Selasa, 28 April 2026

Imlek, Warga Singapura Inden Ikan Dingkis ke Batam

Berita Terkait

Penjual ikan dingkis di pasar Tiban Center.
foto: batampos.co.id / peri irawan

batampos.co.id – Ikan dingkis salah satu jenis ikan baronang atau dengan nama latin Siganus Canaliculatus. Setiap perayaan Imlek atau perayaan tahun baru Cina, ikan dingkis selalu diburu warga Tionghoa Kepri. Bagi masyarakat Tionghoa, ikan dingkis dipercaya membawa rezeki dan hoki.

Sepekan menjelang perayaan Imlek 2570, pasokan ikan dingkis di pasar-pasar tradisional di Batam langka, hingga memicu naiknya harga ikan tersebut. Pantauan Batam Pos di Pasar Tiban Center, ikan dingkis dijual Rp 180 ribu per kilogram (kg), padahal, biasanya berkisar Rp 50 ribu per kg.

Hendri, 38, pedagang ikan di Pasar Tiban Center mengatakan, saat ini ia menjual ikan dingkis Rp 150 per kg. Untuk satu kilogram berisi 6-7 ekor. Dia memperkirakan harga ikan dingkis terus merangkak naik hingga mendekati perayaan Imlek, karena kebutuhannya meningkat.

Sayangnya, kata dia, pasokan ikan dingkis menipis karena saat ini nelayan susah mencari atau melaut karena sedang musim angin utara. ”Harganya masih bisa naik menjelang perayaan Imlek. Harganya tergantung ukurannya juga,” ujarnya, Selasa (29/1/2019).

Dia menyebutkan, jika pasokan makin langka maka harga ikan dingkis bisa mencapai Rp 450 ribu-Rp 500 ribu per kg.

”Terutama saat H-1 Imlek, semakin langka semakin juga makin mahal harganya,” terangnya.

Tidak hanya itu, Hendri menyebut ketersediaan ikan dingkis mulai berkurang, bahkan warga negara Singapura datang langsung ke Batam untuk membeli langsung ke nelayan.

Kata dia, warga Singapura ada yang sudah punya kenalan nelayan Batam, sehingga pasti mendapatkannya.

Ikan dingkis yang ia jual didatangkan dari Pulau Kasu dan Tanjungriau.

”Ada juga sebagian pedagang yang mendatangkan ikan dingkis dari Barelang,” imbuhnya.

Kertas Sembahyang Paling Banyak Diburu

Sejumlah toko pernak-pernik khas Tiongkok mulai diserbu warga Tionghoa untuk membeli kebutuhan menyambut Imlek yang jatuh pada 5 Februari mendatang. Seperti pedagang pernak-pernik Imlek di Pasar Aviari, Batuaji, Pasar Fanindo, dan toko lainnya. Paling banyak diburu adalah lampion, hiasan interior rumah hingga perlengkapan sembahyang atau kertas sembahyang.

Mira, 29, pedagang pernak-pernik Imlek di Pasar Aviari mengaku telah mempersiapkan beragam kebutuhan Imlek dengan jumlah banyak jauh-jauh hari. Untuk harga bervariasi, mulai Rp 15 ribu hingga Rp 45 ribu untuk dupa, tergantung ukurannya.

”Keperluan Imlek paling banyak adalah kue bakul atau keranjang yang khusus dijajakan menjelang tahun baru Cina atau Imlek,” katanya.

Dia mengaku omzet penjualannya tahun ini meningkat dibanding tahun lalu. Pembeli banyak dari daerah lain.

”Mereka umumnya membeli kue bakul dan dupa, serta kertas sembahyang,” ujaranya.

Senada diungkapkan pedagang lainnya, Akiau. Pria 36 tahun ini mengatakan bahwa saat ini paling laris dijual iadalah kertas dupa dan kertas sembahyang serta kue bakul.

Seminggu berjualan sudah mendapatkan omzet lumayan.

”Lumayan lah. Saya juga berharap menjelang Imlek ini semoga tahun baru yang penuh berkah dan pembaharuan untuk Indonesia,” ujarnya singkat.

Kue Keranjang Makan Wajib

Kue keranjang atau dodol menjadi makanan wajib masyarakat Tionghoa saat Imlek. Tak hanya dimakan, kue ini juga digunakan sebagai sesaji pada upacara sembahyang leluhur, terutama tujuh hari menuju Imlek.

Kue bernama asli Nian Gao ini dibuat dari tepung ketan yang punya sifat lengket. Ini punya makna persaudaraan yang begitu erat dan selalu menyatu. Sedangkan bentuk bulat kue keranjang tanpa sudut di semua sisi melambangkan pesan kekeluargaan, tanpa melihat ada yang lebih penting dibanding lainnya dan akan selalu bersama tanpa batas akhir.

Karena itu, tak heran jelang Imlek jumlah kue keranjang mulai banyak dijual pedagang-pedagang Tionghoa. Harga yang ditawarkan pun bervariatif, mulai Rp 8 ribu hingga puluhan ribu rupiah. Tergantung besar dan kecil ukurannya.

Alie, pedagang di Pasar Mitra Raya, Batam Center mengatakan kue keranjang hanya ada jelang perayaan Imlek. Kue tersebut memiliki makna dan harapan besar bagi warga di pergantian Tahun Baru China.

“Harganya macam-macam, tergantung ukuran. Rasanya manis, lengket. Sama seperti dodol,” sebut Alie.

Menyantap kue keranjang, diharapkan sepanjang tahun itu hidup akan berjalan dengan manis penuh keberuntungan. “Ada yang makan, ada juga yang untuk sembahyang,” tuturnya.

Menurut dia, biasanya kue keranjang disusun ke atas makin kecil. Hal itu bermakna peningkatan rezeki atau kemakmuran. “Ya beda-beda orang cara menyajikannya,” pungkas Alie. (cr1/cr2)

Update