, selain festival Bunga Teratai atau Lay Khratong setiap akhir Oktober-Awal November setiap tahunannya. Thailand berhasil mengelola event ini dan mendatangkan jutaan turis dalam setiap perayaannya.

“Ini yang tidak kita punyai. Sinergi antara pemerintah dan pengelola wisata, juga terhadap pelaku bisnis pariwisata seperti yang sudah berjalan di Vietnam, Kamboja, dan Thailand. Di sini masih cenderung bekerja sendiri-sendiri. Pun kalau ada pembahasan, diadakan di hotel, tapi tak menjangkau seluruh kalangan. Tidak maksimal,” ujar Pengelola Kawasan Wisata Bahari Pulau Abang, Ledi Seman di Batuaji, Selasa (22/1) lalu.

Ledi menyebutkan, untuk mengembangkan pariwisata suatu kawasan, tak bisa kalau hanya berdiri sendiri. Melainkan harus dikerjakan bersama-sama.

Dalam hal pengelolaan kawasan wisata Pulau Abang, misalnya. Ia menyebutkan, dukungan Pemerintah Kota Batam dalam pengembangannya hanya membangun empat homestay di sana. Untuk fasilitas, ia isi sendiri dengan hasil penjualan paket wisata kepada para pengunjung.

“Hanya itu saja. Tapi memang pun kalau ada yang menginap di sana, hasil dari homestay itu tidak pernah disetor ke Dinas Pariwisata,” ungkapnya.

Ledi merupakan pelopor pembuka paket wisata bawah laut di Pulau Abang sejak 2005 lalu. Lahir dan tumbuh di sana, ia pun punya kerinduan mengembangkan tanah kelahirannya tersebut supaya lebih dikenal dunia luar. Aksesnya pun kini semakin mudah lewat paket perjalanan yang ia tawarkan.

***

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam Ardi Winata mengungkapkan, penyusunan paket wisata Batam dan homestay menjadi program utamanya di 2019 ini. Pihaknya akan menggelar pelatihan homestay. Sementara diadakan di tiga kawasan, yakni Nongsa, Belakangpadang, dan Tanjunguma.

“Akan kami survei dulu, warga di sana kami latih menyediakan satu kamar untuk turis di rumahnya. Nah, ketika dia menginap di sana, dia bisa menikmati kehidupan sehari-hari warga lokal,” ujar Ardi ketika ditemui di kantornya di Batam Kota, Rabu (23/1) lalu.

Mengenai penyusunan paket wisata Batam, pemerintah masih dalam upaya penataan dan akan bekerja sama dengan seluruh agen perjalanan yang terdaftar. Usai penataan akan dibuat paket wajib.

“Sebenarnya, selama ini banyak agen travel yang buat paket wisata Batam, tapi tak terkoordinasi dengan baik. Nah makanya mulai tahun ini, wajib semua harus bawa satu, dikenalkan ke kita (Disbudpar, red),” jelasnya.

Ia mengakui, dalam hal pengelolaan pariwisata di Batam, masih banyak kekurangan dan butuh banyak pembenahan.

“Pengembangan objek wisata selama ini terkendala di lahan. Tapi ini akan kami perbaiki dan urus secara perlahan-lahan,” ungkapnya. Disbudpar Batam menganggarkan Rp 7,3 miliar khusus untuk dana pembangunan dan pengembangan potensi pariwisata.

foto: batampos.co.id / dalil harahap

Pada 2018, Batam berhasil mencapai target 1,8 juta kunjungan turis mancanegara. Pada 2019 ini, target meningkat menjadi 2,4 juta kunjungan wisman.

“Kami optimistis tercapai. Mengapa? Karena dilihat dari tren kunjungan lima tahun terakhir, selalu terjadi peningkatan,” jelasnya.

Tak hanya itu, Disbudpar Kota Batam juga akan membenahi Aksesibilitas, Amenitas, dan Atraksi (3A). Untuk atraksi ada 114 kalender event yang sudah disiapkan.

Sementara itu, selain Pemko Batam, BP Batam juga kini mengembangkan distinasi kawasan wisata. Salah satunya Agromarina di Sekupang. Berikutnya adalah pengembangan Kawasan Tanjungriau Fisherism dengan luas mencapai 3,93 hektare terdiri dari 2,23 hektare lahan di laut dan 1,7 hektare lahan di darat. Dan terakhir mengembangkan Camp Vietnam di Galang. Luas Camp Vietnam mencapai 80 hektare. (cha/leo))

Update