
foto: batampos.co.id / cecep mulyana
batampos.co.id – Nuansa Tahun Baru Imlek 2570 sudah terasa di Batam. Dekorasi oriental mulai dipasang di beberapa tempat di Bumi Melayu ini. Sejumlah lampion mulai mengiasi beberapa sudut kota. Salah satunya di Kompleks Bumi Indah Nagoya. Ratusan lampion yang didominasi warna merah sudah menghiasi kompleks bisnis tersebut.
Menurut Sekretaris Paguyu-ban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Batam Delvina, persiapan perayaan Imlek sudah dimulai jauh-jauh hari. Meski di beberapa lokasi lampunya belum dihidupkan, namun keberadaannya menarik perhatian orang yang tengah melintas di kawasan Nagoya.
“Rencananya mau dinyalakan nanti malam (tadi malam, red),” kata Delvina, Kamis (31/1/2019).
Puncak perayaan Imlek 2570 akan digelar pada Senin (4/2) malam. Untuk menambah semarak menyambut Tahun Baru Cina ini, akan digelar beragam pertunjukan, seperti tari-tarian, nyanyian hingga pesta kembang api.
“Semoga acaranya sukses dan masyarakat Batam bisa hadir dan menyaksikan beragam pertunjukan itu,” harapnya.
Tak hanya di lokasi tersebut, lampion juga terdapat di Kompleks City Walk, Taman Nagoya Indah, depan Vihara Bumi Bakti, dan beberapa lokasi lainnya. Pemasangan lampu lampion memang sudah menjadi rutinitas setiap tahun. Keberadaan lampion selalu menyita perhatian masyarakat, banyak yang menjadikannya sebagai spot swafoto.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam Ardiwinata mengatakan keberadaan lampion bisa menarik wisatawan yang berkunjung ke Batam. Apalagi, PSMTI sendiri akan menggelar beragam pertunjukan di malam perayaan Imlek.
“Wisatawan akan tertarik untuk berkunjung ke Batam. Tren sekarang juga warga Malaysia dan Singapura kerap berwisata ke Batam sembari mengunjungi sanak saudara mereka yang ada di sini,” ungkap Ardi.
Warga Mulai Tinggalkan Batam
Arus mudik libur Imlek di Pelabuhan Domestik Sekupang (PDS) mulai terjadi kemarin. Selatpanjang dan Tanjungbalai paling ramai dituju para pemudik.
“Besok (hari ini, red) sudah mulai ada yang berangkat. Kebanyakan mereka (penumpang, red) berangkat di kapal pagi,” kata Kepala Bidang Angkutan Kapal DPC INSA Batam Asmadi, Kamis (31/1/2019).
Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang, armada cadangan juga sudah disiagakan di pelabuhan. “Ada satu armada yang sudah standby untuk mengangkut kelebihan penumpang nantinya,” ujarnya.
Asmadi juga menyebutkan, sejumlah calon penumpang juga sudah memesan tiket sejak kemarin. Kendati demikian, bagi warga yang ingin mudik untuk merayakan Imlek di kampung halamannya tidak perlu khawatir karena hingga tiket masih cukup banyak tersedia.
Sedangkan untuk harga tiket tujuan Selatpanjang dijual Rp 180 ribu untuk satu kali perjalanan. “Pelayaran dibuka tiga pagi dan tiga sore. Tapi biasanya paling ramai itu pagi sekitar pukul 10.00 WIB,” jelasnya.
Sementara itu, pantauan Batam Pos di Pelabuhan Domestik Sekupang arus mudik masih berjalan normal, belum terjadi lonjakan penumpang signifikan. Kondisi yang sama juga terjadi di Pelabuhan Ferry Internasional Sekupang (PFIS). Di ruang kedatangan terlihat masih sepi. Wisatawan diperkirakan mula tiba hari ini.
“Masih sepi sekarang. Besok pagi (hari ini, red) sudah mulai ramai itu,” kata Pengelola PFIS, Julmarly.
Tangkapan Ikan Dingkis Nelayan Menurun
Setiap perayaan Imlek, ikan dingkis atau dengan nama latin Siganus Canaliculatus selalu diburu warga Tionghoa Kepri. Bagi masyarakat Tionghoa, ikan dingkis dipercaya membawa rezeki dan hoki. Namun, di tengah kondisi cuaca buruk saat ini, membuat tangkapan para nelayan menurun.
Dedi, 53, nelayan Pulau Buluh mengakui saat ini kondisi cuaca kurang bersahabat, sehingga sedikit menyulitkan menangkap salah satu jenis ikan baronang itu.
“Tangkapan susah sekarang. Memang, ikan dingkis ini untungnya sangat besar kalau sudah masuk hari raya Imlek,” sebutnya, kemarin.
Dia mengatakan, bila ikan dingkis langka harganya bisa mencapai Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu per kilogram, tergantung ukurannya.
“Itulah yang membuat para nelayan selalu berburu ikan dingkis, bahkan sejak sebulan lalu,” ucapnya.
Minimnya tangkapan para nelayan, menyebabkan sulitnya untuk mendapatkan ikan dingkis ini di pasar-pasar tradisional Batam. Seperti di Pasar Fanindo Batuaji. Menurut seorang pedagang, Oji, 29, saat ini stok ikan dingkis sangatlah menipis, hanya tersedia sekitar 6 sampai 10 kilogram. Dia mendapatkan ikan dingkis tersebut dari nelayan Tanjungriau dan sekitar Barelang.
Oji menjual ikan dingkis Rp 60 ribu per kg. Tetapi seminggu menjelang Imlek harganya melambung hingga mencapai Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu per kg. “Sekarang harga masih normal, tapi kemungkinan minggu depan sudah naik soalnya persediaan tidak banyak,” jelasnya.(*)
