
batampos.co.id – Wilayah perairan Batam sedang dilanda musim utara. Gelombang dan arus laut cukup kencang. Nelayan terpaksa berhenti melaut untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Nelayan di wilayah Sagulung misalkan, sudah tak melaut selama dua pekan ini. Mereka memilih tinggal di rumah sebab kondisi laut sedang tak bersahabat.
“Kami tak ingin istri jadi janda Pak. Arus laut lagi kencang-kencangnya ini. Terlalu berbahaya kalau melaut,” ujar Sanidin, nelayan Dapur 12, Sagulung.
Dikatakan Sanidin, meskipun wilayah periaran Sagulung diapiti oleh berbagai pulau kecil tetap saja berisiko jika dipaksakan berlayar atau melaut di puncak musim utara ini. Ini karena arus laut bergerak dengan cepat apalagi saat air laut pasang.
“Sudah jadi tradisi ini. Kalau musim utara memang tak melaut kami. Di sekitar sinipun bahaya karena arus laut tak tentu arah,” ujarnya.
Selain nelayan, aktifitas pelayaran antar pulau juga terganggu. Itu karena penambang pancung boat di pelabuhan Sagulung ataupun pelabuhan lain di Barelang enggan melayani pelayaran jarak jauh. Pembang pancung tak mau ambil risiko sebab arus laut cuku kencang.
“Kalau dekat-dekat tak apa. Tapi kalau jauh tak berani. Laut bergelombang,” kata Fauzi, penambang pancung boat di Sagulung.
Senada disampaikan Syafaruddin penambang pancung boat asal pulau Lance, mengaku sudah sepekan ini hanya melayani penumpang ke pulau-pulau yang berdekatan dengan jembatan II. Untuk pulau yang agak jauh atau jauh tidak dilayani karena laut sedang tak bersahabat.
“Paling ke pulau Lance seperti ini. Yang dekat-dekat ja. Yang jauh tak berani kami,” ujarnya.
Imbas dari kondisi cuaca yang kurang bersahabat ini tentu berdampak bagi penghasilan nelayan ataupun penambang pancung. Nelayan jadi tak bisa berpenghasilan karena tak melaut. Begitu juga penambang pancung omset pemasukan menurun dratis sebab tidak setiap saat melayani permintaan penumpang.
“Kalau dalam angka presentase bisa kurang sampai 70 persen. Laut begini macam mana mau melaut,” ujar Syafarudin. (eja)
