batampos.co.id – Produsen gawai pintar ternama, Apple Inc. berencana membangun pusat inovasi teknologi di Batam. Tujuannya untuk memenuhi penghitungan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) berbasis pengembangan inovasi yang diwajibkan Pemerintah Indonesia, agar bisa menjual produknya di dalam negeri.
Direktur Lalu Lintas Barang BP Batam Tri Novianto menga-takan Apple sudah berkomitmen untuk membangun tiga pusat inovasi di Indonesia. Pusat inovasi pertama sudah dibangun di BSD City, Tange-rang, Banten. Dua lainnya ada di Pulau Jawa dan diluar Pulau Jawa.
Tri mengatakan Apple berencana akan mencari gedung yang bisa disewa di Batam. Namun, ia belum mengetahui kapan Apple akan memulai proyeknya tersebut.
“Ini untuk memenuhi peraturan TKDN yang berlaku di Indonesia. Tujuan dari peraturan ini adalah untuk mengu-rangi impor bahan baku dan komponen guna menggairahkan industri lokal,” katanya di Gedung Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri, Kamis (31/1/2019).
Peraturan mengenai TKDN tertuang dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 29 Tahun 2017 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penghitungan Nilai TKDN Produk Seluler, Komputer Genggam dan Komputer Tablet.
“Penyebabnya karena impor gadget menjadi nomor empat terbesar setelah impor minyak dan gas. Makanya sekarang produsen luar negeri bisa jualan di Indonesia kalau merakit smartphone-nya di Indonesia. Kita coba di Batam agar gadget yang diproduksi di sini bisa banyak konten lokalnya,” ungkapnya.
Peraturan mengenai konten lokal ini tergantung dari jumlah investasinya. TKDN paling kecil sekitar 20 persen untuk investasi total mulai Rp 250 miliar sampai Rp 400 miliar. TKDN 25 persen untuk total investasi Rp 400 hingga Rp 550 miliar. TKDN 30 persen untuk investasi mulai dari Rp 550 miliar hingga Rp 700 miliar. TKDN 40 persen dengan investasi lebih dari Rp 1 triliun.
Pada umumnya kandungan lokal 20 persen tersebut berasal dari kardus boks, buku manual berbahasa Indonesia, sekrup, dan lainnya yang dibuat dengan menggandeng perusahaan lokal.
Tri mengatakan pemilihan Batam merupakan rekomendasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Hal itu terbukti karena banyak produsen smartphone mancanegara yang memilih Batam sebagai basis pabrik perakitan, seperti Huawei, Xiaomi, Asus, Nokia, Honor, dan merek lainnya.
“Batam juga sekarang menyuplai 40 hingga 50 persen smartphone untuk kebutuhan lokal,” paparnya.
Sedangkan Apple yang memproduksi iPhone tidak mau produknya dirakit di Indonesia. Namun karena Indonesia merupakan pasar yang potensial karena jumlah penduduknya, iPhone lebih memilih berinvestasi membangun pusat inovasi. Total investasinya mencapai 44 juta dolar Amerika atau Rp 615 miliar.
Pusat inovasi yang bertajuk Apple Developer Academy ini akan menerbitkan talenta lokal yang lihai dalam mengerjakan bahasa pemerograman di ekosistem Apple. Kebutuhan akan developer aplikasi yang ahli di bidang pemrograman iOS memang dibutuhkan karena Indonesia tengah berkembang menuju era industri 4.0.
Kabar mengenai rencana Apple ini disambut baik kalangan pengusaha. Wakil Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, Tjaw Hoeing mengatakan, meski belum mendapat informasi detail rencana Apple, namun ia menyambut baik. Menurutnya Batam memang daerah tujuan investasi yang tepat.
Perusahaan Tiongkok Tunggu Pilpres Usai
Tak hanya Apple Inc. yang akan menanamkan modalnya di Batam, sejumlah perusahaan dari Tiongkok juga siap-siap berinvestasi di Batam. Namun, realisasinya menunggu hasil pemilihan umum (pemilu) April mendatang.
“Kalau sounding memang banyak yang berencana masuk ke Batam. Terutama investor dari Tiongkok akibat imbas perang dagang dengan Amerika,” kata Plt Apindo Batam, Rafki, Rabu (30/1/2019).
Menunggu hasil pemilu terutama pilpres karena khawatir jika investasi sekarang akan ada perubahan regulasi soal investasi maupun kebijakan pusat terhadap status Batam. Sehingga jauh lebih nyaman realisasi rencana investasi setelah pilpres.
“Kebanyakan mereka masih wait and see,” ujar Rafki.
Ia mengungkapkan, beberapa perusahaan asal Tiongkok yang hendak masuk ke Batam tersebut kebanyakan perusahaan elektronik, sepatu, dan garmen. Skala perusahaan yang akan masuk tersebut dalam kategori menengah hingga besar.
