Oarfish biasanya menghuni perairan dalam dan jarang terlihat di permukaan laut. (Dokumentasi Deep Sea News)

batampos.co.id – Media sosial Jepang menjadi gempar setelah nelayan menangkap sejumlah ikan laut dalam yang secara tradisional dianggap sebagai pertanda bencana alam seperti tsunami. Dilansir dari South China Morning Post pada Jumat (1/2), seekor ikan oarfish berukuran hampir empat meter ditemukan terbelit jaring ikan di lepas Pantai Imizu, di Prefektur Pantai Utara Toyama.

Ikan itu sudah mati tetapi kemudian dibawa ke Akuarium Uozu terdekat untuk dipelajari. Sembilan hari sebelumnya, dua ikan orafish juga ditemukan di Teluk Toyama. Rekor empat oarfish juga ditemukan di Teluk Toyama pada 2015.

Spesies ini mempunyai ciri tubuh pipih panjang dengan sirip merah. Oarfish biasanya menghuni perairan dalam dan jarang terlihat di permukaan laut. Legenda Jepang mengatakan, ketika oarfish naik ke perairan dangkal, berarti akan terjadi bencana.

Bahkan ikan tersebut mempunyai nama tradisional Jepang, Ryugu No Tsukai, yang diterjemahkan sebagai utusan dari Istana Raja Naga, mengisyaratkan keterkaitannya dengan bencana alam di masa lalu.

Menurut pengetahuan, ikan itu naik ke permukaan sebagai pertanda gempa yang akan datang. Ini terkait dengan teori-teori ilmiah bahwa ikan yang hidup di bawah mungkin sangat rentan terhadap pergerakan garis patahan seismik dan bertindak dengan cara yang tidak seperti biasanya sebelum gempa bumi.

Seorang Profesor Ichthyology di Universitas Kagoshima, Hiroyuki Motomura memiliki penjelasan yang lebih biasa untuk penemuan oarfish baru-baru ini di Prefektur Toyama.

“Saya memiliki sekitar 20 spesimen ikan ini dalam koleksi saya sehingga bukan spesies yang sangat langka. Namun saya percaya ikan ini cenderung naik ke permukaan ketika kondisi fisik mereka buruk. Mereka naik ke permukaan laut saat kondisi fisiknya makin buruk makanya mereka sering ditemukan mati ketika ditemukan nelayan, “katanya.

Meski demikian, reputasi oarfish sebagai indikator malapetaka tetap meningkat setelah setidaknya 10 oarfish terhanyut di sepanjang garis Pantai Utara Jepang pada 2010. Pada Maret 2011, gempa berkekuatan 9 melanda timur laut Jepang, memicu tsunami besar yang menewaskan hampir 19 ribu orang dan menghancurkan pembangkit nuklir Fukushima.

Meskipun ada kekhawatiran, para ahli mengatakan, tidak mungkin secara ilmiah menghubungkan peningkatan penampakan oarfish ke permukaan laut dengan bencana alam yang akan datang.

Profesor Shigeo Aramaki, Seismolog di Universitas Tokyo, menepis kekhawatiran pengguna media sosial tersebut. “Saya bukan spesialis ikan, tetapi tidak ada literatur akademik yang telah membuktikan hubungan ilmiah dengan perilaku hewan dan aktivitas seismik,” katanya.

“Saya sama sekali tidak melihat alasan untuk khawatir dan saya belum melihat laporan terbaru tentang peningkatan aktivitas seismik di negara ini dalam beberapa pekan terakhir,” ujarnya. (dyah/JPG)