batampos.co.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam kembali mengingatkan warga agar serius dalam menjaga kebersihan rumah dan lingkungan tempat tinggalnya, guna mencegah berkembang biaknya nyamuk aedes aegypti, penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD).
Kepala Dinkes Kota Batam Didi Kusmarjadi mengatakan berbagai kegiatan pencegahan DBD telah dilakukan, seperti memantau jentik nyamuk di beberapa daerah atau wilayah yang ditemukan DBD. ”Pemantauan (jentik nyamuk, red) ini langkah dini mencegah perkembangan nyamuk (aedes aegypti). Seluruh kader sudah menjalankan ini,” kata Didi, Rabu (30/1/2019).
Pemantauan jentik nyamuk dilakukan di tempat penampungan air atau tempat-tempat tegenangnya air seperti pot bunga, dispenser, bak mandi, dan tempat yang dianggap bisa menjadi sarang nyamuk.
”Kami kan sudah punya program juga satu rumah satu jumantik (juru pemantau jentik, red). Ini juga bisa membantu mencegah nyamuk penyebab DBD berkembang,” ujarnya.
Dia menyebutkan selama 2018 lalu, sedikitnya 639 orang positif menderita DBD, dimana dua meninggal dunia. Sedangkan sepanjang Januari 2019 ini, terdapat 86 orang posisi DBD yang tersebar di berbagai kecamatan di wilayah Kota Batam.
Untuk itu, kata Didi, semua warga harus membantu menjaga kebersihan agar tidak terjadi kejadian luar biasa (KLB). ”Jangan sampai KLB lah. Untuk itu semua harus membantu,” sebutnya.

Menurut Didi, pihaknya juga sudah melakukan penyemprotan atau pengasapan di beberapa lokasi yang ditemukan kasus DBD. Kendati, pengasapan tersebut bukan cara terbaik untuk membunuh nyamuk penyebab DBD.
”Yang paling bagus itu 4M plus (menguras, mengubur, menutup, memantau, dan plus menghindari gigitan nyamuk dengan mengunakan pembasmi nyamuk dan menggunakan kelambu saat tidur, red). Fogging ini dilakukan kalau sudah ada korban yang ditemukan tapi cara ini tidak efektif. Sebab nyamuk semakin bertahan jika kena fogging,” bebernya.
Warga juga harus cepat tanggap mengenali ciri-ciri demam berdarah. Ciri awal DBD di antaranya nyeri di bagian punggung, sendi, dan tulang, hilang selera makan, kelelahan atau panas dingin, mual serta muncul ruam-ruam merah pada kulit.
”Jika ada anggota keluarga yang memiliki ciri-ciri tersebut segera bawa ke pusat layanan kesehatan agar bisa ditangani dengan cepat,” imbaunya.
Kepala Puskesmas Tiban Baru Ana Hasina mengatakan bulan ini ada satu orang yang ditemukan positif menderita DBD di Tiban Lama.
”Baru satu yang ditemukan (menderita DBD, red). Kami sudah lapor juga dan dilakukan fogging,” lanjutnya.
Selain fogging atau penyemprotan, pihaknya juga melakukan pemberian obat pembunuh bibit nyamuk (Abate) kepada warga sekitar rumah penderita. Ia menjelaskan kalau ditemukan kasus warga harus segera melakukan gotong royong berupa membersihkan lokasi rumah korban, fasum hingga lingkungan sekitar rumah korban.
”Kalau fogging itu kan di dinas. Kalau kami pemberian abate hingga pemantauan jentik nyamuk sebagai langkah pencegahan,” terang Ana.
Pihaknya, lanjut Ana, selalu berkoordinasi dengan perangkat RT/RW hingga lurah setempat untuk menggelar kegiatan gotong royong.
”Biasanya Sabtu atau Minggu juga turun goro. Jadi, semuanya harus terlibat untuk pencegahan DBD ini,” tutupnya.
Sementara itu, di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah di Batuaji, mencatat ada 72 pasien terserang penyakit DBD pada tahun 2018. Dua di antaranya anak-anak dan dewasa meninggal dunia akibat sengatan nyamuk mematikan tersebut.
Kepala Layanan Medik RSUD Embung Fatimah Ratna Irawati mengatakan selama 2018 lalu ada 47 pasien yang dirawat di RSUD karena penyakit DBD, serta terdapat enam pasien yang terserang Dengue Shock Syndrome (DSS). Kasus kematian DBD pada umumnya karena keterlambatan penangaan saat pasien sudah mengalami DSS.
”Biasanya ditandai dengan suhu tubuh di bawah normal, nadi dan tensi menurun, dan trombosit menurun drastis yang menyebabkan pendarahan di dalam,” jelasnya, Rabu (30/1/2019).
Untuk 2019 ini, RSUD merawat satu orang pasien yang terjangkit DBD.
”Pasien yang saat ini dirawat di RSUD adalah pasien rujukan, bisa saja rujukannya tidak ke sini, tetapi untuk itu kita semua harus tetap waspada. Jaga kebersihan lingkungan serta ikuti petunjuk-petunjuk pencegahan penyakit DBD yang ada,” jelasnya
Menurutnya, di musim penghujan yang masih melanda Kota Batam memberikan peluang tersebarnya penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk aedes aegypti tersebut.
Terpisah, Kepala Puskesmas Seilekop Erizal mengatakan tercatat di Desember 2018 lalu sekitar 10 orang terjangkit DBD, dimana sebagian besar adalah anak-anak. Namun, pasien sudah dirujuk ke rumah sakit guna proses pemulihan lebih lanjut,” singkatnya. (cr1/une)