“Kalau Pegatron sudah realisasi tahun ini, kami yakin akan diikuti perusahaan lain dari Tiongkok, Taiwan, dan Korsel,” tambahnya.
Menurut Rafki, selain dari Tiongkok dan negara Asia timur lainnya, potensi perusahaan asing masuk ke Batam sangat besar. Namun yang harus dilakukan pemerintah adalah terus memperbaiki pelayanan dan kebijakan yang pro investasi.
Sebelumnya, Rafki juga mengatakan masuknya Pegatron dan perusahaan lainnya harusnya menjadi awal kebangkitan industri manufaktur di Batam.
“Perang dagang antara Amerika dan Tiongkok ini sudah sejak Juli lalu. Tetapi kenapa hanya ke Malaysia dan Vietnam yang banyak masuk? Ini menjadi pekerjaan kita semua, bagaimana mendatangkan lebih banyak perusahaan ke Batam,” katanya.
Wakil Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri Tjaw Hoeing alias Ayung beberapa waktu lalu juga mengatakan saat ini sudah ada dua perusahaan asing yang dipastikan akan masuk ke Batam dalam waktu dekat. Satu perusahaan dari Jepang dan satu perusahaan dari Tiongkok. Bahkan perusahaan asal Jepang sudah tandatangan kontrak investasi di salah satu kawasan industri di Batam.
Ayung mengatakan perusahaan asal Tiongkok ini bergerak dalam bidang home appliance. Akan memproduksi berbagai alat-alat perlengkapan rumah tangga seperti blender, juicer, rice cooker, dan sebagainya.
Ia membenarkan perusahaan asal Tiongkok itu dipastikan hengkang dari Tiongkok ke Batam karena ada pengaruh perang dagang Amerika dengan Tiongkok.
Sementara perusahaan asal Jepang yang sudah menandatangani kontrak dengan salah satu kawasan industri adalah perusahaan elektronik. Belum terdaftar di OSS tetapi sudah pasti akan beroperasi.
“Kalau yang dari Jepang ini, sudah pasti akan beroperasi. Kita tunggu saja. Ini hasil dari road show kita dengan BP Batam ke Jepang beberapa waktu lalu,” ujarnya.
Kembangkan Industri Pendukung
Sementara itu, kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri Gusti Raizal Eka Putera mengatakan wajah perindustrian di Batam perlu diubah. Selama ini Batam hanya menampung pabrikan utama tanpa berupaya merayu pab-rikan pendukung untuk hijrah ke Batam. Imbasnya, impor yang sangat tinggi di tengah kondisi Indonesia yang defisit neraca perdagangannya.
“Tahap pertama yang bisa dilakukan adalah dengan meminta main company bangun supporting industry di Batam. Sehingga meningkatkan nilai tambah industri di Batam,” kata Gusti, Kamis (31/1).
Di Batam banyak perusahaan yang merakit produk jadi, tapi bahan bakunya diimpor dari luar negeri. Jika hanya produk luar dirakit di Batam, maka nilai tambahnya hanya pada soal tenaga kerja saja. Sehingga industri yang merakit komponen perlu dirayu supaya berinvestasi di Batam agar Batam tidak perlu mengimpor banyak bahan baku dari luar negeri.
“Contohnya seperti shipyard yang memerlukan banyak aksesoris. Mengapa tak dirakit di Batam saja. Jadi, ini semua harus dipetakan dalam road map yang jelas,” ungkapnya.
Lalu industri smartphone. Sebelumnya ada 24 industri perakit komponen yang coba dirayu oleh pengusaha Batam dan BP agar berinvestasi di kota ini.
Berdasarkan data yang dihimpun BI Perwakilan Kepri, total impor nonmigas dari total impor Kepri 2018 mencapai 82,77 persen. Nilai tersebut bukan indikator yang baik dalam menilai potensi pertumbuhan ekonomi Kepri.

Badan Pengusahaan (BP) Batam sendiri kini tetap fokus pada kegiatan rutin pengawalan dan pengembangan investasi. Contohnya melanjutkan proyek lelang Bandara Hang Nadim dan Floating Storage Unit (FSU) di Perairan Batuampar.
“Kemudian, pengusulan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Hang Nadim dan Nongsa, pemetaan regulasi penghambat investasi dan pembenahan tata kelola alokasi impor barang konsumsi,” kata Direktur Lalu Lintas Barang BP Batam Tri Novianto.
Investasi akan terus dikawal karena berdasarkan data dari sistem Online Single Submission (OSS), ada 525 proyek baru yang terealisasi pada semester dua 2018 dengan nilai mencapai Rp 860,48 triliun.(ian/leo)
