Jumat, 24 April 2026

Harga Tiket Pesawat Mahal, Dugaan Ada Permainan Kartel

Berita Terkait

batampos.co.id – Harga tiket pesawat yang mahal menjadi perhatian dari pengusaha dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Batam. Plt Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid mengatakan harga tiket pesawat yang mahal tidak terlepas dari berkurangnya jumlah maskapai yang beroperasi di Indonesia.

“Ketika jumlah maskapai berkurang, maka pasar penerbangan di Indonesia mulai beralih. Kalau sebelum ini, pasarnya kompetitif jadi beralih ke oligopoli,” kata Rafki, Senin (28/1/2019).

Dalam pasar oligopoli, ada kecenderungan terbentuknya kartel. Kartel ini semacam kesepakatan antarmaskapai untuk sama-sama menaikkan harga agar memaksimalkan keuntungan yang mereka dapat.

“Kartel ini dilarang dan KPPU juga tengah menyelidiki kemungkinan adanya kartel ini,” ujarnya.

Kenaikan harga tiket pesawat ini harus menjadi perhatian pemerintah karena berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi. “Dampak dari mahalnya harga tiket pesawat ini akan menimbulkan dampak mematikan bagi banyak sektor usaha terutama UKM dan pariwisata,” paparnya.

Dengan mahalnya tiket pesawat, turis lokal dan mancenegara akan berpikir ulang untuk melakukan perjalanan dalam negeri, kecuali kalau urusannya mendesak.

“Untuk berwisata, mungkin masyarakat akan memilih berwisata ke luar negeri daripada domestik. Akibatnya, aktivitas di destinasi wisata, tingkat hunian hotel, penjualan souvenir oleh-oleh, usaha traval akan menurun dan banyak dampak merugikan lainnya,” tegasnya.

Kenaikan harga tiket pesawat yang dibarengi dengan kebijakan bagasi berbayar juga membuat aktivitas jual beli online terpukul. “Ujung dari semua ini adalah tekanan terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi nasional. Inflasi akan terkerek naik dan pertumbuhan ekonomi nasional akan tertekan,” paparnya.

Di tempat lain, KPPU Batam melakukan penelitian tentang mahalnya harga tiket pesawat ini. Kemudian menyuplai datanya ke KPPU pusat yang tengah menyelidiki adanya dugaan permainan kartel terhadap harga tiket pesawat dan kenaikan harga jasa kargo udara.

“Kita sama dengan KPPU pusat melakukan penelitian tentang tiket di Batam. Kita sampaikan ke pusat bahwa harga masih tinggi dan beberapa maskapai juga ikut mengurangi rute penerbangan ke Batam,” kata Ketua KPPU Batam Akhmad Muhari.

KPPU Batam belum bisa memastikan apakah jumlah penerbangan berkurang karena penurunan jumlah penumpang atau karena ada faktor yang lain. “Ini yang tengah kami teliti,” ujarnya.

foto: batampos.co.id / putut ariyotejo

Di Indonesia, lanjutnya, ada dua pemain besar di dunia maskapai penerbangan yakni grupnya Garuda yang terdiri dari Citilink dan Garuda dan grupnya Lion Air. Kedua-duanya serentak menaikkan harga tiket dan juga menerapkan bagasi berbayar seperti yang telah diatur dalam Pasal 22 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 185 Tahun 2015 tentang standar pelayanan penumpang kelas ekonomi angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri.

Karena fakta tersebut, KPPU pusat menduga ada permainan kartel yang melakukan praktik oligopoli. Dalam melakukan penyelidikannya, KPPU Pusat telah memanggil sejumlah pihak terkait seperti dari maskapai penerbangan yang bersangkutan. Aksi tersebut kemudian diteruskan agar dilakukan di KPPU setingkat daerah seperti di Batam untuk mengumpulkan data komprehensif supaya kesimpulan bisa dicapai.

Omzet Turun 60 Persen

Sementara kalangan pengusaha oleh-oleh di Batam mulai merasakan dampak dari penerapan bagasi berbayar sejumlah maskapai sejak sepekan terakhir. Mereka mengaku omzetnya turun hingga 40 persen karena sepi pembeli.

Seperti yang dikeluhkan Prayogi Ramadan pedagang oleh-oleh di Kedai Durian Tok Ngah yang juga memiliki toko di Bandara Hang Nadim dan Batam Centre. Sejak sepekan terakhir, omzet harian Kedai Durian Tok Ngah rata-rata turun hingga 60 persen.

“Bahkan sejak isu penghapusan free bagasi muncul, sejumlah toko di Bandara Hang Nadim mulai sepi,” ujarnya, Senin (28/1/2019).

Ia mengatakan sempat khawatir untuk membayar sewa tempat dan gaji karyawan yang bekerja dengannya.

“Karena penurunannya sangat terasa sekali,” kata Prayogi.(ska)

Update