Banyak yang bilang, 2019 adalah tahun politik. Tahun yang penuh ketidakpastian. Benar atau tidak? Semua orang punya tafsir masing-masing.

Pekan lalu, saya bertandang ke Kabupaten Tanjungbalai Karimun. Tepatnya Kamis tanggal 24 Januari 2019. Menjalani rutinitas triwulan. Rapat evaluasi dengan perwakilan. Biasa, bahas perencanaan, proyeksi, dan evaluasi.



Sore hari usai rapat, saya diajak jalan-jalan ke Coastal Area. Penasaran pengin lihat Karimun Gold Coast. Megaproyek yang digadang-gadang mampu menyaingi negara tetangga. Singapura dan Malaysia.

Maklum, selama ini hanya melihat video profilnya saja.

Akhirnya, cita-cita saya tercapai. Keinginan melihat kawasan yang kesohor dari dekat kesampaian juga. Sembari merekam, saya menikmati pemandangan aktivitas pembangunan megaproyek yang digarap Panbil Group itu.

Kawasannya strategis. Dari Google Map juga tampak jika kawasan mandiri itu berada di jalur pelayaran terpadat di dunia. Selat Malaka. Sembari menikmati pemandangan, saya mencoba mengulik informasi melalui batampos.co.id.

Kabarnya, Karimun Gold Coast merupakan wajah baru Kabupaten Karimun. Soft launching digelar, Sabtu 19 Januari 2019. Hebatnya, delapan ruko langsung terjual. Dihadiri langsung Chairman Panbil Group, Johanes Kennedy.

Didesain modern dan lengkap dengan fasilitas cukup megah yang langsung menghadap ke pantai pesisir timur Coastal Area, Karimun Gold Coast menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen. Kawasan ini memiliki luas mencapai 100 hektare.

Terminal feri dan ruko masuk dalam proyek tahap pertama. Penyelesaiannya diperkirakan dua tahun. Dengan investasi tahap awal mencapai Rp 2 triliun. Luar biasa.

Sekembalinya ke Batam keesokan harinya, saya mendapat kabar ada pengembang yang akan berinvestasi. Senin 28 Januari 2019, digelar launching Nagoya Thamrin City di Aston Batam Hotel & Residence.

Kabarnya, ini adalah tempat dengan gaya hidup modern, dinamis yang memberikan kenyamanan. Lokasinya tepat di pusat Batam. Jantung Nagoya.

Gaya hidup modern berada dalam satu area. Ada dua tower apartment, dua tower office, serta tiga tower hotel dilengkapi comercial atau shophouse, dan fresh market.

Saya pun berkesempatan berbincang dengan owner Nagoya Thamrin City, Go Wiemeng. Obrolan kami begitu santai. Banyak hal jadi perbincangan. Salah satunya bisnis properti yang kembali seksi.

Yup. Melihat geliat para pengusaha Kepri dalam membangun bisnis properti membuat saya makin optimistis. Bisnis properti mulai kembali ke “jalan” yang benar.

Ini kabar baik. Bisnis properti boleh dibilang sebagai salah satu penopang perekonomian provinsi ini. Sempat tiarap di tengah runtuhnya perekonomian, properti mulai membaik.
Hal ini seolah menjadi obat pelipur lara di tengah inkonsistensi pemerintah pusat dalam mengelola Batam. Kita sama-sama tahu bahwa, Batam berpengaruh besar terhadap “nasib” ekonomi Kepri.

Ketika terjadi ribut-ribut soal nasib Badan Pengusahaan (BP) Batam, banyak yang resah. Namun, semangat yang ditunjukkan pengusaha kita mampu menumbuhkan gairah baru.
Masih ada rasa optimisme. Terlepas dari kondisi perekonomian yang pasang-surut bak lautan. Saya pikir persoalannya bukan pada peleburan BP Batam atau bukan. Melainkan lebih kepada kejelasan regulasi.

Dengan regulasi yang tidak tumpang-tindih, akan menumbuhkan geliat investasi. Juga akan memberikan rasa nyaman dan aman dalam berinvestasi.

“Properti ini seksi,” kata salah seorang kolega saya. Dengan tumbuhnya properti, akan mengerek sektor lainnya. Otomotif, retail, hingga furniture akan terkerek naik. Ekonomi kian membaik. Batam kembali pulih. Kepri makin kokoh.

Saya berharap, 2019 menjadi awal yang baik untuk kebangkitan ekonomi daerah ini. Acuannya bukan hanya Karimun Gold Coast atau Nagoya Thamrin City saja. Namun juga megaproyek lain seperti Oxley, Pollux Habibie, CitraPlaza Nagoya, dan megaproyek properti lainnya.(*)

Loading...