Rabu, 1 April 2026

Tiga PMA Buka Pabrik di Batam

Berita Terkait

batampos.co.id – Tiga perusahaan penanaman modal asing (PMA) akan membangun pabrik di Kawasan Industri Batamindo, Batam. Ketiganya merupakan PMA asal Taiwan, Hongkong, dan Korea.

Salah satunya adalah Pegatron yang akan menambah pabrik baru di Batam. Setelah sebelumnya membuka pabrik di Sat Nusapersada, Pelita, perusahaan perakit komponen iPho­ne asal Taiwan ini akan meng­operasikan pabrik baru di Kawasan Industri Batamindo.

“Pegatron mau menempati salah satu gedung tiga tingkat di Batamindo. Luasnya sekitar 9.300 meter persegi,” kata Mana­ger General Affair Batamindo, Tjaw Hioeng, Senin (4/2/2019).

Saat ini, Pegatron tengah me­ngurus perizinan lewat sis­tem Online Single Submission (OSS). Tjaw memperkirakan minggu depan akan selesai dan segera beroperasi pada April 2019.

“Gedung yang akan ditempati harus direnovasi terlebih dahulu. Mungkin dua bulan dari sekarang bisa selesai dan April bisa start,” tambahnya.

Mengenai nilai investasinya, Deputi III Badan Pengusahaan (BP) Batam Dwianto Eko Winaryo sudah menjelaskan beberapa hari yang lalu bahwa nilainya sebesar 40 juta dolar Amerika.

Tjaw mengatakan, pabrik Pegatron yang di Batamindo ini bersifat sebagai pendukung dari pabrik Pegatron lainnya di Sat Nusapersada.

“Di Batamindo nanti Pegatron produksi komponen smarthome yang kemudian dikirim ke Sat Nusa untuk dirakit sampai menjadi barang siap dipasarkan,” jelasnya.

Mengenai jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan, Tjaw belum bisa menyebutkan karena dokumen perizinannya belum siap. Namun, saat peluncuran ekspor perdana produk smarthome besutan Pegatron ke Amerika pada Sabtu (2/2) lalu di pabrik Sat Nusapersada, sempat disebut bahwa akan ada 2.000 lowongan kerja baru lagi setelah Pegatron menambah investasinya di Batam.

Selain Pegatron, ada dua perusahaan lagi yang akan beroperasi di Batamindo, yakni perusahaan asal Hongkong yang membuat peralatan rumah tangga seperti coffee maker, dan lainnya.

“Perusahaan yang ini lumayan besar. Tidak kalah dari Pegatron. Saat ini masih urus dokumen pendirian sehingga belum bisa sebut namanya, jumlah investasinya atau tenaga kerja yang akan direkrut,” kata Tjaw.

Sedangkan satu lagi perusahaan berasal dari Korea yang bergerak di bidang perakitan sensor. Perusahaan ini lebih kecil tapi merupakan perusahaan pemasok komponen yang andal.

“Paling tidak, mereka akan beroperasi dalam tiga bulan ini,” jelasnya.

Vice Chairman Pegatron Corporation Taiwan, Jason Cheng belum lama ini mengatakan Batam memiliki lingkungan yang bagus sebagai basis produksi Pegatron.

“Di sini lingkungannya bagus dan menjadi langkah pertama untuk berkembang,” paparnya.

Pegatron terus meraih keuntungan di ekonomi global dengan mengirim produknya ke belahan dunia lainnya seperti Tiongkok, Meksiko, Amerika Serikat, dan negara-negara di Eropa.

“Ini merupakan langkah awal. Kami akan maju terus berekspansi. Dan kami butuh dukungan dari teman-teman di sini,” harapnya.

Sedangkan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam Rafki Rasyid, mengatakan masuknya Pegatron ke Batam menjadi momentum kebangkitan ekonomi Batam.

“Ini dapat memberi tambahan keyakinan bagi investor lain untuk masuk ke Batam. Momentum ini harusnya bisa dimanfaatkan oleh pihak terkait yang ada di Batam, terutama para regulator,” katanya.

Ia menyarankan agar pemerintah merancang formula mengenai harmonisasi perizinan terkait investasi yang selama ini tumpang tindih. “Sehingga nantinya tidak menyulitkan dunia usaha,” katanya lagi.

Selain itu, permasalahan perburuhan juga harus turut diperhatikan. “Demo yang terlalu sering kurang baik bagi investasi dan biasanya dianggap negatif oleh investor. Ketika sudah ada PP 78/2015 yang menjamin kenaikan upah buruh tiap tahun seharusnya bisa mencegah demo buruh di Batam,” ucapnya.

Untuk menambah kepercayaan investor, insentif berupa kemudahan handling barang di pelabuhan harus dijamin oleh BP Batam. Kemudian masih mahalnya ongkos transportasi kontainer dari pelabuhan Batam masih jadi permasalahan tersendiri.

“Hal ini harus secepatnya dibenahi,” ungkapnya.

Jika beberapa permasalahan ini dapat diselesaikan, Rafki yakin akan lebih banyak investor besar lainnya yang berminat berinvestasi di Batam. Momen perang dagang yang sedang terjadi dengan AS dan Tiongkok seharusnya dijadikan kesempatan dalam menggaet investor.

“Sudah saatnya Batam kembali menjadi lokomotif ekonomi Indonesia,” ucapnya. (leo)

Update